Menilik Pulau Oahu Hawai’i

Pernahkah Anda mendengar atau mungkin membaca Pulau Oahu? Kata Hawaii mungkin familiar bagi Anda namun Pulau Oahu saya kira tidak terlalu. Hal ini juga terjadi pada saya. Kota Honolulu yang merupakan ibukota State of Hawaii ternyata terletak di Pulau Oahu bukan di Big Island yang notabene merupakan pulau terbesar. Pulau ini bukanlah pulau yang terbesar di bentangan pulau pulau Hawaii, meski begitu pulau inilah yang paling padat penduduknya. Pulau pulau lain yang cukup terkenal diantaranya adalah Maui Island, Kauai Island, dan Big Island.

Di Pulau yang terbentang seluas kurang dari dua kali Jabodetabek ini memang sangat menarik untuk dikunjungi. Khususnya bagi mereka yang menyukai renang dan surfing. Didukung oleh keberadaan beberapa obyek wisata seperti Pantai Waikiki yang cukup terkenal. Untuk mengakses Pantai Waikiki, wisatawan tidak perlu membayar tiket masuk apalagi retribusi seperti di Indonesia. Mereka cukup naik bis jalur 8 dan sampilah di Pantai Waikiki. Selain Pantai Waikiki terdapat pula Diamond Head, yang menurut pengamatan saya itu adalah bekas kawah gunung purba yang dulunya berada di posisi yang sama dengan samudera pasifik. Tentunya dengan adanya proses proses alamiah bumi, pada periode jutaan tahun yang lalu seperti misalnya; pemanasan global dan ledakan yang besar yang memuntahkan isi dari gunung purba ini sehingga gunung ini tidak aktif lagi. Ada kenampakan seperti sesar atau semacam lembaran lembaran seperti kue lapis di puncak Diamond Head ini. Memang saya belum berkesempatan untuk bisa mendaki puncak dari  diamondhead tersebut, namun bentukan lingkaran itu sangat nampak terlihat birunya menghiasi pemandangan Pulau Oahu.

Suhu Pulau Oahu cukup hangat pada summer sekitar 24 – 27 derajat Celcius. Bagi orang Indonesia suhu ini termasuk sejuk, karena kita biasanya berada pada 28 – 32 derajat Celcius. Namun, tentunya bagi orang mainland atau eropa tentunya menganggap suhu ini panas. Maka tak jarang akan kita jumpai penduduk Hawaii yang mengenakan pakaian seadanya seperti tanktop, baju yucanse, celana pendek atau hanya selembar kain dan sandal jepit.

Hal yang menarik di Pulau Oahu adalah penataan ruang yang cukup baik. Apabila diamati, bangunan bangunan tinggi seperti gedung gedung perkantoran dan beberapa apartement dengan jumlah lantai lebih dari sepuluh biasanya terletak di pusat kota di tepi pantai. Disanalah daerah inti kota itu menjalankan fungsinya. Pada daerah inti kota ini terdapat beberapa fasilitas hiburan dan perkantoran.

Sebaran masyarakat yang tinggal di Pulau Oahu pun tidak kalah uniknya, beberapa masyarakat kelas menengah kebawah justru tinggal pada daerah daerah sekitar inti kota yaitu ditepi pantai. Beberapa dari mereka menyewa rumah susun yang banyak terlihat disepanjang jalan. Memang, tidak di Indonesia maupun di Amerika, yang namanya rumah susun terlihat begitu tidak rapinya, nampak handuk, dan pakaian pakaian yang dijemur semrawut menutupi jendela jendela dan pagar teras. Untuk masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke atas mereka lebih memilih untuk tinggal di bukit-bukit. Mereka biasanya memiliki rumah dengan ukuran midle bertingkat dua, dengan dua atau tiga garasi mobil dan memiliki sebidang tanah untuk menanam tanaman bunga yang indah indah.  Bahkan, sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak celebritis Hollywood yang memiliki semacam villa di Hawaii ini. Pada musim summer mereka banyak yang berkunjung  ke Hawaii untuk mendapatkan sinar matahari. Hal ini jarang kita jumpai di Indonesia. Di negara kita orang orang kaya lebih senang hidup di kota dari pada hidup di bukit bukit.

Menilik Pulau Oahu, menjadikan saya sangat miris. Bagaimana tidak? Pantai Waikiki yang banyak di bilang orang adalah Pantai yang paling indah, sebenarnya juga tidak terlalu indah. Sebenarnya kita memiliki puluhan pantai dengan karakteristik mirip Waikiki. Di Maluku Tenggara misalnya, terdapat Pantai Natsepa, Pantai Pasir Panjang, kemudian di Jawa Timur kita bisa melihat Pantai Klayar, Pantai Srau, Pantai Plengkung dsb. Belum lagi jika kita tilik pantai pantai di Pulau Lombok, dsb. Masih banyak pantai yang belum terjamah. Sama sama memiliki karakter pasir putih, pohon nyiur, serta ombak yang bagus untuk surfing dan berenang.

Banyak faktor yang meski diurai satu persatu untuk tahu mengapa kita kalah dengan Pantai Waikiki di Pulau Oahu ini. Dari mulai faktor sejarah, akses, ketersediaan sarana infrastruktur penunjang wisata, sumber daya manusia hingga promosi obyek dan daya tarik wisata memang harus kita lucuti dan bredeli sedemikian rupa.

Berbicara tentang sejarah, kita dapat menelusuri jejak kepemimpinan Raja Kamehameha hingga Ratu Iolani di Iolani Palace yang terletak di Kings street pusat kota Honolulu. Secara sejarah, memang kerajaan Hawaii memiliki kaitan yang sangat erat dengan U.S. Peperangan, persebaran missionaris dan kudeta perebutan kekuasaan menghiasi lembaran sejarah Hawaii. Tak heran, keterkaitan historis inilah yang menjadi semacam stimulus atau perangsang bagi banyak wisatawan untuk datang ke Hawaii dan membelanjakan uangnya di pulau ini. Demikian pula dengan keberadaan Pearl Harbour yang terkait dengan Jepang. Jepang dan U.S Mainland nampaknya menjadi salah satu penyuplai terbesar jumlah wisatawan di Hawaii ini.

Kegiatan wisatawan sebenarnya dapat menjadi multiplier effect bagi kegiatan ekonomi lainnya (Fandelli, 2002). Banyak kegiatan ekonomi lainnya yang menjadi ikut bergerak ketika geliat pariwisata itu tumbuh. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa pariwisata dapat menyuplai pendapatan bagi masyarakat langsung tanpa perlu masuk dalam sistem perhitungan pendapatan pemerintah. Ini sekaligus mengkiritik pemerintah yang selalu menganggap bahwa pemasukan di sektor pariwisata hanya dihitung dari jumlah tiket yang terjual setiap tahunnya. Jika kita mau menilik lebih dalam, sesungguhnya rupiah yang masuk dari akibat geliat pariwisata sangat besar. Seorang peneliti dari Universitas Gadjah Mada mampu menghitung bahwa setiap Rp 10.000,- yang dibelanjakan oleh wisatawan maka yang masuk meresap bagi petani adalah Rp 1.000,-. Ini artinya sepuluh persen adalah milik petani karena dia menjual hasil panennya dan dibeli oleh wisatawan dalam bentuk makanan, dan tentunya jumlah yang Rp 9.000, – akan masuk pada jasa transportasi, jasa perdagangan, dsb. Jika hal itu terus berjalan, ini mampu membuka peluang bisnis yang tentunya menyerap tenaga kerja. Kita tahu bahwa tenaga kerja kita berhampuran seperti pasir di laut, dan negara tetangga kita yang justru mengambil untung dari murahnya tenaga kerja itu. Alhasil kita menuai banyak masalah.

So, mari bergerak cepat, jangan ketinggalan dengan Pulau Aoahu. Dengan perencanaan yang matang dan studi yang mendalam, tentunya kita bisa mengejar ketinggalan dengan Pulau Oahu Hawaii, karena kita punya banyak oahuoahu yang lain yang terbentang di Indonesia menanti penanganan yang baik.

(Tulisan ini menjadi TOP WEEKLY Kabar Indonesia, info: www.kabarindonesia.com)

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&dn=20070715093006

3 gagasan untuk “Menilik Pulau Oahu Hawai’i

  1. bagus banget tulisan perjalanannya. kalo bisa, tulis juga ya, hasil2 kunjungan ke negara2 yg lain. tar ku bakal langganan ke blog kamu deh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s