Papua adalah salah satu pulau yang ingin saya kunjungi sejak kecil. Ketika di Sekolah Dasar aku paling senang menghafal nama Papua sebagai Irian Jaya karena memang begitulah cara guru Ilmu Pengetahuan Sosial mengajarkan. Papua yang sekarang secara geografis juga merupakan Papua yang dulu. Ada perubahan dalam tananan administrasi baik Provinsi maupun jumlah kabupaten di Papua. Namun demikian Papua bagi saya tetap Papua, sebuah gambaran kehidupan yang lain yang membuat saya sering termenung, membayangkan bagaimana masyarakat Papua hidup dan melakukan aktivitas sehari hari.Gambaran seperti hidup tidak pakai baju, berkelompok, memasak dengan batu, dsb masih mewarnai bayangan saya tentang Papua.

Simak tulisan lepas berikut yang terangkum dalam essay sekedarnya. Tulisan bebas tanpa kerangka apalagi framework yang akan bercerita tentang pulau yang sangat kaya, exotic dan memukau ini. Tulisan lepas yang dibuat sekedar untuk menggoreskan pengalaman menginjakan kaki di Papua selama 10 hari dan pulang membawa Malaria yang bersembunyi di hati ku. Tepatnya di Provinsi Papua Barat, di Kota Manokwari, saya berkesempatan untuk bergaul dengan masyarakat di Papua. Kota Manokwari tepat berada di kelapa burung Pulau Papua. Kota yang berada di tepi pantai dan merupakan kota pesisir. Terdapat beberapa pulau di sekitarnya yang mempercantik kota ini. Laut lepas yang biru menghasilkan kekayaan ikan laut segar yang enaknya tak terkira.

Menumpang sebuah proyek penataan ruang kawasan, zonasi tata ruang dan managemen pengelolaan sampah Kota Manokwari saya merasa beruntung menjadi bagian dari tim Focus Group Discussion. Sebenarnya ada dua tim yang bertugas dalam proyek ini, satu tim bertugas dalam pengukuran fisik, kartografis dan GIS sedangkan tim yang satu bertugas untuk menjaring aspirasi di masyarakat melalui FGD, dan saya berada pada tim kedua mengemban tuga menjadi fasilitator.

FGD merupakan salah satu metode penjaringan aspirasi yang dilaksanakan melalui diskusi terbatas baik terbatas pada jumlah peserta yang berpartisipasi maupun terbatas pada topik yang dibicarakan. Selain sebagai metode penjaringan aspirasi, FGD telah menjadi metode unggul untuk memperoleh keputusan tentang sebuah perencanaan. Dalam bidang ilmu perencanaan kota, esensi FGD menjadi bagian utama untuk memberikan gambaran keinginan masyarakat. Sebagaimana banyak di ketahui bahwa paradigma perencanaan saat ini telah dicoba untuk digeser dari metode top-down ke bottom up, FGD menjadi alat untuk itu.

Kendati demikian metode ini tidak sepenuhnya sakti. Banyak faktor, baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi validitas dari metode FGD. Sebagai contoh: peserta yang ikut apakah sudah merepresentasikan jumlah masyarakt yg terwakili, apakah fasilitator mampu membawa forum dalam pembicaraan yg diinginkan, apakah alat dan bahan mendukung, lalu juga termasuk faktor bagaimana hasil FGD dianalisis dan disintesis menjadi sebuah informasi bagi pengambilan keputusan.

Baiklah, terlepas dari FGD yang sudah kita bicarakan dalam beberapa paragraf diatas saya menemukan hal hal yang menarik untuk di tulis. Meskipun bukan dalam sebuah tulisan yang akademis dengan bahasa yang tinggi, saya lebih suka menulisnya bebas dalam blog ini.

Senyum Papua

Entah kenapa, senyum masyarakat Papua khususnya yang masih asli begitu indah di mata saya. Saya tidak bilang secara perorangan namun secara general ya, terutama orang orang yang saya temui di jalan, di pasar, di FGD, di mall, di hotel, di banyak sudut kota di Papua. Saya percaya bahwa senyum dan tatapan mata adalah sebuah jendela hati. Sebagai pelancong, saya melihat masyarakat Papua cukup ramah dan sangat welcome terhadap pendatang. Tidak menafikan persoalan sosial dan ekonomi di Papua yang membuat adanya segregasi ringan antara pendatang dan masyarakat asli saya melihat masyarakat Papua mampu menjadi masyarakat yang terbuka menerima pemikiran baru.

Hal yang membuat saya berkesimpulan demikian didukung oleh setiap mop-mop yang mereka buat. Bagi yang belum tahu mop adalah cerita lucu dan pendek yang diceritakan di forum orang Papua. Mop Papua sangat terkenal karena lucunya. Saya mengobservasi dari sekian mop yang saya dengar, mereka lebih banyak membuat mop yang mengangkat kelucuan diri mereka sendiri. Tentang perbedaan budaya baru, ketololan dan kebodohan mereka, tentang mop orang sorong, tentang mop anak anak ada juga bahkan mop yang porno. Saya kira itu menjadi ciri khas masyarakat Papua yang cukup menarik untuk dijadikan tradisi tertawa turun menurun.

Observasi saya yang lain, mop menjadi cara paling jitu untuk “ice breaking”. Dalam process fasilitasi yang saya jalankan, kejenuhan dan kelesuan masyarakat kadang muncul. Mop menjadi alat saya untuk membuat mereka tertawa, segar kembali, tidak mengantuk dan siap untuk diskusi persoalan selanjutnya.

Tingkat Pemahaman dan antusiasme

Saya ingin menggarisbawahi bahwa saya berbicara bukan tingkat pendidikan, namun tingkat pemahaman. Selama memfasilitasi diskusi dengan masyarakat Papua di empat districts di Kota Manokwari, saya bisa katakan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap informasi baru sangat baik. Terkait dengan open minded mereka dalam menerima orang asing datang, mereka juga cukup bisa memahami informasi dan instruksi yang saya berikan.

Ketika bicara tingkat pendidikan maka kita bicara tentang berapa tahun sekolah yang terselesaikan, dan saya tidak menganjurkan itu sebagai dasar untuk melihat tingkat pemahaman. Meski diantara mereka banyak yang hanya mampu menyelesaikan sekolah dasar, namun mereka dapat memahami instruksi yang saya berikan. Menerjemahkannya dalam bentuk tulisan dan gambar. Pengetahuan mereka terhadap lingkungan sekitar juga cukup tinggi. Meskipun ada indikasi mereka sulit untuk membuat gambaran dua dimensi di dalam sebuah kertas. Saya  yakin, jika ada keseriusan untuk terjun langsung memajukan masyarakat Papua baik NGO, maupun pemerintah akan ada sambutan yang baik dari masyarakat.

Hak Ulayat

Inilah yang unik dari Papua dibandingkan daerah lain di Indonesia. Memang mungkin ada beberapa daerah di kawasan timur Indonesia yang masih mengenal sistem ulayat selain Papua. Tidak ada definisi sebelumnya tentang Hak Ulayat, tp saya coba definisikan sesuai dengan apa yang saya dapat di lapangan. Hak Ulayat, adalah hak atas kepemilikan lahan oleh sekelompok atau group. Di Papua sekelompok orang ini yang dimaksud biasanya adalah suku atau keluarga. Jadi sebuah lahan dimiliki secara komunal bersama sama oleh lebih dari satu orang.

Bagi masyarakat yang telah lebih modern, sistem hak ulayat memberikan tantangan dalam pengaturan maupun pemanfaatanya. Hal ini disebabkan karena kepemilikan tanah tidak jelas, dan sekelompok orang tersebut juga identitas dan personelnya juga tidak pasti. Anggota keluarga besar dapat pergi lama dan tiba tiba kembali menuntut haknya. Persoalan bisa juga terjadi si Ayah telah memberikan lahan kepada pemerintah dan si Anak ternyata minta ganti rugi. Yang lebih menjadi PR bagi pemda setempat adalah persoalan batas yang masih belum jelas. Saya pernah bertanya pada salah satu masyarakat Papua untuk mendelineasi kepemilikan lahan keluarga Mandacan, mereka mengatakan batasnya adalah tebing, sungai dan pohon. Bukan salah batas tersebut, karena memang begitulah masyarakat dulu membatasi daerah kekuasaanya. Namun, batas tersebut sangat riskan dan tidak pasti. Bagaimana jika pohon tersebut tumbang, sungainya banjir atau tebingnya longsor? Nah, maka pencatatan menggunakan GPS (Global Positioning System) haruslah dijadikan penekanan utama pemda.

Meskipun nampaknya mudah dalam pendataan hak ulayat, namun ternyata sudah lebih dr 60 tahun pemda tidak mampu juga untuk menyelesaikan persoalan hak ulayat. Terbukti selama saya di Manokwari, saya menyaksikan dua sekolah dasar yang ditutup oleh pemilik lahan karena mereka menuntut ganti rugi dari pemda. Alhasil, anak anak SD harus pulang kerumah dan tidak ada proses belajar mengajar. Nah, persoalan seperti ini akhirnya memicu ketidakstabilan dalam masyarakat.
Hak Ulayat sebagai warisan sistem landownership tradisional haruslah di perbarui dengan sistem yang lebih bisa mengakomodasi dua kepentingan. Disini saya tidak bilang bahwa hak ulayat itu buruk, namun perlu duduk bersama antara semua stakeholder untuk bicara tentang persoalan ini. Karena dari pengamatan saya, persoalan ini inti dari semua kebijakan atas penggunaan lahan, zonasi maupun tata ruang. Yang pada akhirnya menjadi warna bagi kota Manokwari. Tidak akan bisa berkembang kota ini jika persoalan ini belum terpecahkan dengan benar.

Sisi positif dari warisan sistem kepemilikan lahan ini adalah adanya keinginan dan kelegaan untuk berbagi. Sebuah masyarakat yang komunal akan lebih sensitif pada persoalan sharing resources. Mereka memiliki tendency untuk tidak menguasai sumber daya untuk diri mereka sendiri. Mereka akan membaginya kepada orang orang terdekat seperti keluarga, sesama suku, ataupun orang lain yang menurut mereka layak untuk di share. Sehingga tingkat egoisme di dalam masyarakat setidaknya bisa ditekan.

Saya yakin bahwa hal ini juga mempengaruhi bagaimana mereka berfikir tentang pengalokasian waktu, uang, asset dan juga pemikiran. Akan ada faktor orang lain yang menjadi penting untuk mereka sebelum mengambil keputusan dalam penggunaan sumber daya. Kalau Anda pernah dengar tentang Social Capital, yang bisa diartikan sebagai modal sosial, maka saya berpendapat bahwa modal sosial di masyarakat Papua cukup tinggi. Hanya saja, perlu ada simulasi dan penelitian lebih mendalam tentang hal ini.

Buang Sampah itu ya di Laut

Sebuah budaya yang sangat mengiris hati saya di Manokwari adalah sebuah pengakuan bahwa bagi mereka laut adalah tempat sampah. Dimana mereka bisa membuang apa saja ke laut. Kalau dulu ketika sampah yang dihasilkan oleh masyarakat masih berupa sampah organik, laut masih mampu untuk mendigestnya sehingga tidak tertimbun dan berbahaya bagi lingkungan. Namun, pada konteks saat ini sampah yang mereka hasilkan adalah lebih beragam yaitu kertas, plastik, kaleng, sisa pembakaran, rumah tangga, bahan bangunan, metal, dll Dimana tidak hanya kuantitasnya yang jauh lebih banyak karena jumlah penduduk juga tinggi, namun juga bahwa sampah tersebut tidak dapat diurai oleh laut dan oleh bakteri pengurai di tanah. Makanya, saat pasang datang, menyisakan tumpukan sampah yang sangat banyak di laut.

Saya ikut merasakan resahnya pemerintah daerah terhadap kondisi tersebut. Dari ngobrol2 dengan mereka, ternyata banyak program yang telah di jalankan oleh pemerintah untuk menangani hal ini, tetapi nyatanya belum juga berhasil. Pengadaan tong sampah, tempat pembuangan akhir dan juga pengadaan mobil dan prasarana sampah telah dimulai. Tetapi banyak yang masih perlu untuk dibenahi di berbagai sisi. Tulisan ini tidak bisa menyentuh faktor2 yang menjadi persoalan dalam pengelolaan sampah di Manokwari, tetapi dari sekilas observasi menunjukkan bahwa baik petugas sampah maupun masyarakat belum benar benar serius memikirkan ini. Mmmm….Sekali lagi aksi bersama itu yang penting….., jadi ingat dulu tahun 2003 saya menggerakkan semua anak2 SMA di jogja untuk bersih Malioboro pada Hari Bumi April. Ya memang simple, tapi saya berusaha memberikan pesan besar bagi mereka bahwa membersihkan itu tidak membuat kotor tangan kita, justru membuat bersih hati kita dan jiwa kita.

Ngobrol ngobrol dengan masyarakat Papua, sebagian besar mereka sadar bahwa membuang sampah di laut itu membuat kotor. Tetapi mereka mengaku bahwa tidak ada pilihan yang lain. Mereka tidak punya alat transportasi untuk membawa sampah ke tempat pembuangan sampah yang berjarak sekitar 1 km dr tempat mereka. Belum ada sistem yang diperkenalkan untuk mengelola ini, karena memang sejauh ini belum ada persoalan sampah selain hanya tidak sedapnya pandangan di mata. Padahal, kalau mereka tahu bahwa nyamuk malaria yang menjadi endemik di Papua sangat senang hidup di sampah yang basah dan tergenang air, saya yakin mereka pasti dengan senang hati untuk mulai merubah cara hidup dalam membuang sampah.

Ikan Bakar

Nikmatnya ikan bakar, udang bakar di bakar di tepi pantai … pasir putih…. dengan arang lokal dan bumbu khas Papua……., tak tahan rasanya… . Mau tau nikmatnya, simak tulisan saya lagi selanjutnya… he..he.., salam damai untuk Indonesia

to be continued ……