Kembang Api dan Nasionalisme

Posted on Updated on

Melihat kembang api yang begitu besarnya memecah kegelapan langit membuat merasup raja takjub sejenak. Takjub itu ternyata memang hanya sejenak. Setelah kemudian kembang api berangsur turun dan jatuh ke tanah dengan warna hitam sisa terbakar. Ya.. hari itu independent day Amerika Serikat, tepat 4 Juli 2007, saat saya berkesempatan untuk menyaksikan pesta kembang api di Honolulu Hawaii US. Meskipun saya hanya mampu menyaksikan dari balik jendela dormitory.

Independent Day yang dirayakan Amerika dengan kembang api ini bukanlah hal yang luar biasa. Menurut beberapa mahasiswa yang telah bertahun tahun tinggal di US, setiap tahunnya selalu diadakan pesta kembang api yang demikian untuk merayakan kemerdekaan Amerika. Saya terbayang berapa juta dolar lembaran kertas yang terbakar oleh kilatan yang hanya beberapa detik itu. Saya yakin uang yang dipakai itu cukup untuk memberikan masing masing 100 kg beras bagi masyarakat di pedalaman Yahukimo Papua selama lebih dari lima tahun yang beberapa waktu lalu terancam meninggal karena kelaparan.

Di Indonesia, perayaan kemerdekaan sebenarnya tak kalah menarik. Meski dengan lomba lomba sederhana di tingkat RT (Rukun Tetangga), pentas seni se kelurahan atau acara potong tumpeng dengan Pak Lurah setempat.

Persoalan yang ingin saya lihat adalah tentang hubungan antara peringatan kemerdekaan dan nasionalisme. Adakah memang sebuah tesis yang dengan tegas mengatakan bahwa semakin heboh dan meriah sebuah perayaan kemerdekaan negara di adakan maka semakin tinggi pula tingkat nasionalisme suatu bangsa. Nah, ini yang menjadi tanda tanya yang besar.

Ada seorang wanita berumur warga negara amerika yang selalu membanggakan kewarganegaraannya. Usianya kira kira hampir seusia kemerdekaan Indonesia. Karena kami tinggal dalam satu dormitory, maka saya dapat melihat betapa semua pernak dan perniknya berlambangkan US. Mulai dari mug tempat minum, mangkuk, bendera, dll. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu disapa dengan hangat dan memulai pembicaraan tentang betapa indahnya Amerika, betapa hebatnya Amerika. Pernah suatu ketika seorang teman saya membuka kulkas dan kesulitan mengeluarkan sayur dari kulkas, lalu dia bertanya dengan keras “Don’t you know refrigerator in your country”. Wah.. wah.. teman saya yang tangannya sudah dingin karena sejak tadi berada di kulkas jadi panas membara. Begitu rendahnya dia melihat bangsa Indonesia sehingga dia berfikir kulkas saja tidak tahu. Ada pula cerita yang lebih menggelikan namun pula mengenaskan. Seorang teman kami Indonesia, ketika berkenalan dengan seorang warga US, dia bertanya “Indonesia?” Are you live on the trees?Ini betul betul penghinaan. Apa dia pikir kita ini monyet?

Memang hanya percakapan kecil. Terkadang kami pun menertawakan diri sendiri karena geli. Namun kemudian timbul rasa miris yang berkepanjangan. Seburuk apakah wajah negeri kita ini? Saya kemudian mencoba mencari tahu sejauh mana pendapat teman teman internasional saya tentang negaranya sendiri. Pertanyaan kemudian kami ajukan kepada banyak teman teman internasional yang sama sama sekolah di University of Hawaii Manoa, tak banyak dari mereka yang mampu bicara dengan obyektif tentang negaranya. Banyak diantara mereka yang cenderung menutup diri untuk berbicara tentang apa yang terjadi dengan negaranya. Salah seorang teman kami menemukan fakta bahwa ada seorang teman Korea yang pernah bercerita tentang keburukan negaranya, lalu kemudian dia dikucilkan oleh sesama teman Korea.

Berbeda dengan pelajar Indonesia sendiri. Mereka fear akan kekurangan dan kelebihanya. Bahkan seorang teman saya jurnalis, justru bilang kekurangan Indonesia itu cuma satu yaitu tidak punya kelebihan. Tentu saja statemen itu tidak begitu saja keluar. Statement ini keluar setelah diskusi panjang yang membahas berbagai aspek kehidupan bangsa yang kian hari justru semakin tidak jelas. Dalam setiap diskusi yang membahas tentang aspek aspek baik sosial, politik dan ekonomi Indonesia, selalu saja ditemukan titik titik kekurangan. Pelajar Indonesia yang sekolah di luar negeri justru mampu melihat lebih detil persoalan ini meskipun posisi mereka berada di luar. Mereka mampu menganalisis satu demi satu apa yang sebenarnya yang terjadi dengan bangsa ini, dan apa yang diperlukan oleh bangsa ini. Dengan kemampuan akademik mereka pada bidang masing masing, terkadang dalam diskusi muncul jawaban jawaban kenapa Indonesia bisa timpang begitu miringnya. Kendati demikian mereka bukanlah orang orang yang berada sistem pengambil keputusan. Apa yang mereka diskusikan hanyalah angin lalu dan akan hilang di secangkir kopi panas. Kembali memang itu sebuah opini, namun banyak hal yang dimulai dari sebuah opini.

Kami memang tidak membawa mug yang bergambar bendera Indonesia. Kami memang tidak membawa kaos yang berlogo garuda pancasila. Kami memang tidak membawa Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila saat datang ke negeri Hawaii ini. Kami juga tidak hafal berapa jumlah pulau yang kami punya. Kami memang tidak bisa bilang bahwa negeri kami maju. Tetapi hati kami ada di sana, jiwa kami ada di sana, cita cita kami ada disana. Hanya satu cita takkan padam demi kemajuan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s