Dimana Tempat Bermainku

Posted on Updated on

Penataan kota saat ini telah menorehkan kegetiran bagi  anak anak. Bagaimana tidak? Telah banyak tempat yang direbut dengan paksa oleh kepentingan uang dan raksasa yang dikenal dengan “pembangunan”. Tanah lapang dan pohon pohon rindang di permukiman berubah menjadi si angkuh dengan wajah kotak kotak dan berpagar tinggi. Perubahan raut muka kota, baik kota kecil maupun kota menengah,dimana tidak lagi menyediakan ruang bagi anak anak untuk bermain, sesungguhnya adalah mematikan generasi manusia secara pelan pelan.


Saya masih ingat, ketika seorang teman saya pulang dari luar negeri setelah lebih dari lima tahun meninggalkan kampung, pertanyaan pertama yang dia ajukan pada saya adalah, ”Dimana pohon nangka yang dulu? Saya jadi bingung menjawabnya. Pohon nangka itu jangankan buahnya, sisa humusnya saja mungkin sudah tidak nampak, berganti dengan perkantoran luas dan parkir mobil. Dahulu saya dan teman teman sering bermain di bawah pohon nangka itu ketika terang bulan, karena saat itu belum ada listrik yang masuk ke kampung saya di pinggiran kota kecil di Bantul, Yogyakarta. Hal inilah yang membuat saya berfikir, dimanakah tempat bermain bagi anak anak kecil sekarang, sedangkan semua tempat sudah tertutup oleh karpet keras yang disebut aspal dan konblok.
Kurangnya ruang bermain bagi anak mungkin juga menjadi pengaruh bagi bergesernya popularitas permainan tradisional. Padahal sebenarnya permainan anak tradisional lebih efektif untuk transfer ilmu, dan melatih mereka pada kepedulian, toleransi, kerjasama dan persatuan. Menurut Sutarto (2007), dalam permainan anak-anak, selain memiliki aspek rekreatif juga kekeluargaan, gotong-royong, dan toleransi. Saat ini permainan tradisional anak sudah tidak lagi dimainkan seperti dulu. Mereka ternyata lebih senang untuk menghabiskan waktu berjam jam di depan video game, atau play station yang menjamur di sudut kampung. Selain memakan waktu yang banyak, mahal dan tidak mendidik, permainan video game semacam itu ternyata membuat banyak anak yang mengalami gangguan kesehatan. Tak jarang ditemui anak anak yang masih duduk di sekolah dasar di perkotaan mengalami obesitas karena tidak banyak bergerak, juga tidak jarang dari anak anak yang terpaksa memakai kacamata minus karena matanya telah terganggu akibat terlalu intensnya di layar televisi atau computer. Kita tidak bisa pungkiri bahwa kebutuhan ruang (space) bermain untuk anak merupakan sesuatu yang mutlak.
Coba kita bandingkan dengan permainan tradisional berikut. Untuk memberikan gambaran permainan itu maka mari simak sedikit dialog dalam permainan Ular Naga ini. Permainannya adalah, terdapat satu orang ibu dan punya banyak anak yang berpelukan memanjang dengan sang ibu, anak yang lebih besar lebih dekat dengan ibunya, dan yang lebih muda dibarisan belakang. Kemudian sang naga datang ingin mengambil dan memakan anaknya. Terjadilah tawar menawar antara si raksasa dengan ibu. Raksasa bilang “Nini…nini……” (nenek tua)…….”Aku njaluk anakmu” (aku minta anakmu), lalu si Ibu bilang “Ora iso” (Tidak akan pernah kuberi). Raksasa memaksa “Aku ngomong apek apek, kowe ora lilo, nek ono anakmu tak rebut” (Saya sudah bicara baik baik, tapi kamu tidak memberi, maka aku rebut anakmu dengan paksa). Lalu sang Ibu berteriak “Aku ora wedi karo kowe, ayo perang nganti patiku lan patimu” (Aku tidak takut denganmu aku siap perang sampai mati). Lalu terjadi peperangan kecil, ular naga tersebut berlari mengambil anak yang paling belakang, anak yg paling belakang harus berpegang pada kakaknya supaya tidak dimakan oleh raksasa itu, karena anak yg paling kecil ini posisinya paling rawan. Sang Ibu berjuang sekuat tenaga terus menerus melindungi sang anak.
Permainan anak anak Ular Naga ini, jika kita tilik ternyata membawa banyak pelajaran. Disamping kekompakan dalam tim saat menghadapi musuh si Ular Naga juga mengajarkan bahwa seorang ibu bagaimanapun juga akan melindungi anak anaknya dari bahaya. Permainan tradisional Ular Naga yang hanya dapat dimainkan ketika tersedia lahan yang luas dan mencukupi. Untuk memainkannya minimal diperlukan empat orang anak dan ruang kira kira 20 – 30 meter persegi. Permainan tradisional yang lain misalnya, “Jamuran” yang membutuhkan kurang lebih 50 m persegi untuk berlari melingkar dengan anggota minimal kira kira 4-5 orang, ada juga permainan “cublak cublak suweng”, gobak sodor, dsb.
Menurut Seto Mulyadi (2005) atau lebih dikenal Kak Seto , dunia anak-anak adalah dunia bermain, tumbuh berkembang secara psikologis. Dunia anak dunia meniru, sehingga memerlukan keteladanan bukan kekerasan. Bagaimana mereka bisa meniru jika yang dihadapi mereka setiap hari adalah video game dan MP3.
Ketika anak anak tidak mempunyai tempat untuk menyalurkan kreatifitasnya maka yang terjadi adalah kejenuhan. Kejenuhan ini dapat menjadi tekanan bagi mereka. Apalagi jika kemudian ditambah dengan tekanan lain, misalnya, tekanan ekonomi akibat kondisi keluarga, bobot pelajaran yang banyak, dan pengaruh media masa, maka bisa dibayangkan beratnya beban mereka. Perilaku yang muncul akibat tekanan tersebut dapat berupa keluar dari lingkungan semula dan menciptakan sebuah lingkungan baru yang sesuai keinginannya (Widianto, 2005). Maka tak jarang kita dengar beberapa bulan terakhir banyak anak anak yang bunuh diri hanya karena permasalahan kecil seperti SPP, uang jajan, tersinggung oleh guru, dll. Contoh lain, Malin, seorang anak jalanan berumur 13 tahun berasal dari Jakarta yang sering berkumpul dengan teman sebanyanya di perempatan Gondomanan Yogyakarta menyatakan bahwa “Saya bosan berada di rumah, tidak nyaman. Sejak kecil saya hanya ingin bebas kemana saja, dimana saja dan kapan saja tidak ada yang melarang”. Pernyataan Malin menunjukkan bahwa sesungguhnya munculnya anak jalanan bukan disebabkan oleh disfungsi orang dewasa dalam mengasuh namun juga anak memiliki kebebasan untuk berfikir dan bertindak dengan pola pikirnya. Berangkat dari kepolosan Malin, kita jadi mengerti bahwa mereka punya aspirasi, namun mereka tidak tahu bagaimana cara menyalurkan aspirasi atas ruang publik tersebut.
Inilah yang harus menjadi perhatian bersama. Saat ini kecenderungan wujud ruang kota di Indonesia  hanya dirancang mengikuti standar kenyamanan untuk orang dewasa saja. Sedangkan ruang anak seakan dibatasi hanya rumah, sekolah, dan berbagai fasilitas yang memang dikhususkan buat anak-anak seperti sanggar lukis, sanggar tari, atau istana bermain. Sudah saatnya anak anak mendapatkan ruang di perkotaan, karena bagaimanapun juga mereka punya hak atas ruang di muka bumi ini.
Bagaimana jika anak anak kita kemudian berdemo dengan spanduk spanduk lebar, dengan tangan tangan kecil mereka, seraya berkata “Dimana tempat bermainku?” layaknya orang dewasa berdemo.
Ditulis bersama: Wisnu Wisdantio, ST

Tulisan ini dimuat di Kabar Indonesia. www.kabarindonesia.com

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&dn=20070719174315

2 thoughts on “Dimana Tempat Bermainku

    Danoe said:
    September 29, 2007 pukul 8:15 am

    Saya tertarik dengan artikel dari mbak Erda. Saya cukup prihatin juga terhadap nasib permainan tradisional yang telah ditinggalkan oleh banyak anak-anak hanya karena kurangnya ruang public yang dapat menjamin keamanan, kenyamanan, ketenangan anak-anak tersebut dalam bermain.
    Saya dan teman saya saat ini sedang menyusun program kerja dimana program kerja tersebut adalah membudidayakan permainan tradisional karena menurut saya permainan tradisional tersebut merupakan salah satu ciri khas dari bangsa Indonesia sendiri selain seni dan budaya.
    Cara pembudidayaannya dapat berupa koleksi permainan tersebut secara nyata (dalam bentuk alat permainannya) maupun koleksi dalam bentuk foto maupun film.
    Saya mengajak mbak Erda untuk bergabung dalam program kerja ini. Apabila mbak Erda berminat, mbak Erda dapat kontak saya melalui email saya : duniaku_tersenyum@yahoo.com. Dari situ nanti saya akan jabarkan tujuan dari program kerja yang ingin kami capai.
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.

    erdha responded:
    November 9, 2007 pukul 10:45 pm

    Mas Danoe,
    Saya senang mendapat komentar dari Anda. Saya sedang berfikir untuk bisa bergabung dengan kegiatan Anda.
    Jika sempat silahkan mampir lagi ke blog ini dan berikan sedikit uraian tentang program Anda. Jika memang ada kesempatan untuk bergabung, InsyaALLAH saya coba.
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s