Menyedihkan Runtuhnya Jembatan Kukar

Oleh: Erda Rindrasih

Ketersediaan infrastruktur adalah hak rakyat. Rakyat telah membayar pajak melalui berbagai macam bentuk tarikan kepada pemerintah yang dipercaya untuk mengelola uang uang masyarakat. Sudah sepantasnyalah masyarakat yang bersusah menyisihkan pajak untuk negara mendapatkan haknya salaha satunya adalah ketersediaan infrastruktur tersebut dapat berupa jalan, jembatan, fasilitas umum, trotoar, taman kota, dll.

Continue reading

Nilai Strategis SeaGames dalam Pariwisata

Kegiatan olah raga telah lama dikategorikan sebagai salah satu atraksi dalam pariwisata. Berbagai event olahraga diselenggarakan secara nasional maupun international, misalnya Olimpiade, Commonwealth, Asia Games, Sea Games maupun kegiatan olah raga lainnya. Bagaimana sebenarnya event olahraga dalam kacamata pengembangan pariwisata?

Pemahaman hubungan antara olahraga dalam pariwisata dapat dipahami dari adanya pemikiran bahwa manusia bersedia melakukan perjalanan untuk sebuah kegiatan olah raga. Perjalanan merupakan ruh dari pariwisata olah raga atau “sport tourism“. Ada tiga hal mendasar yang dapat ditilik dalam memahami olah raga sebagai event pariwisata, yaitu: kepuasan penonton, branding, dan pengalaman menonton.

Continue reading

Mimikri Pariwisata

 “Sate dan teh tarik due Pak Cik!” seru Pak Be menirukan logat melayu. Namun bagiku terdengar aneh, karena lidahnya tak bisa menipu, tetap lidah Solo.

Secuil kenangan perjalanan ke Kuala Lumpur dan Serawak Malaysia akhir tahun lalu, mungkin sudah hampir setahun yang lalu. Apa yang sebenarnya bisa diambil hikmah dari perjalan yang saya lakukan di tahun lalu nampaknya tak lebih dari kunjungan penelitian biasa, tetapi ketika saya mencoba mendalami makna dari perjalanan saya ke Malaysia tersingkap berbagai ilmu yang penting.

Jika Azyumardi Azra menulis tentang konsep sosio antropologi pariwisata maka saya akan mengetengahkan contoh yang serupa (lihat postingan sebelumnya). Jika ia menggunakan contoh seorang sinegal yang menggunakan bahasa Indonesia untuk menawarkan produk pada wisatawan Indonesia yang ia jumpai di depan menara Eifel, maka saya akan mengambil contoh rekan saya yang baru saja saya tulis di paragraph pertama.

 

 

 

 

Pic.1. Pesanan Teh tarik dan Sate di Melaka

Continue reading

Sosio-antropologi Wisata Indonesia

Sumber: Resonansi, Oleh: Azyumardi Azra

 

Menara Eiffel Paris 19 Oktober 2011. Muhammad Saleh, pemuda kulit hitam asal senegal sedang menjajankan berbagai suvenir Paris di tengah suhu udara yang kian dingin di lanskap Eropa. “Empat, sepuluh Euro, Murah. murah murah.” katanya menawarkan kerudung bertuliskan ‘Paris” dalam bahasa Indonesia ketika delegasi World Culture Forum asal Indonesia turun dari kendaraan-mula mula rencananya hanya untuk sekedar berfoto.

Senang dan bangga ada para pengasong di salah satu kota pusat wisata dunia merayu calon pembeli yang mereka bisa tahu berasal dari Indonesai dengan bahasa Indonesia. Dan fenomena ini bisa ditemukan tidak hanya di Menara Eiffel, tapi juga di toko toko parfum terkenal di Paris. Memang para penjual ini tidak bisa biajak berbicara dengan bahasa Indonesia yang rumit; tetapi setidaknya mereka bisa berkomunikasi secukupnya dengan para pelancong Indonesia.

Continue reading

International Seminar of Marine Tourism, Bangka 2011

Who don’t know Belitong? I believe that many Indonesian know Belitong. Since the novel title Laskar Pelangi written by Andrea Hirata had published and boosted the high curiosity of Belitong. High number of people want to visit and they did. It is one of the opportunities for the government to manage the curiosity became something with high economic values.

Last month, the government of Babel conducted the International Seminar titled, Marine Tourism, at 21-22 September 2011. It is my pleasure to say that they asked me to be a moderator for the session.

 

 

 

 

 

 

  Continue reading

Malaikat itu si penjual helm

Pagi yang cerah di hari minggu. Matahari senyum senyum manis di ufuk timur. Membuatku ingin jalan jalan. Aku ajak suami jalan dengan naik sepeda motor. Sudah lama rasanya tidak boncengan berdua seperti waktu pacaran dulu. :)

Kami pergi ke toko reparasi laptop untuk membetulkan beberapa kerusakan kecil di laptop. Setelah itu kami makan bakso granat yang super besar. Kenyang… Saat makan bakso, kami melihat di depan kios bakso ada gerai helm, kaca mata, dan gerai kaos tangan di emperan.

Kita berfikir untuk mengganti kaca helm yang sudah burek.. tak jelas jika digunakan melihat kedepan.

Si mas penjualnya pun dengan santun melayani kami.

Aku iseng bertanya, “helmnya yang ini berapa mas?’

Continue reading

Goyah Cha Cha di trans sulawesi

Hari keempat, sudah sesuai jadwal. Aku sudah mesti selesai sosialisasi di Donggala. Subuh buta jam 5 pagi kami sudah tancap gas. Jalanan memang kurang bersahabat, di kanan tanah longsor dan di kiri jurang menganga. Untunglah si sopir gesit. Ia membuat kami di mobil bergoyang dombret dan menahan mual. Lebih parah karena tak ada toilet umum di jalan, terpaksa kita numpang numpang ke rumah warga. Serunya, saat kami minta ijin numpang ke kamar mandi, eh… dia malah ngantar kami ke rumah pak Carik, katanya toilet di sana lebih bagus. Alamak… jadi kita naik bukit sedikit untuk sekedar numpang ke toilet.
Seisi mobil para tim teknis dan fasilitator mencoba menghibur diri. Tak ada musik, karena lupa tidak bawa kaset, sedangkan radio.. ah.. hanya bunyi lebah yang terdengar. Alhasil, musik di hp jadi alternatif, meski terasa aneh dan lebih menyiksa telinga dari pada memberi hiburan.
Perjalanan tetap lanjut menyusuri trans Sulawesi yang keras itu. Rasa lelah sirna ketika di lihat jutaan pohon kelapa di kiri dan kanan jalan sepanjang lebih dari tiga kilo meter, rapi tertata, indah sekali. Juga terhampar pasir putih selembut tepung belum terjamah.
Kami sempat mampir di sebuah warung kecil untuk mengisi perut. Sayang tak ada apa apa. Hanya mie instand, nasi dan telor, pilihan yang bijak untuk mengisi perut dari pada tidak ada sama sekali… Saat makan, kami di buat ternganga tak habis pikir ketika bertemu seorang bule dari Amrik.
Ia telah bersepeda dari Manado dengan tujuan Makasar, dan kini ia sudah sampai di Donggala. Lebih dari seminggu ia bersepeda, jika hari gelap ia menginap di rumah warga. Sepedanya sepeda biasa, hanya satu tas kecil di belakang yang di jepit…. ia sempat bilang, “the bike is so slow… I think she is a woman…” sontak kami tertawa.. bukankah sepeda tergantung orangnya.
Ahaiii… gila nian itu bule, usianya bukan muda lagi mungkin 60 tahun.
Kami satu tim hanya bisa bergeleng geleng mendengarkan ceritanya. Setelah mendengarkan kegilaan si bule itu, rasanya tempat dudukku begitu empuk, dan goyangan di jalan lebih seperti tarian cha cha dari pada goyangan di sungai kering.

Langit biru dan anak jaman

Langit berwarna biru cerah dan matahari terik menyengat saat Annisa berjalan pulang dari sekolah. Annisa, anak umur 9 tahun yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Annisa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Hari harinya dilewati dengan penuh keceriaan. Annisa termasuk anak yang sulit makan, baginya makanan seperti musuh. Entah kenapa dia tiba tiba merasa lapar sekali siang itu. Dengan sepatu hitam yang berdebu dia memasuki rumah neneknya, karena Ibu dan Ayahnya bekerja di siang hari.

Sehari hari Annisa dan adiknya dititipkan di rumah nenek, yang sering dia panggil dengan nama “Uti” alias Eyang Putri. “Assalamua’alaikum..” sapanya ceria.. Dari dalam rumah, si Uti menjawab “Waalaikumsalam….mbak” sambil menggandeng dek Fahru yang berumur dua tahun itu. Dek Fahru dengan kerinduannya sepagian tidak bertemu, langsung menarik tangan Annisa dan mengajaknya bermain. Dia belum mengerti betapa si kakak sungguh lapar dan ingin segera makan. Namun, karena Annisa adalah kakak yang sangat sayang dengan adiknya, dia katakan “Iya dek.. bentar mbak Nisa taruh tas dulu ya”, sapanya sangat lembut. Fahru sambil menggoyangkan kedua kakinya dia memperhatikan gerak gerik Annisa yang sibuk menata diri.

Continue reading

Menilik Pariwisata Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas diumumkan/dinyatakan oleh Menteri Pertanian, pada tahun 1982. Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK. No. 14/Menhut-II/1989 dengan luas 130.000 ha, kemudian ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 670/Kpts-II/1999 dengan luas 125.621,3 hektar. Taman Nasional Way Kambas secara administratif pemerintahan terletak di Kecamatan Way Jepara, Labuan Meringgai, Sukadana, Purbolinggo, Rumbia dan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Letak geografis 4°37’ – 5°15’ LS, 106°32’ – 106°52’ BT. Dengan ketinggian tempat 0 – 60 m dpl. Temperatur Udara 28° – 37° C dan curah hujan 2500 – 3.000 mm/tahun.

Potensi Flora dan Fauna

Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Kawasan ini terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar dan hutan payau/pantai dengan jenis floranya yaitu: Api-api (Avicenia marina), Pidada (Sonneratia sp.), Nipah (Nypa fructicans), gelam (Melaleuca leucadendron), Salam (Eugenia polyantha), Rawang (Glocchidion boornensis), Ketapang (Terminalia cattapa), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Pandan (Pandanus sp.), Puspa (Schima walichii), Meranti (Shorea sp.), Minyak (Diptorecapus gracilis), Merbau (Instsia sp.), Pulai (Alstonia angustiloba), Bayur (Pterospermum javanicum), Keruing (Dipterocarpus sp.), Laban (Vitex pubescens) dan lain-lain.

Continue reading

Moscow di Awal Musim Semi

Erda Rin Saputra

Mestinya sudah menginjak senja saat aku tiba di bandara Denodedovo Moscow, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 sore. Namun aku lupa bahwa senja di Moscow bisa sampai jam 09.00 malam baru gelap. Badanku yang tertekuk 18 jam rasanya ingin sekali segera bertemu dengan permukaan datar untuk sekedar merebahkan badan. Ya, 18 jam perjalanan dari Jakarta Moscow. Aku singgah di Dubai untuk transit dan kembali melanjutkan perjalanan 9 jam selanjutnya ke Moscow. Sangat melelahkan, apalagi ditambah bonus 10 menit karena ketika akan mendarat di bandara ternyata masih menunggu antri, jadi pilot mengajak kami keliling ke country side untuk menunggu antrian landing. Begitu kami bisa landing dengan sempurna, sebagian penumpang bertepuk tangan memberikan support kepada pilot. Ini baru pertama kalinya dalam perjalananku keliling dunia ada penumpang yang kompak banget bertepuk tangan. Akhirnya aku juga ikut ikutan lah bertepuk tangan.

Saat tiba di Moscow udara cukup bersahabat ukuran orang Moscow (8 C), tapi untukku jangan tanya, langsung terasa merembes hingga ke bawah kulit dinginnya. Apalagi aku dan temanku harus menunggu beberapa teman lain dalam satu rombongan yang juga peserta conference.

Kupandangi langit kota itu, biru namun sendu. Matahari tak tampak juga meskipun aku sudah berputar putar menghadap langit. Meski tak tampak, sinarnya masih membuat suasana terang.

Continue reading