<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Erda ngobrol ...</title>
	<atom:link href="http://erdha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://erdha.wordpress.com</link>
	<description>&#34;The whole of science is nothing more than a refinement of everyday thinking.&#34;</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 08:59:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='erdha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Erda ngobrol ...</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://erdha.wordpress.com/osd.xml" title="Erda ngobrol ..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://erdha.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menyedihkan Runtuhnya Jembatan Kukar</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/11/29/menyedihkan-runtuhnya-jembatan-kukar/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/11/29/menyedihkan-runtuhnya-jembatan-kukar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Erda Rindrasih Ketersediaan infrastruktur adalah hak rakyat. Rakyat telah membayar pajak melalui berbagai macam bentuk tarikan kepada pemerintah yang dipercaya untuk mengelola uang uang masyarakat. Sudah sepantasnyalah masyarakat yang bersusah menyisihkan pajak untuk negara mendapatkan haknya salaha satunya adalah &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/11/29/menyedihkan-runtuhnya-jembatan-kukar/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=476&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Erda Rindrasih</p>
<p>Ketersediaan infrastruktur adalah hak rakyat. Rakyat telah membayar pajak melalui berbagai macam bentuk tarikan kepada pemerintah yang dipercaya untuk mengelola uang uang masyarakat. Sudah sepantasnyalah masyarakat yang bersusah menyisihkan pajak untuk negara mendapatkan haknya salaha satunya adalah ketersediaan infrastruktur tersebut dapat berupa jalan, jembatan, fasilitas umum, trotoar, taman kota, dll.</p>
<p><span id="more-476"></span></p>
<p>Namun baru baru ini kita dikejutkan dengan runtuhnya jembatan di Kutai Kartanegara yang menghubungkan Tenggarong dengan Tenggarong seberang. Jembatan itu ambruk sekitar pukul 15.30 Wita atau sekitar pukul 16.00 WIB. Belum diketahui penyebab ambrolnya jembatan yang berusia 11 tahun itu. Gubernur Kaltim (Kalimantan Timur) melaporkan ke Presiden, tiga orang meninggal dan 17 luka-luka. Menyedihkan, itulah kata yang pertama terngiang ngiang di kepala saya.</p>
<p><strong>Korban Meninggal</strong></p>
<p>Menyedihkan karena ada korban meninggal dan luka. Dilaporkan sampai 28 nov 2011 masih ada 39 orang yang belum ditemukan. Saya yakin keluarga korban sangatlah sedih. Jembatan sekokoh itu ternyata tidak mampu memberikan keamanan pada orang orang yang melintas. Nyawa menjadi sangat murah. Kalo orang Jawa bilang ..klethas klethes&#8230; begitu mudahnya rakyat mati karena transportasi negara ini yang buruk. Kereta api, kecelakaan jalan, bus kota, pesawat, dan kini jembatan. Menyedihkan.</p>
<p><strong>Umur Pendek</strong></p>
<p>Tidak hanya pendeknya umur para korban tetapi pendeknya umur jembatan itupun menjadi fakta yang menyesakkan. Bagaimana mungkin jembatan yang ditargetkan akan dapat beroperasi selama 100 tahun, hanya dengan 11 tahun saja sudah ambruk. Ini berarti dengan hanya 10% dari waktu yang ditetapkan. Menyedihkan.</p>
<p><strong>Dugaan Korupsi</strong></p>
<p>Dugaan korupsi saya kira tidak berlebihan untuk kasus Jembatan Kukar ini. Kenapa? lihat saja, hanya dalam 11 tahun jembatan ini sudah KO. Orang awampun yang pernah membangun rumah tahu bahwa campuran semen dikurangi satu kilo saja akan mempengaruhi hasil dari balok semen tersebut. Dan itu sudah menjadi rahasia umum yang basi dan menjijikkan. Ini sama dengan korupsi, ini sama dengan riba (mengurangi timbangan), ini sama dengan kejahatan. Jembatan ini menghabiskan dana Rp 95 milliar (okezone.com), dan runtuh begitu saja. Yang pasti ada beberapa stakeholder yang bisa dipetakan, konsultan pengembangan, kontraktor, dan pemberi jasa. Siapa mereka, biarkan media yang mengungkapkannya. Menyedihkan..</p>
<p><strong>Sarjana teknik sipil karbitan</strong></p>
<p>Jangan jangan memang kualitas sarjana sipil kita yang jongkok. Saya sendiri tidak tahu apakah jembatan ini dibangun oleh sarjana sipil dalam negeri atau luar negeri. Yang jelas tim  ini telah gagal. Seorang teman menulis di statusnya bahwa seorang sarjana Jepang saat membangun jembatan Sungai Kampar Riau bunuh diri dengan terjun ke sungai hanya karena hitungan matematikanya salah, padahal jembatan itu tidak rubuh meski hitungannya salah beberapa centimeter saja. Sungguh hal ini menjukkan dedikasi yang tinggi dan rasa tanggungjawab dari seorang insinyur sipil. Apa yang terjadi di Indonesia, sudah tidak becus menghitung matematika, sudah membunuh banyak orang, masih juga dapat proyek jembatan lagi di tempat lain. Menyedihkan.</p>
<p><strong>Jembatan Simbol Penghubung</strong></p>
<p>Bagi saya jembatan ini tidak hanya dilihat dari sisi fisiknya saja namun ada value dan simbol yang putus. Yaitu penghubung. Penghubung antara dua kota. Penghubung kegiatan ekonomi dan sosial. Kalau hanya dua kota terpisah, masih ada speed boat, kapal untuk menyeberang. Namun bagaimana jika kepercayaan terhadap negara itu putus? Sulit untuk menyambungnya kembali.  Oh menyedihkan.</p>
<p><strong>Belajar dari Runtuhnya Jembatan Kukar</strong></p>
<p>Kendati demikian, kita tidak boleh ikut runtuh kawan. Mari belajar dari kesalahan. Para insinyur cobalah lebih bekerja keras dan jangan jadikan uang segalanya. Berkaryalah untuk umat. Sungguh karyamu itu lebih memuliakanmu dari pada hartamu. Pemerintah daerah sudahlah tak usah dipotong potong internal fee, biaya administrasi atau tetekbengek namanya. Berikan dana itu utuh untuk kontraktor supaya mereka bisa optimal melaksanakan tugasnya. Dinas perhubungan, cobalah lebih jeli dalam melakukan monitoring konstruksi jembatan. Catat dengan cermat kerusakan dan kemungkinan bahaya yang ada. Laporkan dan jangan segan segan memperbaikinya. Kontraktor, cobalah jujur dengan material. Galilah ilmu dan belajarlah dari jembatan jembatan lain di dunia. Untuk masyarakat, tetaplah jadi pembayar pajak yang setia, jangan lupa awasi pemerintah dan kontraktor.</p>
<p>Karena saya percaya runtuhnya jembatan ini memberikan banyak hikmah bagi kita semua yang mau berfikir.</p>
<p>Salam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=476&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/11/29/menyedihkan-runtuhnya-jembatan-kukar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Strategis SeaGames dalam Pariwisata</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/11/24/nilai-strategis-seagames-dalam-pariwisata/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/11/24/nilai-strategis-seagames-dalam-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 07:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Kegiatan olah raga telah lama dikategorikan sebagai salah satu atraksi dalam pariwisata. Berbagai event olahraga diselenggarakan secara nasional maupun international, misalnya Olimpiade, Commonwealth, Asia Games, Sea Games maupun kegiatan olah raga lainnya. Bagaimana sebenarnya event olahraga dalam kacamata pengembangan pariwisata? &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/11/24/nilai-strategis-seagames-dalam-pariwisata/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=473&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan olah raga telah lama dikategorikan sebagai salah satu atraksi dalam pariwisata. Berbagai event olahraga diselenggarakan secara nasional maupun international, misalnya Olimpiade, Commonwealth, Asia Games, Sea Games maupun kegiatan olah raga lainnya. Bagaimana sebenarnya event olahraga dalam kacamata pengembangan pariwisata?</p>
<p>Pemahaman hubungan antara olahraga dalam pariwisata dapat dipahami dari adanya pemikiran bahwa manusia bersedia melakukan perjalanan untuk sebuah kegiatan olah raga. Perjalanan merupakan ruh dari pariwisata olah raga atau &#8220;<em>sport tourism</em>&#8220;. Ada tiga hal mendasar yang dapat ditilik dalam memahami olah raga sebagai event pariwisata, yaitu: kepuasan penonton, branding, dan pengalaman menonton.</p>
<p><strong><span id="more-473"></span>Kepuasan Wisatawan vs Kepuasan Penonton</strong></p>
<p>Dalam event olah raga penonton dapat dikategorikan sebagai wisatawan. Jumlah penonton yang hadir dalam sebuah pertandingan olah raga juga dipengaruhi oleh seberapa efektif kapasitas penyelenggara dalam menarik penonton. Sama halnya dengan pariwisata, jumlah wisatawan yang berkunjung sangat dipengaruhi oleh sebagaimana pengelola destinasi mampu menarik wisatawan.</p>
<p>Konsep seperti jumlah kunjungan wisata, lamanya tinggal wisatawan, jumlah uang yang dibelanjakan di lokasi destinasi, menjadi logis untuk diimplementasikan dalam event olah raga. Oleh karena itu maka kepuasan penonton juga dalam sangat dipengaruhi oleh kesiapan penyelenggaraan, atraksi olahraga, keamanan dan kenyamanan.</p>
<p><strong>Branding Bangsa dan Bendera</strong></p>
<p>Jelas dapat di lihat ketika kegiatan olahraga adalah kegiatan international maka partisipasi berbasis bangsa menjadi mutlak. Negara memunculkan identitas dirinya yang diwakili oleh para pemain. Legitimasi perwakilan itu kemudian di kukuhkan dengan keriuhan supporter yang mendukung pemain yang mewakili bangsanya. Meskipun tidak sepenuhnya kemenangan dan kekalahan dalam pertandingan olah raga akan menjadi simbol kekalahan sebuah bangsa, namun hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap bagaimana publik memberikan urutan kelas bagi sebuah negara.</p>
<p>Di dalam konteks pariwisata, Weed et al, 2010 menerangkan tentang munculnya <em>branding, image </em>dan bendera serta logo logo dalam pertandingan olah raga yang secara langsung maupun tidak langsung telah mentransformasi pertandingan menjadi ajang melabelan identitas diri. Dimana label label ini kemudian membentuk &#8216;cara pandang&#8217; terhadap suatu bangsa. Kita tahu bahwa pariwisata merupakan kegiatan ekonomi yang sensitif yang sangat dipengaruhi oleh image dan branding. Baik olah raga maupun pariwisata sama sama memegang peran dalam (<em>re)cration</em> dan <em>(re)presentation</em> dari identitas nasional. Gammon (2010) juga memperkenalkan sebuah konsep interaksi antara aktivitias, manusia dan tempat penyelenggaraan. Interaksi ini persis seperti interaksi yang terjadi dalam kegiatan pariwisata. &#8216;Manusia&#8217; menjadi element kunci dalam menkonstruksi tempat olah raga, dan sebagai pusat &#8216;protagonist&#8217; dalam aktivitas olah raga.</p>
<p><strong>Pengalaman Baru melalui Perjalanan Budaya</strong></p>
<p>Kurang lebih 15 tahun yang lalu, Baines (1996) mencoba mendefinisikan bahwa perjalanan untuk menyaksikan kegiatan olah raga sebagai sebuah rekreasi dimana secara langsung menyaksikan penyelenggaraan pertandingan. Urry (2002) menyebutkan bahwa biasanya para wisatawan olahraga melakukan perjalanan didasari oleh tiga kebutuhan yaitu <em>face to face</em>, <em>face to place</em> dan <em>face the moment.</em> Face to face disini adalah ketika wisatawan olahraga menyaksikan pertandingan meskipun secara tidak langsung, face to place adalah ketika wisatawan berada di kota/negara lokasi pertandingan langsung menyaksikan sedangkan face the moment adalah menyaksikan moment pertandingan tanpa berada di lokasi dan tidak live (siarang langsung). Inilah yang sedikit membedakan antara atraksi pariwisata yang <em>in situ</em>, dengan event olah raga. Karena event olah raga memberikan alternatif untuk menikmati sebuah atraksi tidak pada waktu itu dan tidak di tempat itu. Jadi nampaknya yang terpenting adalah bukan &#8220;being there&#8221; atau harus berada di sana namun &#8216;being where?&#8221;.</p>
<p>Hal ini juga di teliti oleh Frew &amp; McHilivray, 2008; Weed, 2006 yang mempelajari kasus penyelenggaraan piala dunia South Africa tahun 2010. Ia menganggab bahwa ada pergeseran standard kepuasan menyaksikan pertandingan langsung di lokasi menjadi lebih rendah. Kini menyaksikan pertandingan secara tidak langsung di lokasi yang lain menjadi lebih dipilih. Hal ini karena faktor faktor resiko yang minimal, diantara resiko keamanan, kenyamanan dan finansial. Fenomena ini juga ditangkap oleh pengelola pubs, bar, cafe dan rumah makan yang secara cepat menyambar kesempatan untuk mengadakan nonton bareng dimana hal ini secara syarat telah memenuhi komunalitas menyaksikan pertandingan olah raga telah terpenuhi. Kendati demikian, Indonesia tidak perlu berkecil hati, baik face to face, face to place, maupun face the moment, ketiganya memberikan efek &#8216;diingat&#8217; oleh para penonton. Sehingga di kemudian hari referensi destinasi para penonton ketiga kategori tersebut bertambah.</p>
<div>
<p>Terakhir penulis berharap penyelenggaraan Sea Games 2011 di Indonesia dapat berjalan sukses dengan mampu mencapai standar kepuasan penonton dan pemain, memunculkan branding yang baik dan mampu menarik wisatawan. Karena hal ini dapat berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata Indonesia yang berada dalam kompetisi yang ketat dengan negara negara lain. Sehingga dalam jangka panjang akan memberikan dampak positif bagi ekonomi dan sektor terkait lainnya. Semoga.</p>
</div>
<p>Tulisan telah dimuat di www.kabarindonesia.com (22 November 2011)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=473&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/11/24/nilai-strategis-seagames-dalam-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimikri Pariwisata</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/11/03/mimikri-pariwisata/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/11/03/mimikri-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 01:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[ &#8220;Sate dan teh tarik due Pak Cik!&#8221; seru Pak Be menirukan logat melayu. Namun bagiku terdengar aneh, karena lidahnya tak bisa menipu, tetap lidah Solo. Secuil kenangan perjalanan ke Kuala Lumpur dan Serawak Malaysia akhir tahun lalu, mungkin sudah hampir &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/11/03/mimikri-pariwisata/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=468&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>&#8220;Sate dan teh tarik due Pak Cik!&#8221; seru Pak Be menirukan logat melayu. Namun bagiku terdengar aneh, karena lidahnya tak bisa menipu, tetap lidah Solo.</p>
<p>Secuil kenangan perjalanan ke Kuala Lumpur dan Serawak Malaysia akhir tahun lalu, mungkin sudah hampir setahun yang lalu. Apa yang sebenarnya bisa diambil hikmah dari perjalan yang saya lakukan di tahun lalu nampaknya tak lebih dari kunjungan penelitian biasa, tetapi ketika saya mencoba mendalami makna dari perjalanan saya ke Malaysia tersingkap berbagai ilmu yang penting.</p>
<p>Jika Azyumardi Azra menulis tentang konsep sosio antropologi pariwisata maka saya akan mengetengahkan contoh yang serupa (lihat postingan sebelumnya). Jika ia menggunakan contoh seorang sinegal yang menggunakan bahasa Indonesia untuk menawarkan produk pada wisatawan Indonesia yang ia jumpai di depan menara Eifel, maka saya akan mengambil contoh rekan saya yang baru saja saya tulis di paragraph pertama.</p>
<p><a href="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1403.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-469" title="CIMG1403" src="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1403.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pic.1. Pesanan Teh tarik dan Sate di Melaka</p>
<p><span id="more-468"></span></p>
<p>Pak Be berusaha akrab dengan masyarakat setempat, yaitu masyarakat Melayu Malaysia dengan berusaha menirukan logat mereka berharap dengan begitu ia bisa menikmati teh tarik dengan cita rasa penduduk lokal. Hal serupa juga terjadi pada wisatawan wisatawan yang berasal dari luar Jogja, saya sering memperhatikan mereka mencoba menawar barang di Jl. Malioboro dengan menggunakan bahasa Jawa. Meskipun, alhasil mereka tidak mendapatkan harga lebih murah.</p>
<p>Apa sebenarnya penyebab mereka melakukan itu? Saya mencoba berfikir dari sisi motivasi wisatawan untuk berkunjung dan memutuskan untuk menggunakan kalimat kalimat masyarakat lokal.</p>
<p><em>Pertama</em>, pengalaman khusus menjadi warga lokal ingin sekali dirasakan oleh wisatawan. Anda tidak akan pernah merasakan menjadi diri Anda sendiri sebelum Anda keluar dari diri anda dan menjadi orang lain untuk sementara. Itulah dasar pemikiran saya. Kita kadang kadang sulit untuk melihat diri sendiri dan memaknai diri sendiri ketika kita tidak mencoba memandang diri sendiri dari kacamata orang lain. Ketika saya mempraktekan untuk menggunakan satu kalimat bahasa lokal (meskipun hanya dialeg) saya merasakan sebuah energi universal. Energi itu menerangi batas batas identitas saya sebagai manusia berbangsa, bernegara dan berbahasa. Saya tidak pernah sedikitpun merasa bahwa bahasa Indonesia itu penting sebelum saya benar benar berbicara dengan bahasa orang lain. Pengalaman berdiri dan keluar dari raga diri untuk masuk menjadi identitas orang lain adalah pengalaman yang luar biasa dalam spiritual manusia. Namun hal itu tidak akan menjadi luar biasa ketika kita tidak segera kembali kepada identitas awal. Itulah saya kira yang menjadi sebuah kepuasan bagi rekan saya itu untuk ber&#8217;mimikri&#8217; menjadi warga lokal.</p>
<p><em>Kedua</em>, rasa ingin tahu. Ketika rekan saya, Pak Be, mengatakan itu dengan si penjual sate dan teh tarik, yang sungguh saya nantikan adalah reaksi dari si penjual sate. Apakah dia akan tertawa. Apakah dia akan menjawab dengan bahasa lokal, apakah dia akan menjawab dengan bahasa kita, atau apa&#8230; sebuah penantian jawaban yang mengasyikkan. Akhirnya dia pun menjawab dengan senyum saja tanpa sebuah kata apapun. Hei&#8230; come on, kata saya dalam hati. Bukan senyum yang saya nantikan, tetapi reaksi apa yang muncul dari lontaran kalimat Pak Be. Kemudian tak berapa lama seorang pelayan datang membawa pesanan, teh tarik dan sate, dia kelihatan terburu buru dan langsung menaruh pesanan di atas meja sambil mengulang menu, &#8220;Due teh, due sate.&#8221; Itu saja yang dia ucapkan. Dari apa yang dia sampaikan saya menarik kesimpulan bahwa penjual itu berfikir kami warga lokal, atau setidaknya kami pendatang yang telah lama makan disitu. Analisis yang lain adalah dia tidak sedang ingin berhospitality dengan kami. Kendati demikian, saya menikmati rasa ingin tahu yang datang dari respon masyarakat lokal ketika mendengar kalimat dari Pak Be.</p>
<p><em>Ketiga</em>, kemudahan berkomunikasi. Memang benar secara logika alasan itulah yang langsung terfikirkan di benak saya. Supaya mudah dipahami sehingga cepat dilayani saya kira menjadi alasan yang logis seseorang menggunakan bahasa lokal. Ini serupa ketika saya berada di USA tentu saya akan menggunakan bahasa Inggris, karena saya tidak memiliki pilihan lain. Bahasa Indonesia meskipun di gunakan oleh lebih dari 250 juta orang, namun jangan merasa yakin di USA satu dari seratus ribu orang bisa berbahasa Indonesia. Sehingga tentu saja saya menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Untuk kasus contoh Malaysia, maka tidak ada alasan yang sama. Dimana sebenarnya Pak Be bisa saja menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia karena toh mereka pun mengerti. So, alasan kemudahan berkomunikasi nampaknya menjadi alasan yang logis namun tidak memberikan sebuah pengalaman sosial.</p>
<p><a href="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1446.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-470" title="CIMG1446" src="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1446.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pic 2. Berfoto dengan manekin di Bukit Bintang, Kuala lumpur</p>
<p>Jika boleh, dan tentu boleh boleh saja, saya akan menyebut apa yang dilakukan Pak Be adalah Mimikri Pariwisata. Dimana kita melepas, menelanjangi dan menaruh semua label yang ada pada diri kita untuk turun bertelanjang bendera menikmati sebuah pengalaman spiritual berwisata. Dan saya kira banyak wisatawan minat khusus, <em>special interest tourism</em>, telah melakukannya baik secara sadar maupun tidak sadar. Selamat mencoba &#8230;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=468&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/11/03/mimikri-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1403.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">CIMG1403</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://erdha.files.wordpress.com/2011/11/cimg1446.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">CIMG1446</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sosio-antropologi Wisata Indonesia</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/11/02/sosio-antropologi-wisata-indonesia/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/11/02/sosio-antropologi-wisata-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 07:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Resonansi, Oleh: Azyumardi Azra &#160; Menara Eiffel Paris 19 Oktober 2011. Muhammad Saleh, pemuda kulit hitam asal senegal sedang menjajankan berbagai suvenir Paris di tengah suhu udara yang kian dingin di lanskap Eropa. &#8220;Empat, sepuluh Euro, Murah. murah murah.&#8221; &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/11/02/sosio-antropologi-wisata-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=460&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: Resonansi, Oleh: Azyumardi Azra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menara Eiffel Paris 19 Oktober 2011. Muhammad Saleh, pemuda kulit hitam asal senegal sedang menjajankan berbagai suvenir Paris di tengah suhu udara yang kian dingin di lanskap Eropa. &#8220;Empat, sepuluh Euro, Murah. murah murah.&#8221; katanya menawarkan kerudung bertuliskan &#8216;Paris&#8221; dalam bahasa Indonesia ketika delegasi World Culture Forum asal Indonesia turun dari kendaraan-mula mula rencananya hanya untuk sekedar berfoto.</p>
<p>Senang dan bangga ada para pengasong di salah satu kota pusat wisata dunia merayu calon pembeli yang mereka bisa tahu berasal dari Indonesai dengan bahasa Indonesia. Dan fenomena ini bisa ditemukan tidak hanya di Menara Eiffel, tapi juga di toko toko parfum terkenal di Paris. Memang para penjual ini tidak bisa biajak berbicara dengan bahasa Indonesia yang rumit; tetapi setidaknya mereka bisa berkomunikasi secukupnya dengan para pelancong Indonesia.</p>
<p><span id="more-460"></span></p>
<p>Sebagai perbandingan, para pelayan toko di Madinah, Makkah dan Jeddah sudah lama menjajakan dagangannya dengan bahasa Indonesia. Tidak heran karena secara historis, jamaah haji dan para penuntut ilmu asal Nusantara sudah kian banyak yang datang ke Tanah Suci sejak akhir abad ke 16. Karena itu, ada kebutuhan kalangan perdagangan untuk bisa bicara bahasa Indonesia. Peningkatan jumlah jamaan haji dan umrah Indonesia secara fenomenal dalam dua dasawarsa terakhir membuat kemampuan berbahasa Indonesia-minimal sekalipun merupakan kebutuhan riil bagi lingkungan dagang setempat.</p>
<p>Gejala ini juga bisa ditemukan di Yerusalem, yang dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi tujuan wisata keagamaan, baik Muslim maupun Kristiani. Kini menjadi pemandangan biasa melihat para peziarah atau wisatawan Indonesia di Bandara Istanbul misalnya, yang mengadakan perjalanan ke kota Istanbul, atau transit menuju Yerusalem atau Roma atau Andalusia.</p>
<p>Kini, di Yerusalem misalnya kian banyak pula warga lokal pemandu ziarah keagamaan yang bisa berbahasa Indonesia. Dalam kunjungan ke Yerusalem akhir Mei lalu, saya menemukan setidaknya ada tiga travel agents di Yerusalem yang melayani para wisatawan asal Indonesia. Pekan lalu saya juga menemukan 15 wisatawan Muslim Muslimat yang &#8216;ziarah rohani&#8217; ke Istanbul dan Kordova untuk melihat warisan Islam di kedua kawasan tersebut.</p>
<p>Tetapi jelas, Paris, Yerusalem dan Andalusia secara konvensional bukan tempat tujuan rihlah orang orang dari Nusantara. Karena itu adanya para pengasong di Paris yang menjajakan dagangan dengan bahasa Indonesia merupakan gejala baru-sosio antropologis dan ekonomis- seperti saya diskusikan bersama dengan Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra, guru besar antropologi UGM Yigyakarta ketika &#8216;diserbu&#8217; pedagang asongan asal Senegal di kaki Menara Eiffel.</p>
<p>Gejala ini mencerminkan dua hal; pertama perkembangan sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang terus membaik-meski juga masih tetap ada mereka yang miskin dalam jumlah besar. Kelas menengah &#8211; khususnya di kalangan umat Muslimin &#8211; membuat mereka lebih bisa menikmati kehidupan di luar batas batas kebutuhan pokok, seperti pangan, papan, sandang, dan kendaraan.</p>
<p>Mereka bisa memiliki saving yang memungkinkan mereka menikmati wisata, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan dana antara 1.500 dolar AS hingga 2.000 dolar AS, mereka sudah dapat berangkat umrah karena masa tunggu ibadah haji yang kian bertahun tahun-atau wisata rohani ke tempat tempat lain di Timur Tengah dan Eropa.</p>
<p>Sedangkan untuk wisata Nusantara sendiri bisa disaksikan intensitas perejalanan pada musim libur sekolah dan akhir pekan panjang. Keluarga dalam jumlah besar mengunjungi tempat wisata populer semacam Bali, Lombok, Bukittinggi, Makassar, dan seterusnya sehingga sangat sulit mendapatkan seat pesawat. Menurut data Department Pariwisata (kini bertambah dengan Ekonomi Kreatif) membelanjakan lebih banyak uang dibanding kebanyakan wisatawan mancanegara.</p>
<p>Kedua, wisata rohani khususnya juga mencerminkan peningkatan kebutuhan mendapatkan pengalaman spiritual di luar kerutinan keagamaan sehari hari. Pada satu segi, wisata rohani ini bagi sebagian orang boleh jadi menjadi &#8216;gaya hidup&#8217; seperti terlihat gejalanya pada umrah di musim liburan dan Ramadhan.</p>
<p>Termasuk di antara gejala &#8216;gaya hidup&#8217; itu adalah paket umrah yang disertai dengan &#8216;ijab qobul&#8217; pernikahan Masjidil Haram Makkah atau Masjid Nabawi Madinah. Tidak ada yang salah dengan gejala ini; karena bagaimanapun wisata rohani yang tidak selalu dengan mudah dapat diperoleh.</p>
<p>Dalam konteks itu, wisata rohani turut menyumbang kepada dinamika Islam Indonesia. Dengan perjalanan wisata rohani, para wisatawan Muslim dapat melihat sejarah, warisan dan realitas Islam dan kaum Muslimin di tempat lain. Dengan begitu mereka selanjutnya dapat membandingkan dengan realitas dan dinamika Islam Indonesia yang tidak bisa lain dapat membuat mereka bersyukur dan bangga menjadi Muslim Indonesia. ***</p>
<p>REPUBLIKA, 27 Oktober 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=460&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/11/02/sosio-antropologi-wisata-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>International Seminar of Marine Tourism, Bangka 2011</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/10/24/international-seminar-of-marine-tourism-bangka-2011/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/10/24/international-seminar-of-marine-tourism-bangka-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 08:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event Attended]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Who don&#8217;t know Belitong? I believe that many Indonesian know Belitong. Since the novel title Laskar Pelangi written by Andrea Hirata had published and boosted the high curiosity of Belitong. High number of people want to visit and they did. It is &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/10/24/international-seminar-of-marine-tourism-bangka-2011/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=451&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Who don&#8217;t know Belitong? I believe that many Indonesian know Belitong. Since the novel title Laskar Pelangi written by Andrea Hirata had published and boosted the high curiosity of Belitong. High number of people want to visit and they did. It is one of the opportunities for the government to manage the curiosity became something with high economic values.</p>
<p>Last month, the government of Babel conducted the International Seminar titled, Marine Tourism, at 21-22 September 2011. It is my pleasure to say that they asked me to be a moderator for the session.</p>
<p><a href="http://erdha.files.wordpress.com/2011/10/erda-babel1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-458" title="erda babel" src="http://erdha.files.wordpress.com/2011/10/erda-babel1.jpg?w=300&#038;h=196" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1> <span id="more-451"></span></h1>
<div id="content-content">
<div id="node-1021">
<div>
<p>The Provincial government of Kepulauan Bangka Belitung held an international seminar on marine tourism that was organized by the Culture and Tourism Provincial Office and supported by the Ministry of Culture and Tourism of Republic of Indonesia (MoCT), as one of the agendas of Sail Wakatobi –Belitong 2011. The seminar was held at the Ballroom of Novotel Convention Center in Pangkalan baru, Central Bangka Regency, Bangka Island, on the September 21, 2011 and continued by a field visit on September 22, 2011 to show several marine tourism in Bangka to the participants of the seminar, as well as to examine one tin geo-track, a track developed by the Culture and Tourism Office with Centre for Tourism Planning and Development (P2Par) ITB in 2009. The focus of the seminar was on Marine Tourism Destination Management for Sustainable Development, with various themes presented by experts, academics and practitioners. The event was supported not only by the MCT, but also by PT Timah, World Central for Excellence of Destination and Conservation International Indonesia.</p>
<p><img title="Bujang Katak Dance, by Astari, opening the Seminar" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5063_0.JPG" alt="" width="600" height="435" /></p>
<p>The seminar was opened by Mr. Erwandi Rani, representing the Governor of Kepulauan Bangka Belitung. Directors from the MoCT and the Ministry of Marine and Fishery of Republic of Indonesia also addressed welcome speeches. In the event, Provincial government of Kepulauan Bangka Belitung, and the (Hon.) Consul General of Republic of Seychelles, Nico Barito, signed a Letter of Intent for a cooperation in capacity building in environmental management with the focus on strategic planning for marine tourism. The opening ceremony was also made lively with the “Bujang Katak” dance performance by the Sanggar Astari .</p>
<p><img title="Hon Consul General, Nico barito and Mr. Erwandi rani, signing the LoI" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5118.JPG" alt="" width="600" height="400" /></p>
<p>The seminar was started by a 30 minute presentation by Anthony Ian Charters, from Tony Charters and association – Australia, as the keynote speaker. Mr. Charters presented “Marine Tourism – Creating A Sustainable Future”. Mr. Charters was especially invited to the seminar by the MoCT. He presented the trends in tourism, from eco tourism, the consumer desire for authenticity, sustainability to social networking and the use of technology of Web 2.0. He also addressed important issues in destination management like destination stewardship, destination planning, resource protection, product development, monitoring and research, as well as presenting best practices on tourism development in Australia.</p>
<p><img title="The Keynote Speaker: Tony Charters" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5171.JPG" alt="" width="600" height="403" /></p>
<p>The next presentation was a teleconference made by DR Cesar Castaneda Vasquez Del Mercado, SMED expert from World Center for Excellence of Destination as well as the Secretary General of Organication Latino Americana y del Caribe de Turismo (OLACT). Dr. Castaneda presented the System of measures for excellence in Destination (SMED), directly from Montreal – Canada using Skype. Dr. Castaneda himself initiated the teleconference for he could not attend the seminar in person due to an important agenda he should attend in Mexico City the next day.</p>
<p><img title="Dr. Castaneda presenting SMED at the Teleconference, Live from Montreal-Canada" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5186.JPG" alt="" width="600" height="400" /></p>
<p>The teleconference was moderated by Dr. Herry Suhermanto, MCP, Director of Cooperative, Small and Medium Enterprises of the National Planning Agency (Bappenas). Dr. Suhermanto was also the chairman for the first session in which HE Seremaia Tui Cavuilati, The Ambasador of Republic of Fiji to Indonesia, presented &#8220;Modifying Ecotourism into community-based tourism in Fiji: A Pragmatic Approach to rural local-owned tourism&#8221;; Mr. Nico Barito, The Hon. Consul General of Republic of Seychelles to Indonesia presented the tourism in Seychelles and Prof. Dr. Ir. Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng. from The Department of Architecture and Planology of Gadjah Mada University and Studi Pariwisata (Stupa) Yogyakarta presented core concepts for tourism marketing. The main topics of this first session were Destination Management Organization for Marine Tourism and Marketing and Investment for Marine Tourism.</p>
<p><img title="Dr Suhermanto Chairmanned the First Session, with Aryza Wiryawan from Con.Gen Seychelles presenting Seychelles, and HE ST Cavuilati, Hon. Nico Barito and Prof. Yoyok from UGM" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5210.JPG" alt="" width="600" height="403" /></p>
<p>Dr. Budi Brahmantyo, the head of P2Par ITB, chairmanned the second session with the topics of Eco-Marine Tourism and Sustainable Marine Tourism and Marine Heritage Tourism. In this session, 3 professors from the best universities in Indonesia presented their paper, along with 1 case study presented by Ir. Hugua, the Bupati of Wakatobi. Prof.Dr. Dietriech K. Bengen from IPB presented hid paper on &#8220;Strategic Perspective of Sustainable Small Islands Marine Tourism Development in Indonesia&#8221;, Prof. Dr. Chafid Fandeli from Gadjah Mada University presented “Green Partnership Development in Marine Tourism Management” and Prof. Dr. Supratikno Raharjo from Department of Archaeology of Indonesia University presented the potentials and challenges in Underwater Cultural Heritage Management And Marine Tourism in Indonesia. Dr. Budi Brahmantyo was also the resource person in the tin geo track field visit the next day.</p>
<p><img title="Ir Hugua and 4 Professors from ITB, UGM, IPB and UI" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5276.JPG" alt="" width="600" height="387" /></p>
<p><img title="Dr Brahmantyo with the participants of the Tin Geotrack" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5458.JPG" alt="" width="600" height="403" /></p>
<p>The topics of the last session were Technology for Marine Tourism Destination Management and Conflict Resolution Management on Marine Tourism. Farica Edgwina Yosafat presented Oceanographic Information for Suporting Marine Tourism Management. The presentation was prepared together with Prof. Dr. Rer. Nat. Dadang K. Miharja. From Bangka Belitung, the coordinator of Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB), Budi Setiawan, presented Integrated Coastal Management as a Tool for Enhancement of Local Community Coastal Resources, Environment Quality and Sustainable Marine Tourism. Mr. Setiawan presented the efforts of the NGO he worked for in creating the conservation tourism destination in Belitung. Ms. Ii Rosna Tarmidji from Conservation International Indonesia presented how Raja Ampat and Kaimana manage the destination by empowering the local communities.</p>
<p><img title="Mr. Megawandi, with Erda Rindrasih, Ii Rosna, Edgwina, Budi Setyawan, and Rara, Putri Indonesia Bangka Belitung 2011" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5333.JPG" alt="" width="600" height="392" /></p>
<p>The whole agenda of the international seminar was closed in the evening of September 22nd, by the head of Culture and Tourism Office of Kepulauan Bangka Belitung, Mr. Yan Megawandi in a barbeque farewell dinner at the pool side of Aston Sol Marina Bangka. Mr. Megawandi expressed his appreciation and gratitude to the all speakers and participants. He also extended the appreciation and congratulations from various parties to the committee who had successfully managed interesting topics and executed the first teleconference in a seminar in Bangka Belitung, as the ministries officials told Mr. Megawandi that they never conducted such kind of conference using a popular internet application like Skype. His Excellency ST Cavuilati also performed a song for the whole participants, creating friendly atmosphere at the gathering.</p>
<p><img title="Mr. megawandi at the farewell dinner at Aston Sol Marina" src="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5541.JPG" alt="" width="600" height="403" /></p>
</div>
</div>
</div>
<p>Source: http://www.visitbangkabelitung.com/informasi?q=/node/1021</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=451&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/10/24/international-seminar-of-marine-tourism-bangka-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://erdha.files.wordpress.com/2011/10/erda-babel1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">erda babel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5063_0.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Bujang Katak Dance, by Astari, opening the Seminar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5118.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Hon Consul General, Nico barito and Mr. Erwandi rani, signing the LoI</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5171.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">The Keynote Speaker: Tony Charters</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5186.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Dr. Castaneda presenting SMED at the Teleconference, Live from Montreal-Canada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5210.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Dr Suhermanto Chairmanned the First Session, with Aryza Wiryawan from Con.Gen Seychelles presenting Seychelles, and HE ST Cavuilati, Hon. Nico Barito and Prof. Yoyok from UGM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5276.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Ir Hugua and 4 Professors from ITB, UGM, IPB and UI</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5458.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Dr Brahmantyo with the participants of the Tin Geotrack</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5333.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Mr. Megawandi, with Erda Rindrasih, Ii Rosna, Edgwina, Budi Setyawan, and Rara, Putri Indonesia Bangka Belitung 2011</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.visitbangkabelitung.com/sites/default/files/u12/DSC_5541.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Mr. megawandi at the farewell dinner at Aston Sol Marina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malaikat itu si penjual helm</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/malaikat-itu-si-penjual-helm/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/malaikat-itu-si-penjual-helm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 07:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[D-Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang cerah di hari minggu. Matahari senyum senyum manis di ufuk timur. Membuatku ingin jalan jalan. Aku ajak suami jalan dengan naik sepeda motor. Sudah lama rasanya tidak boncengan berdua seperti waktu pacaran dulu. Kami pergi ke toko reparasi &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/malaikat-itu-si-penjual-helm/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=452&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi yang cerah di hari minggu. Matahari senyum senyum manis di ufuk timur. Membuatku ingin jalan jalan. Aku ajak suami jalan dengan naik sepeda motor. Sudah lama rasanya tidak boncengan berdua seperti waktu pacaran dulu. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kami pergi ke toko reparasi laptop untuk membetulkan beberapa kerusakan kecil di laptop. Setelah itu kami makan bakso granat yang super besar. Kenyang&#8230; Saat makan bakso, kami melihat di depan kios bakso ada gerai helm, kaca mata, dan gerai kaos tangan di emperan.</p>
<p>Kita berfikir untuk mengganti kaca helm yang sudah burek.. tak jelas jika digunakan melihat kedepan.</p>
<p>Si mas penjualnya pun dengan santun melayani kami.</p>
<p>Aku iseng bertanya, &#8220;helmnya yang ini berapa mas?&#8217;</p>
<p><span id="more-452"></span></p>
<p>dia jawab, &#8220;sembian puluh ribu mbak&#8217; sambil membetulkan kaca helm pesanan kami.</p>
<p>&#8220;kalau tujuh puluh boleh gak?&#8221; tanyaku, sebenarnya gak mau beli, tp kalau dikasih 70 ribu, kenapa tidak.</p>
<p>&#8220;wah.. maaf, belum bisa&#8221; katanya sopan.</p>
<p>Suamiku beda lagi. Ia lebih tertarik pada sejuntai kaos tangan tanpa jari hanya punggung2 tangan saja.</p>
<p>&#8220;kalau ini berapa mas?&#8221; tanyanya pada si mas penjual helm</p>
<p>&#8220;itu 15 ribu mas.&#8221; jawabnya masih dengan nada sopan. Kami duduk di bangku reyot yang pakunya sudah hampir keluar karena lelah menopang kami yang gemuk gemuk. Tak berapa lama, ia selesai melayani order kami. Memuaskan. Kaca terpasang baik, jelas dan cling.. bersih. Kamipun membayar 15 rb sebagai harga yang disepakati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laki laki itu sempat bicara &#8220;helmnya jadi gak mbak? tujuh puluh boleh tapi helmnya mbak ditinggal.&#8221;</p>
<p>ia senyum mencoba bercanda dengan pelanggan barunya.</p>
<p>dengan nada bercanda akupun menjawab &#8220;ah&#8230; enakkan kamu dong&#8217;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami berlalu dan saling mengucapkan terimakasih.</p>
<p>Diatas roda kami pulang menuju rumah. Seperti biasa semua berjalan baik, sampai akhirnya di malam hari ketika hendak menyiapkan materi untuk kerja besok pagi, kami tersentak, ingat bahwa tas dan laptop tertinggal di gerai helm di pinggir jalan. panik menggerayangi diri. Dengan motor kami segera menuju gerai itu lagi, tp sayang sudah tutup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak tau mesti bagaimana, penjual nasi goreng di sebelahnyapun tak tau rumahnya, bahkan namanya.</p>
<p>Ah&#8230; kami benar benar mengutuki diri. bagaimana bisa laptop tertinggal. Kami coba terus bertanya ke kanan ke kiri dari gerai non permanen itu. ah.. tak ada yang tahu. Geram&#8230; sedih.. sekaligus marah&#8230; tp marah dg siapa.</p>
<p>Laptop itu MacBook dibeli di Hawaii untuk kenang2an, tas berisi external hardisk, kamera, dan voice recorder yang berisi rekaman international conference dan belum di transfer&#8230;.. seluruh peralatan lengkap untuk peneliti. Bukan pula murah untuk kantongku. Andaikata si mas penjual helm itu menjualnya, ia tak perlu dagang helm lagi satu tahun. ahhhh&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam hari tak ada yang bisa tidur. Detik demi detik berlalu menunggu pagi. Pikiran berkecamuk. Bagaimana jika ia mengaku tidak melihat atau bahkan ia benar benar tidak melihat. Bagaimana bila orang lain datang membeli helm dan membawa tas itu. atau bgmn jika ada orang iseng mengambilnya.  Oh.. silih berganti pikiran negatif bertubi tubi.</p>
<p>Jam enam pagi, dengan seteguk air putih, kami tancap gas menuju gerai helm. Belum buka. Ahh&#8230;lama kami duduk, sampai jam 7. dipinggir jalan berdebu dan kotor. Warung kecil sudah buka, suamiku tak menunggu lama, ia menuju kesana dan bertanya tentang si penjual helm.</p>
<p>Penjaga warung kecil itu mengatakan rumahnya Mantup, sekitar satu kilo dari kios itu. namanya Antok. dengan modal dua informasi itu kami melaju ke Desa Mantup. Bertanya kesana kemari, tak banyak yang tahu. sampai akhirnya satu orang mengatakan &#8220;kalau Antok penjual helm bukan disini rumahnya, tapi di Desa Salakan.&#8221;</p>
<p>Tanpa berfikir panjang, kami melaju ke desa salakan. Sempat nyasar di desa desa lainnya. Menyusuri gang demi gang dan jalan persawahan. Keluar masuk bertanya orang, tak ada yang tahu Antok. Seorang penjual kelontong mengatakan.</p>
<p>&#8220;Antok ya&#8230;? masih muda? .. mungkin anak yang sebelah itu, namanya juga Antok, dia juga masih muda. Tapi kalau jualan helm, wah saya gak tahu.&#8221;</p>
<p>Kami mengucapkan terimakasih dan langsung menuju ke rumah yang ditunjuk penjual kelontong itu.</p>
<p>Rumah yang baru dibangun, belum di cat dan bersih. Ku ketuk pintunya pagi pagi, seorang laki laki tua keluar dari rumah.</p>
<p>&#8220;Cari siapa ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf pak, saya nyari mas Antok&#8217;</p>
<p>&#8220;Antok siapa ya? Anak saya namanya Anto.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, itu Pak.. yang jualan helm.&#8221; jawabku dengan PD dan lantang</p>
<p>&#8220;Jualan helm??&#8221; Bapak itu bertanya dengan alis naik, sampai sampai alisnya seperti minta cuti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia bersungut sungut masuk ke dalam, memanggil anaknya yang bernama Anto. Si anak keluar. Ah&#8230;&#8230; tak disangka, anak itu adalah anak SMA sudah berpakaian seragam dan hendak masuk sekolah.</p>
<p>Mereka berdua keluar, si anak merasa dihakimi &#8220;Saya gak jualan helm kok&#8230;..&#8221;</p>
<p>Ampuuun seribu ampun. Ternyata bukan dia. Malu bukan kepalang. Aku sudah membuat anak dan bapak ini beradu mulut. Aku pamit dan bertubi tubi aku minta maaf karena salah.</p>
<p>Kami tak putus asa, dengan mental seorang detektif, kami merasa tertantang untuk mengobok obok desa Salakan menemukan orang yang bernama Antok itu. Ah&#8230; kami ini kan master master, yang satu master geografi yang satu master perencaan desa kota, masak menemukan satu orang di satu desa saja tidak bisa, pikir kami yang sok sokan.</p>
<p>Kami telurusi jalanan kampung, baru tau jika ban motor hampir kempes. Kami mampir di sebuah tempat memompa angin. Kusiapkan 1000 rupiah untuk membayar.</p>
<p>Tak kami sia siakan, kami bertanya pada si Bapak tukang pompa</p>
<p>&#8220;Pak, disini ada yang namanya Antok? penjual helm?&#8217;</p>
<p>si bapak yang bajunya kumal penuh oli, mungkin itu baju dinasnya, menjawab &#8220;Wah.. Antok yang jualan heml itu adik saya&#8230;&#8221;</p>
<p>Ah&#8230; kami lega setengah mati.</p>
<p>&#8220;Bisa minta nomer telp nya pak? atau rumahnya?&#8221; tanya suamiku</p>
<p>Ia lalu berhuyung huyung masuk mengambil hand phone. Ia coba telp adiknya&#8230; lama tak diangkat. Sambil menunggu diangkat ia bercerita. Ia duduk di bangku karet yang sudah usang dan menghitam sisa oli.</p>
<p>&#8220;Adik saya itu sukses menjual helm ke mana mana, ia jalan dengan mobil box nya keliling Jogja. Ia sudah di percaya untuk menjadi distributor.&#8221;</p>
<p>Apa.. ???? distributor??? Kami setengah ragu. Bukankah Antok yang kucari ini penjual helm bijian dan membuka gerai di bahu jalan. Bau baunyaa.. bukan.</p>
<p>Tapi kami hanya main mata, suamiku tak berani bilang tidak. Kami diam menunggu seseorang diujung telp mengangkatnya.</p>
<p>&#8220;Hallooo.. Tok&#8230; iki ono sing nggoleki.&#8221;</p>
<p>hatiku berbunga&#8230; lalu layu lagi saat dia bertanya pada adiknya di telpon, &#8220;Ada orang yang ketinggalan barang di kiosmu, kamu buka kios po?&#8221;</p>
<p>Ia diam. lalu mengangguk. lalu melihat ke kami berdua yang terpekur kaku. Ia lalu menutup telpnya.</p>
<p>&#8220;Wah bukan mas, &#8230; Antok adik saya itu orangnya sukses kok, gak mungkin dia buat gerai di pinggir jalan..&#8221; begitu ungkapnya.</p>
<p>Kami mencoba tersenyum. Dalam hati..&#8221;ah;&#8230; siapa pula yang bilang adik bapak tidak sukses&#8230;. kami kan hanya bertanya&#8230; &#8220;</p>
<p>Kami pamit, dengan memasang senyum sekuat kuatnya. Si bapak sederhana itu pun melambaikan tangan tanda tak marah. Lega.</p>
<p>Tak tau lagi mau kemana, jam sudah menunjukkan pukul 08.15, kami lapar. belum sarapan. Tapi naluri detektif kami menahan untuk makan. Kami segera melaju ke gerai di pinggir jalan menunggu dag dig dug si Antok itu datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diam.. tak bersuara. Kami larut dalam pikiran masing masing. Sampai dipecahkan oleh seorang gila tak berbusana yang berjalan lenggak lenggok di depan kami. Aku menunduk.. OMG dia laki laki.. tanpa busana.. u can imagine&#8230;. how disgusting&#8230;</p>
<p>Bau yang tidak sedap, ku tahan semampuku. Demi laptop tersayang dan seluruh hasil kerjaku disitu.</p>
<p>Tak berapa lama si Antok datang, dengan sepeda motor tua yang sudah penuh stiker norak. Matanya mata bangun tidur, rambutnya yang masih basah habis mandi acak acakan saat helmnya di lepas. Si Antok kurus itu, pagi ini berwajah berbeda&#8230;.Ah&#8230;. ia kelihatan bercahaya di mataku yang sudah hampir putus asa. Ia keliatan seperti malaikat dengan jubah kebesaran dan sayap turun dari mendung mendung bertajuk pelangi. Ia seperti pangeran penunggang kuda dengan baju kesatria dan membawa pedang ke medan perang&#8230;</p>
<p>Sekejab bayangan itu hilang&#8230;, saat ia senyum. Giginya menghancurkan segala lamunan&#8230;</p>
<p>Ia turun dari motor, tersenyum senyum&#8230;.</p>
<p>&#8220;Anu&#8230; belum buka nih mas&#8230;&#8221; katanya santun dan merasa tak enak sudah ditunggu</p>
<p>Ah&#8230; aku tahu kalau belum buka, dari tadi kami disini.. pikirku.</p>
<p>Suamiku lalu bertanya,</p>
<p>&#8220;Mas, lihat tas rangsel warna hitam yang ketinggalan di sini kemarin gak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; itu tas njenengan to..?&#8221; Ia mengatakan dengan tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu ia ambil kunci. Ada sebuah kotak setinggi manusia, yang ia buka dengan kunci gembok dan rantai. Dengan sekali klik.. terbuka. Ia keluarkan beberapa kardus helm. Lalu beberapa tas plastik dan terakhir,</p>
<p>Ia ambil tas kami dari dalam kotak kayu usang dan berayap di pinggir jalan itu. Ia serahkan dengan senyum.</p>
<p>Ah&#8230;.. puluhan galon air rasanya menyiram hati dan sanubariku&#8230; sejuk&#8230; sukur tak terperi.</p>
<p>Jadi laptopku menginap satu malam di pinggir jalan berdebu, pinggir jalan yang dilewati orang gila lalu lalang&#8230;&#8230;.</p>
<p>Sungguh jahat aku menuduhnya yang tidak tidak, menuduhnya menjual laptopku, menuduhnya tak akan jualan lagi. Ah&#8230; aku menyesal dan malu dengannya&#8230;.. Dia yang sederhana, dengan pikiran yang sederhana. Dia seorang lugu yang tak terfikir untuk membuka apa isi dari tas itu.</p>
<p>&#8220;Dibuka saja isinya mas, saya gak tau punya siapa, ya .. saya simpan saja di kotak.&#8221;</p>
<p>Aku bergegas membuka tas.. semuanya masih rapi, persis sama.. tak ada yang hilang.</p>
<p>Aku dan suami saling pandang, kami tersenyum rasanya malu tidak karuan.</p>
<p>Penjual helm itu kemudian meminta ijin untuk menggelar gerainya. Kamipun meminta ijin pulang dan mengucapkan terimakasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*** End ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/452/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=452&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/malaikat-itu-si-penjual-helm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Goyah Cha Cha di trans sulawesi</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/goyah-cha-cha-di-trans-sulawesi/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/goyah-cha-cha-di-trans-sulawesi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 06:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Hari keempat, sudah sesuai jadwal. Aku sudah mesti selesai sosialisasi di Donggala. Subuh buta jam 5 pagi kami sudah tancap gas. Jalanan memang kurang bersahabat, di kanan tanah longsor dan di kiri jurang menganga. Untunglah si sopir gesit. Ia membuat &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/goyah-cha-cha-di-trans-sulawesi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=448&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari keempat, sudah sesuai jadwal. Aku sudah mesti selesai sosialisasi di Donggala. Subuh buta jam 5 pagi kami sudah tancap gas. Jalanan memang kurang bersahabat, di kanan tanah longsor dan di kiri jurang menganga. Untunglah si sopir gesit. Ia membuat kami di mobil bergoyang dombret dan menahan mual. Lebih parah karena tak ada toilet umum di jalan, terpaksa kita numpang numpang ke rumah warga. Serunya, saat kami minta ijin numpang ke kamar mandi, eh&#8230; dia malah ngantar kami ke rumah pak Carik, katanya toilet di sana lebih bagus. Alamak&#8230; jadi kita naik bukit sedikit untuk sekedar numpang ke toilet.<br />
Seisi mobil para tim teknis dan fasilitator mencoba menghibur diri. Tak ada musik, karena lupa tidak bawa kaset, sedangkan radio.. ah.. hanya bunyi lebah yang terdengar. Alhasil, musik di hp jadi alternatif, meski terasa aneh dan lebih menyiksa telinga dari pada memberi hiburan.<br />
Perjalanan tetap lanjut menyusuri trans Sulawesi yang keras itu. Rasa lelah sirna ketika di lihat jutaan pohon kelapa di kiri dan kanan jalan sepanjang lebih dari tiga kilo meter, rapi tertata, indah sekali. Juga terhampar pasir putih selembut tepung belum terjamah.<br />
Kami sempat mampir di sebuah warung kecil untuk mengisi perut. Sayang tak ada apa apa. Hanya mie instand, nasi dan telor, pilihan yang bijak untuk mengisi perut dari pada tidak ada sama sekali&#8230; Saat makan, kami di buat ternganga tak habis pikir ketika bertemu seorang bule dari Amrik.<br />
Ia telah bersepeda dari Manado dengan tujuan Makasar,  dan kini ia sudah sampai di Donggala. Lebih dari seminggu ia bersepeda, jika hari gelap ia menginap di rumah warga. Sepedanya sepeda biasa, hanya satu tas kecil di belakang yang di jepit&#8230;. ia sempat bilang, &#8220;the bike is so slow&#8230; I think she is a woman&#8230;&#8221; sontak kami tertawa.. bukankah sepeda tergantung orangnya.<br />
Ahaiii&#8230; gila nian itu bule, usianya bukan muda lagi mungkin 60 tahun.<br />
Kami satu tim hanya bisa bergeleng geleng mendengarkan ceritanya. Setelah mendengarkan kegilaan si bule itu, rasanya tempat dudukku begitu empuk, dan goyangan di jalan lebih seperti tarian cha cha dari pada goyangan di sungai kering.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=448&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/08/08/goyah-cha-cha-di-trans-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Langit biru dan anak jaman</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/05/12/langit-biru-dan-anak-jaman/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/05/12/langit-biru-dan-anak-jaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 02:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Langit berwarna biru cerah dan matahari terik menyengat saat Annisa berjalan pulang dari sekolah. Annisa, anak umur 9 tahun yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Annisa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Hari harinya dilewati dengan penuh keceriaan. &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/05/12/langit-biru-dan-anak-jaman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=440&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Langit berwarna biru cerah dan matahari terik menyengat saat Annisa berjalan pulang dari sekolah. Annisa, anak umur 9 tahun yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Annisa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Hari harinya dilewati dengan penuh keceriaan. Annisa termasuk anak yang sulit makan, baginya makanan seperti musuh. Entah kenapa dia tiba tiba merasa lapar sekali siang itu. Dengan sepatu hitam yang berdebu dia memasuki rumah neneknya, karena Ibu dan Ayahnya bekerja di siang hari.</p>
<p style="text-align:left;">Sehari hari Annisa dan adiknya dititipkan di rumah nenek, yang sering dia panggil dengan nama &#8220;Uti&#8221; alias Eyang Putri. &#8220;Assalamua&#8217;alaikum..&#8221; sapanya ceria.. Dari dalam rumah, si Uti menjawab &#8220;Waalaikumsalam&#8230;.mbak&#8221; sambil menggandeng dek Fahru yang berumur dua tahun itu. Dek Fahru dengan kerinduannya sepagian tidak bertemu, langsung menarik tangan Annisa dan mengajaknya bermain. Dia belum mengerti betapa si kakak sungguh lapar dan ingin segera makan. Namun, karena Annisa adalah kakak yang sangat sayang dengan adiknya, dia katakan &#8220;Iya dek.. bentar mbak Nisa taruh tas dulu ya&#8221;, sapanya sangat lembut. Fahru sambil menggoyangkan kedua kakinya dia memperhatikan gerak gerik Annisa yang sibuk menata diri.</p>
<p><span id="more-440"></span></p>
<p>Annisa menaruh tas di mejanya. Ditatanya dengan rapi buku buku pelajaran. Ada sebuah kertas menempel bertuliskan jadwal mata pelajaran yang sudah sobek di ujung ujungnya karena sering dimainkan oleh Fahru. Annisa melepas jilbabnya yang basah oleh keringat dan mengganti bajunya. Fahru kecil ternyata masih menunggu mbak Annisanya.</p>
<p>Karena mengetahui Fahru bersama Annisa, Uti lalu menuju ke dapur untuk mengambilkan satu piring nasi, ayam goreng dan sedikit sayur kacang panjang karena Uti tahu bahwa Annisa tak pernah suka sayur. Namun, bagi Uti tetap saja Annisa harus terus di perkenalkan ke sayur meskipun nanti hanya di tinggal di piring setidaknya Annisa akan melihat sayur itu setiap hari dan berharap suatu saat Annisa tertarik untuk mencobanya dan merasakan lezatnya. &#8220;Nis&#8230; nih maem dulu, dek Fahru tunggu mbak Annisa biar maem dulu&#8221;. teriak Uti dari arah ruang makan. Ah si Fahru, bocah balita itu terlalu pintar untuk tidak mengerti. Sejurus dia berlalu ke ruang makan. Lalu dia bilang, &#8220;Maem&#8230; maem&#8230; hakkk&#8221;&#8230; katanya sambil jingkat jingkat. Tingkahnya lucu karena badannya gemuk, Fahru sudah 15 kg padahal dia baru 2 tahun 1 bulan. Pipinya penuh dan matanya bening bersih dan lebar. Jika dia tertawa, Fahru punya lesung pipit yang dalam membuatnya sangat manis. Lain si Fahru lain si Annisa, makanan adalah sahabat setia Fahru. Yang paling disukai adalah kue kukus, kata uti sekali makan bisa habis empat potong, terlalu banyak untuk anak 2 tahun.</p>
<p>Annisa mencuci tangannya dengan sabun di kamar mandi dan membasahi mukanya dengan air. Setelah itu dia ambil handuk kecil untuk mengeringkan mukanya. Tangannya meraih remote control TV untuk dinyalakan. Fahru yang tadinya minta maem ke Uti memalingkan muka ke TV untuk menunggu gambar apa yang tampak. Dasar si Fahru, anak yang penuh penasaran, dia lari menuju TV dan dimatikan secara manual. Lalu dia menggoda kakaknya dengan kata, &#8220;ohooo ohooo&#8230;&#8221; sambil tertawa kecil. &#8220;Jangan deeeeekkk.. !&#8221; kata Annisa sedikit tinggi. Uti yang menyiapkan minum Annisa lalu menengahi, &#8220;Eh, sudah nonton TV nya nanti aja sekarang maem dulu, sini dek Fahru juga maem&#8221;, sapanya sabar.</p>
<p>Makan siang dirumah itu dilewati dengan penuh keceriaan. Langit warna biru cerah itu telah menjadi layar yang terkembang untuk tumbuhnya anak anak jaman masa kini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=440&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/05/12/langit-biru-dan-anak-jaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menilik Pariwisata Way Kambas</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/menilik-pariwisata-way-kambas/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/menilik-pariwisata-way-kambas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 04:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Taman Nasional Way Kambas diumumkan/dinyatakan oleh Menteri Pertanian, pada tahun 1982. Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK. No. 14/Menhut-II/1989 dengan luas 130.000 ha, kemudian ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 670/Kpts-II/1999 dengan luas 125.621,3 hektar. Taman Nasional Way Kambas secara administratif pemerintahan terletak &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/menilik-pariwisata-way-kambas/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=437&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Taman Nasional Way Kambas diumumkan/dinyatakan oleh Menteri Pertanian, pada tahun 1982. Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK. No. 14/Menhut-II/1989 dengan luas 130.000 ha, kemudian ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 670/Kpts-II/1999 dengan luas 125.621,3 hektar. Taman Nasional Way Kambas secara administratif pemerintahan terletak di Kecamatan Way Jepara, Labuan Meringgai, Sukadana, Purbolinggo, Rumbia dan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Letak geografis 4°37’ &#8211; 5°15’ LS, 106°32’ &#8211; 106°52’ BT. Dengan ketinggian tempat 0 &#8211; 60 m dpl. Temperatur Udara 28° &#8211; 37° C dan curah hujan 2500 &#8211; 3.000 mm/tahun.</p>
<p><strong>Potensi Flora dan Fauna</strong><strong></strong></p>
<p>Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Kawasan ini terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar dan hutan payau/pantai dengan jenis floranya yaitu: Api-api <em>(Avicenia marina)</em>, Pidada <em>(Sonneratia sp.)</em>, Nipah <em>(Nypa fructicans)</em>, gelam <em>(Melaleuca leucadendron)</em>, Salam <em>(Eugenia polyantha)</em>, Rawang <em>(Glocchidion boornensis)</em>, Ketapang <em>(Terminalia cattapa)</em>, Cemara Laut <em>(Casuarina equisetifolia)</em>, Pandan <em>(Pandanus sp.)</em>, Puspa <em>(Schima walichii)</em>, Meranti <em>(Shorea sp.)</em>, Minyak <em>(Diptorecapus gracilis)</em>, Merbau (<em>Instsia sp</em>.), Pulai (<em>Alstonia angustiloba</em>), Bayur (<em>Pterospermum javanicum</em>), Keruing (<em>Dipterocarpus sp</em>.), Laban (<em>Vitex pubescens</em>) dan lain-lain.</p>
<p><span id="more-437"></span></p>
<p>Taman Nasional Way Kambas memiliki 50 jenis mamalia diantaranya Badak Sumatera <em>(Dicerorhinus sumatrensis)</em>, Gajah Sumatera <em>(Elephas maximus)</em>, Harimau Sumatera <em>(Panthera tigris sumatrensis), </em>Tapir<em> (Tapirus indicus)</em>, Beruang madu (<em>Helarctos malayanus</em>), Anjing hutan (<em>Cuon alpinus</em>), Rusa (<em>Cervus unicolor</em>), Ayam hutan (<em>Gallus gallus</em>), Rangkong (<em>Buceros sp.</em>), Owa <em>(Hylobates moloch)</em>, Lutung Merah <em>(Presbytis rubicunda)</em>, Siamang <em>(Hylobates syndactylus)</em>. Terdapat 406 jenis burung diantaranya bebek hutan (<em>Cairina scutulata</em>), bangau sandang lawe (<em>Ciconia episcopus stormi</em>), bangau tong-tong (<em>Leptoptilos javanicus</em>), sempidan biru (<em>Lophura ignita</em>), kuau (<em>Argusianus argus argus</em>), pecuk ular (<em>Anhinga melanogaster</em>); berbagai jenis reptilia, amfibia, ikan, dan insekta.</p>
<p>Di taman nasional ini  wisatawan dapat menikmati atraksi gajah yang sudah terlatih. Seperti atraksi gajah menari, sampai atraksi gajah dengan iringan musik, sepak bola gajah yang cukup popular di kalangan wisatawan lokal, mengalungkan bunga, berjabat tangan, dan berenang. Wisatawan juga dapat menunggang gajah. Selain pusat latihan gajah, Taman Nasional Way Kambas memiliki Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang merupakan satu-satunya tempat pengembangbiakan satwa liar badak Sumatera di Indonesia. Bahkan SRS merupakan satu-satunya lokasi tempat pengembangbiakan badak Sumatera secara semi alami di Asia atau mungkin dunia. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi antara lain:</p>
<ul>
<li><strong>Pusat Latihan Gajah (PLG) Karangsari</strong>, gajah-gajah liar yang dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) terletak 9 Km dari pintu gerbang Plang Ijo didirikan pada tahun 1985 dan telah menghasilkan sekitar 290 ekor gajah yang terlatih. Gajah-gajah dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu dan bajak sawah. Pada Pusat Latihan Gajah tersebut dapat disaksikan Pelatih mendidik dan melatih gajah liar, menyaksikan atraksi gajah yang sangat luar biasa (main bola, menari, berjabat tangan, hormat, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan masih banyak atraksi lainnya).</li>
<li><strong>Suaka Rhino Sumatera</strong>, Selain pusat latihan gajah, taman nasional way kambas memiliki Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang merupakan satu-satunya tempat pengembangbiakan satwa liar badak Sumatera di Indonesia. Bahkan SRS merupakan satu-satunya lokasi tempat pengembang biakan badak Sumatera secara semi alami di Asia atau mungkin dunia. Namun kunjungan wisata alam di SRS sangat dibatasi karena untuk kepetingan penelitian dan pengembangan badak Sumatera.</li>
<li><strong>Way Kambas</strong>, untuk kegiatan berkemah.</li>
<li><strong>Way Kanan</strong>, untuk kegiatan Penelitian dan penangkaran Badak Sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti.</li>
<li><strong>Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas</strong>, untuk kegiatan menyusuri sungai Way Kanan, pengamatan satwa (bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran), pdang rumput dan hutan mangrove.</li>
<li><strong>Atraksi budaya di luar taman nasional: </strong>festival Krakatau pada bulan Juli di Bandar Lampung.</li>
</ul>
<p><span class="Apple-style-span" style="font-size:20px;font-weight:bold;">Transportasi</span></p>
<p>Untuk mencapai obyek wisata unggulan tidak sulit. Ke Way Kambas untuk melihat gajah jinak dan pintar main bola misalnya, tersedia jaringan transportasi yang cukup memadai. Way Kambas yang terletak 135 km utara Bandarlampung, bisa dicapai dua jam perjalanan melalui bus umum. Setiap saat kendaraan selalu ada, dan ongkos dari Bandarlampung ke sana hanya sekitar Rp 10.000.Transportasi di daerah tujuan wisata harus memiliki fasilitas yang berkualitas, pelayanan yang sempurna dan keramahtamahan. Mengemas ketiga hal yang telah dijelaskan diatas kurang lengkap bila tidak tersedia jasa pendukung lain, seperti restoran, bengkel, SPBU, katering, tempat hiburan dan sejenisnya. Untuk mencapai lokasi taman nasional Way Kambas dapat ditempuh dengan:</p>
<ul>
<li>Bandarlampung &#8211; Metro &#8211; Way Jepara (112 Km), menggunakan mobil <span style="text-decoration:underline;">+</span> 2 jam.</li>
<li>Branti &#8211; Metro &#8211; Way Jepara (100 Km), menggunakan mobil <span style="text-decoration:underline;">+</span> 1.30 jam.</li>
<li>Bakauheni &#8211; Panjang &#8211; Sribawono &#8211; Way Jepara (170 Km), menggunakan mobil <span style="text-decoration:underline;">+</span> 3 jam.</li>
<li>Bakauheni &#8211; Labuan Meringgai &#8211; Way Kambas, menggunakan mobil <span style="text-decoration:underline;">+</span> 2jam.</li>
<li>Way Jepara &#8211; Pusat Latihan Gajah, menggunakan mobil <span style="text-decoration:underline;">+</span> 20 menit.</li>
<li>Jakarta &#8211; Labuan Meringgai (kapal motor) dilanjutkan dengan kendaraan darat ke Way Jepara <span style="text-decoration:underline;">+</span> 45 menit.</li>
</ul>
<h2>Akomodasi</h2>
<p>Way Kanan adalah termasuk dalam wilayah Taman Nasional Way Kambas dengan lokasi 13 km dari Pintu Gerbang (Plang Ijo). Selain sebagai tempat istirahat, di sepanjang jalan itu pengunjung yang beruntung akan dapat melihat satwa liar yang berkeliaran atau melintas di jalan. Way Kanan adalah surga bagi pencinta alam dikarenakan flora dan faunanya.</p>
<h2>Fasilitas</h2>
<p>Di Taman Nasional Way Kambas juga tersedia kios makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta tentunya souvenir sebagai pertanda petualangan kita di Way Kambas. Fasilitas lain yang tersedia yaitu: musholla, parkir, pesanggrahan, arena atraksi, kios makanan dan cinderamata serta fasiitas umum lainnya.</p>
<p>Fasilitas toilet umum juga tersedia di dekat daerah arena atraksi Gajah dan juga tersedia di sekitar pintu keluar/pintu masuk. Sehingga perlu ditingkatkan lagi pelayanan fasilitas ini di beberapa lokasi termasuk di sepanjang perjalanan mengelilingi Way Kambas. Dengan itu para wisatawan tidak akan mengalami kesulitan mencari toilet umum. Selain jumlahnya yang masih terbatas, kebersihan toilet yang tersedia juga harus diperhatikan, karena hal tersebut akan menadi salah satu faktor kenyamanan pengunjung di lokasi wisata.</p>
<h2>Infrastruktur</h2>
<p>Infrastruktur yang ada di dalam Taman Nasional Way Kambas dapat dikatakan sudah mencukupi, akan tetapi pengembangan masih perlu dilakukan. Ketersediaan lahan parkir dihalaman depan arena pertunjukan atraksi gajah sudah disiapkan dengan baik. Demikian juga dengan infrastruktur yang disediakan bagi para penjual souvenir dan oleh-oleh yang mulai ditata sesuai dengan jalur datangnya wisatawan dan keluarnya wisatawan. Infrastrukur lainya adalah sistem tiket pengunjung yang sudah dikelola oleh satu pihak di depan pintu masuk. Pengembangan sarana dan prasarana objek dan daya tarik wisata Taman Nasional Way Kambas yang memerlukan peran serta berbagai instansi yang terkait, baik dunia usaha dan masyarakat dengan menciptakan produk untuk kebutuhan wisatawan, seperti menyediakan souvenir-souvenir yang lebih bervariasi, makanan dan minuman, akomodasi, sehingga peranan masyarakat sebagai tuan rumah dalam menerima wisatawan sangatlah penting dalam meningkatkan arus kunjungan ke Taman Nasional ini.Disini perlu investasi bagi mereka yang peduli tentang pariwisata, misalnya biro perjalan, akomodasi, dan atraksi-atraksi kebudayaan yang ada di sekitar objek Taman Nasional Way Kambas, dalam menyambut kedatangan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.</p>
<p>Thanks to: Moh. Isnaini Sadali</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=437&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/menilik-pariwisata-way-kambas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moscow di Awal Musim Semi</title>
		<link>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/moscow-di-awal-musim-semi/</link>
		<comments>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/moscow-di-awal-musim-semi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 03:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erdha</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erdha.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Erda Rin Saputra Mestinya sudah menginjak senja saat aku tiba di bandara Denodedovo Moscow, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 sore. Namun aku lupa bahwa senja di Moscow bisa sampai jam 09.00 malam baru gelap. Badanku yang tertekuk 18 jam &#8230; <a href="http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/moscow-di-awal-musim-semi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=432&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">Erda Rin Saputra</p>
<p>Mestinya sudah menginjak senja saat aku tiba di bandara Denodedovo Moscow, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 sore. Namun aku lupa bahwa senja di Moscow bisa sampai jam 09.00 malam baru gelap. Badanku yang tertekuk 18 jam rasanya ingin sekali segera bertemu dengan permukaan datar untuk sekedar merebahkan badan. Ya, 18 jam perjalanan dari Jakarta Moscow. Aku singgah di Dubai untuk transit dan kembali melanjutkan perjalanan 9 jam selanjutnya ke Moscow. Sangat melelahkan, apalagi ditambah bonus 10 menit karena ketika akan mendarat di bandara ternyata masih menunggu antri, jadi pilot mengajak kami keliling ke country side untuk menunggu antrian landing. Begitu kami bisa landing dengan sempurna, sebagian penumpang bertepuk tangan memberikan support kepada pilot. Ini baru pertama kalinya dalam perjalananku keliling dunia ada penumpang yang kompak banget bertepuk tangan. Akhirnya aku juga ikut ikutan lah bertepuk tangan.</p>
<p>Saat tiba di Moscow udara cukup bersahabat ukuran orang Moscow (8 C), tapi untukku jangan tanya, langsung terasa merembes hingga ke bawah kulit dinginnya. Apalagi aku dan temanku harus menunggu beberapa teman lain dalam satu rombongan yang juga peserta conference.</p>
<p>Kupandangi langit kota itu, biru namun sendu. Matahari tak tampak juga meskipun aku sudah berputar putar menghadap langit. Meski tak tampak, sinarnya masih membuat suasana terang.</p>
<p><span id="more-432"></span></p>
<p>Seorang kawan dari India, Ms. Ambika, menyapa kami dengan ramah. &#8220;Hi.. are you IFP Fellow?&#8221; katanya. Temanku menjawab; &#8220;Yes, we are from Indonesia, are you a fellow too?&#8221; Sejurus kami pun terasa sudah lama kenal dan mulai saling akrab. Kami diskusikan untuk menukar uang dalam RUBEL (mata uang rusia). Eh, tapi masalah baru muncul karena ternyata sopir taksi yang menjemput kami tidak bisa berbahasa Inggris. Ambia terus mencoba bicara dengan sopir taksi berambut cepak itu, dengan bahasa Inggris. Bahkan Ambika juga mengeluarkan kuda kudanya alias bahasa isarat. Si sopir Rusia ini belum juga mengerti. Dia juga menjawab dengan bahasanya sendiri. Aduh.. kalau begini sampai besok pagi juga kita gak akan paham.</p>
<p>Aku coba membantu Ambika dengan berbagai bahasa isarat. Aku gesek gesek jadi tanganku untuk menunjukkan &#8220;uang&#8221;, lalu aku tunjuk tunjuk ke arah money changer, lalu aku tunjuk dia kemudian tunjuk ke bawah. Untuk menyuruhnya tetap berjaga disini. Ahaiii.. ternyata berhasil juga bahasa monyetku ini. Dia akhirnya mengerti, kami pun dengan sedikit khawatir berjalan menuju terminal utama untuk mencari money changer.</p>
<p>Setelah berkeliling beberapa menit kami tidak menemukan juga money changer. Kami memutuskan untuk bertanya. Aku mendatangi salah satu counter yang bertuliskan dalam bahasa Inggris &#8220;costumer service&#8221;, kupikir mereka akan bisa membantu kami. &#8220;Excuse me.., do you know where is the money changer?&#8221; tanyaku dengan suara keras karena bandara cukup bising. Ternyata jawabnya mengecewakan, bukan karena jawabannya namun karena responnya. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka hanya melihatku dan berkali kali menyilangkan tangan tanda NO. Kuulang lagi pertanyaanku, tapi tetap sama saja. Uh.. ternyata mereka juga tidak bisa bahasa Inggris. Jengkel juga rasanya, kan tulisannya &#8220;costumer service&#8221; kenapa penjaganya gak bisa bahasa Inggris.</p>
<p>Ambika dan Piet tertawa, namun tak lama. Mata mereka segera berkeliling kembali ke bandara sibuk itu. Akhirnya ketemu juga, kami bertiga menuju ke money changer. Sayang sekali, mereka tidak menerima RUPEE mata uang India, sehingga Ambika tidak bisa menukar menjadi Rubel. Mereka hanya menerima USD. Oh ternyata, dalam pikirku, katanya bermusuhan kok mata uangnya setia amat. Kasihan juga Ambika, aku lalu menukar USD 50 untuk jaga-jaga. Dengan USD 50 itu aku mendapat kurang lebih RB 1280, cukup lah untuk makan dan jajan selama dua hari.</p>
<p>Setelah itu kami kembali ke tempat mangkal sopir taksi itu. Dia masih setia berdiri ditempat semula dengan memegang kertas laminating bergambar logo armada taksinya. Di tangan kirinya memegang satu grendel kunci. Usianya kira kira 40 an, dan berwajah lembut tidak seperti kebanyakan orang Rusia yang terlihat di bandara itu. Dia tidak begitu tinggi, ya kira kira 170 m lah. Mungkin dia seorang ayah dengan anak anak perempuan yang memanjakannya, itu hanya perkiraanku saja. Setelah kurang lebih 30 menit kami menunggu, seorang teman menyapa ramah. Kami kemudian berkenalan dan sekali lagi langsung akrab seperti sudah lama kenal.</p>
<p>Sopir taksi lembut itu kemudian mengajak kami menuju pintu keluar, tentu masih dengan bahasa monyet yang sama. Kami seperti itik yang berjalan satu persatu mengikuti sopir taksi, kecuali Bella, karena dia harus menggunakan kursi roda.</p>
<p>Kami bercerita panjang lebar dalam perjalanan dari Bandara Denodedovo ke pusat kota Moscow. Bella adalah ahli biologi. Dia fokus pada bidang marine biology, saat ini dia telah memiliki satu laboratorium sendiri di salah satu pantai di Filipina. Selain itu, Bella juga seorang penulis khususnya untuk jurnal dan artikel di Filipina. Ambika juga memperkenalkan dirinya sebagai konsultan lingkungan di daerah Kapur India. Ambika lebih banyak menghabiskan waktu di hutan katanya, untuk mengawasi satwa dilindungi disana. Mendengar mereka bercerita dan menyampaikan aktivitas masing masing, motivasiku terpompa.</p>
<p>Pembicaraan kami mulai ngawur setelah 30 menit taksi yang lebih mirip mobil karimun di Indonesia ini melaju memasuki dereta getho atau rumah susun yang tinggi dan panjang. Rata rata 10 – 15 lantai. Tidak semuanya terlihat rapi, bahkan lebih tepatnya kumuh, ukuran Rusia. Penghuninya banyak yang menjemur baju di cendela-cendela rusun itu. Warna cat yang sudah tidak baru lagi, beberapa bahkan sudah berjamur menambah kesan kotor di getho itu.</p>
<p>&#8220;You know what, I think I will open the bussiness here?&#8221; kata Bella. Aku, Piet dan Ambika menunggu kalimat selanjutnya. &#8220;Car wash&#8221; kata Bella sambil tertawa sendiri geli dan disambut tawa oleh kami bertiga kecuali Pak Sopir. Oh&#8230; iya, baru sadar kalau sebagian besar mobil di jalanan itu kotor minta ampun. Berbagai merek mobil ada disana, BMW, Suzuki, Daihatsu, Honda, sampai merek merek aneh yang belum pernah dengar sebelumnya. Mungkin karena debu dan hujan yang membuat pengemudi malas untuk mencuci mobilnya.</p>
<p>Piet yang tadinya merekam perjalanan itu nampaknya sudah pada titik nadir untuk tidur. Eittt&#8230; cuma berselang 30 menit, dia sudah bermimpi alias tidur.</p>
<p>Meskipun aku ngantuk seribu watt, tetap saja gak bisa memejamkan mata. Rasanya ingin mengabadikan semua yang aku lihat di Moscow yang singkat itu. Jalan utama kota Moscow dibuat sangat luas, untuk one way ada 4 – 6 jalur, sehingga jika two ways maka ada 8-12 jalur. Bayangkan luasnya. Mestinya Indonesia juga buat jalur yang banyak dan jalan yang luas untuk menghindari kemacetan. Kalau aku lihat di jalan utama, mereka menempatkan taman di jalan kurang lebih 10 – 15 meter lebarnya. Terdapat tanaman rendah (bunga) dan pohon tinggi). Antara taman dan jalan aspal terdapat trotoar untuk berjalan pejalan kaki. Berselang setelah taman, baru boleh didirikan bangunan. Sehingga taman tersebut menjadi pereduksi kebisingan dan polusi dari asap kendaraan di jalan. Keren juga penataan cara demikian pikirku.</p>
<p><a href="http://erdha.files.wordpress.com/2011/05/cimg2574.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-435" title="Jalanan kota Moscow" src="http://erdha.files.wordpress.com/2011/05/cimg2574.jpg?w=200&#038;h=152" alt="" width="200" height="152" /></a></p>
<p>Masuklah kami pada pusat kota Moscow. Kami disambut bangunan megah dengan kubah biru. Bagi orang Indonesia, bangunan ini pasti disangka mesjid, karena aku pun juga menyangka demikian. Namun begitu melihat ujungnya, eh ternyata gereja. So nice&#8230; arsitektur yang menawan khas Rusia dengan penuh filosofi dalam setiap ukiran dan relungnya.</p>
<p>Holiday Inn adalah hotel tempat kami menginap. Panitia telah menyediakan akomodasi tersebut untuk kami. Ahhhhh&#8230;. rasanya pengen segera tidurrrrrr&#8230;. View dikamarku tidak terlalu bagus, terlihat dari atas tetangga sebelah hotel sedang membangun. Ada galian raksasa sedalam lebih dari 10 meter dan luasnya mungkin 5000 meter, nampaknya mereka sedang membuat pondasi untuk gedung tinggi nantinya.</p>
<p>Kucoba hidupkan heatter untuk menghangatkan ruangan. Aku rapikan dan unpack barang barangku, ku ambil satu daster biru kesayanganku untuk ganti setelah mandi. Rasanya nyaman sekali mandi berendam di kamar mandi hotel berbintang itu. Kamar mandi yang didesain standar hotel bintang. Shampoo dan Sabun cair yang dimasukkan dalam botol kecil ditata rapi didepan cermin lebar itu. Sebelahnya terdapat penutup kepala, sikat gigi dan odol kecil, sisir dan dua buah handuk kecil putih bersih yang dilipat rapi.</p>
<p>Keluar dari kamar mandi, tiba tiba diserang dingin yang hebat. Oh&#8230; ternyata hitter di kamarku tidak berfungsi. Aku coba utak atik, tetap saja tidak bisa. Kuputuskan untuk menelpon pihak reseptionis hotel. &#8220;Hi, I am in room 267, the hitter is not working, could you please send somebody to fix it&#8221;.. kataku, eh&#8230; ternyata dijawab dengan bahasa Rusia yang aku tidak tau artinya. &#8220;In English Please&#8221; kataku meminta. Perempuan di ujung telpon itu kemudian memberikan kepada orang lain. Aih ternyata bahasa inggris memang tidak banyak dikuasai oleh staff di hotel itu.</p>
<p>Beberapa menit sesudah aku telpon, suara bel berbunyi. Dengan berjalan malas karena mantel bulu, kaos kaki dan baju rangkap tiga aku pakai untuk menghalau dingin. Dua orang lelaki setengah baya mengatakan sesuatu menggunakan bahasa Rusia&#8230;. Aihhhh lagi lagi bahasa monyetku harus ku keluarkan. Si Bapak yang lebih sintal badannya mengatakan sesuatu, ku tebak saja bahwa dia bilang &#8220;Maaf, bisa kah saya masuk untuk membetulkan heater&#8221;&#8230; dengan tingkah seperti monyet itulah aku katakan &#8220;Ya.. ya&#8230; come in, see the heater is broken&#8221;. Sambil aku gerakkan badanku untuk menunjukkan dingin. Hihiiiii geli rasanya jika inget. Dua orang lelaki itu mengeluarkan perlengkapannya yang sebenarnya lebih mirip seperti perlengkapan bengkel. Tadinya aku sedikit risau kalau kalau mereka mau mengobrak abrik heater di kamarku, berisik dan bakalan gak bisa tidur.</p>
<p>Lalu si bapak satunya yang lebih tinggi mengatakan sesuatu. Aiiihhh ngomong apa nih bapak. Diulang ulangnya kata kata itu, meski minum bunga tuju rupa juga aku gak bakal tau. Aku angguk angguk saja dan bilang ok ok, karena si bapak sudah mulai gak sabar. Lalu mereka berjalan menuju ke pintu; aku tebak aja mereka tadi pasti bilang &#8220;Kami cek dulu pusatnya, nanti kami ke sini lagi&#8221;&#8230;. jreng jreng.. lalu kubilang &#8220;Spaci ba&#8221; untuk ucapan terimakasih bahasa Rusia.</p>
<p>Tak ada gunanya dua orang datang itu, karena sudah satu jam belum juga terasa kehangatan ruanganku. Kubuat satu cangkir teh hangat, dengan merek Greedfield yang Flying Dragon yang ternyata adalah buatan London UK. Lumayan bisa menghalau dingin sebentar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/erdha.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/erdha.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=erdha.wordpress.com&amp;blog=1309306&amp;post=432&amp;subd=erdha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erdha.wordpress.com/2011/05/11/moscow-di-awal-musim-semi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc43cf9cebcc99443af2f99d56e6d50c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">erdha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://erdha.files.wordpress.com/2011/05/cimg2574.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Jalanan kota Moscow</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
