P.K.K? dan kematian

Posted on Updated on

PKK disini bukan perkumpulan ibu ibu yang ngumpul makan, ngrumpi lalu mengocok arisan. PKK disini artinya Pilih Karir or Keluarga? Wah.. wah … ini juga aga rumit untuk dijabarkan. Tetapi saya kira hal ini menarik untuk jadi pembicaraan sepanjang jaman.

Sebagai perempuan normal pasti mendambakan menjadi istri dan menjadi ibu yang baik. Ibu yang baik yang bisa berpatner dengan suami untuk merawat, menjaga dan membesarkan anak-anak. Bersama sama membangun rumah tangga, saling mengasihi dan mewujudkan kebahagiaan. Klasik memang, tapi itu pun tidak mudah diwujudkan. Berbagai cobaan pasti akan datang menggelombang menghantam tiap tiap bangunan keluarga itu. Ada yang kokoh dan tetap tegak dengan bersemenkan air mata dan pengorbanan, ada juga yang akhirnya berkeping dan lenyap di meja sidang perceraian.

Tidak mudah menjadi wanita. Setidaknya ini saya lihat dari kaca mata saya. Pada jaman ini wanita dituntut untuk sejajar dengan pria. Tuntutan itu kian menjadi besar karena penggagas itu juga adalah wanita sendiri. Sebelum Kartini, era Kartini, higga kini wanita selalu menjadi posisi yang sulit untuk memilih.

Sedikit mengganggu di alam benak saya. Dimulai saat saya terhentak atas sebuah berita dari seorang teman sesama penerima beasiswa yang sedang menimba ilmu di ribuan kilo di daratan Eropa, ketika si kecil yang berusia satu tahun harus kembali diambil oleh SANG pemiliknya. Tragis dan sangat menyedihkan. Si kecil berusia kira kira 14 bulan tinggal bersama ayahanda dan neneknya di Ternate, sedangkan ibunya berada di Belanda untuk menyelesaikan masternya.

Pedih tak berujung. Sebagai ibu, penyesalan luar biasa tentu tak bisa dilukiskan dengan kata kata. Ketika Tuhan mempercayakan seorang anak kepadanya, justru dia menunaikan kewajiban lain yaitu menuntut ilmu. Tetapi, memang pilihan yang sulit, karena keduanya merupakan ibadah di mata ALLAH swt. Banyak kalangan yang “menghujat” alias menyalahkan, kok tega teganya bayi kecil itu ditinggal hanya untuk mendapat gelar S2. Tapi banyak juga yang berpendapat bahwa semua sudah di takdirkan yang diatas, meski si ibu ada di dekatnyapun, jika memang sudah harus meniggal maka meninggalah.

Peristiwa ini menjadi renungan bagi saya seharian penuh.

Belum juga saya menurunkan kepedihan di atas kepala saya, pada hari berikutnya, sebuah berita memaksa saya harus menitikkan air mata kembali. Seorang teman saya, Rino Cahyadi, harus berpulang dengan begitu cepatnya. Seorang bapak muda berusia 24 tahun. Yang menyayat hati saya adalah, saat mengingat bayi mungil 4 bulan yang ternyata harus menjadi yatim. Adalah Iswari, adik kelas saya di Fak.Geografi UGM, istri yang ditinggalkan Rino. Dengan kepergian Rino, tentunya Iswari harus mengemas semua rencana rencana hidup yang pernah di tebarkannya bersama Rino. Kini, dia harus memulai hidup baru sebagai single parent dengan putri kecilnya itu.

ALLAHUAKBAR…

Semua adalah kehendak ALLAH swt, tak satupun makhluk yang mampu menundanya. Pasti akan datang saatnya.

Yang saya pikirkan sebenarnya bukan pada yang si kecil Alif ataupun Pak Rino, biarlah dia tenang di sisiNYA. Namun, bagaimana dengan yang ditinggalkan? Dua kabar ini bergumul di kepala saya. Satu hal saya mendengar kepedihan ibu yang ditinggalkan anak kesayangan, dan kepedihan ibu yang ditinggalkan suami tercinta. Kenapa kedua perempuan ini harus menderita. Mbak Mar tentunya punya rencana, sesudah selesai S2 dia akan pulang dan membesarkan anaknya, juga Iswari dan Rino. Saya yakin kepergian Mbak Mar ke Belanda, menjadi sebuah pengorbanan demi masa depan yang lebih baik.

Gemuruh hujan deras di Manoa, memberiku keteduhan untuk mencari makna dari berita yang bersahutan itu.

Satu persatu saya coba menyusun puzzle puzle di ruang benak saya. Wanita seperti saya, dan seperti layaknya beberapa wanita lain, memiliki cita cita untuk bisa menuntut ilmu dan meniti karir. Bahkan apa yang saya lakukan sekarang adalah juga dalam rangka itu. Saya tidak tahu pasti sebenarnya kenapa saya bisa sampai di tengah tengah samudera pasifik ini.

Yang jelas, saya ingin mendapatkan ilmu dan pulang mengaplikasikannya untuk keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.

Tidak lagi perlu memikirkan terlalu dalam, itu membuat saya menghabiskan waktu seharian untuk merenung. Ini harus diakhiri, atau paling tidak ditunda, karena begitu banyak tugas dan paper yang harus saya selesaikan. Saya sematkan puzzle puzzle itu dilaci ruang benak saya. Saya tarik kesimpulan kecil, bahwa apapun rencana manusia, namun ALLAH juga yang menentukannya.

Malam harinya, saya mendengar nenek saya di Yogyakarta juga di panggil oleh TYME. Eyang Noto …., adik dari nenek telah berpulang 5 November 2007.

Innalillahiwainnailaihirajiun. 

“Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu”

“Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinna ba’dahu waghfirlanaa walahu.

Selamat jalan Alif, Rino dan Eyang Noto…….

2 thoughts on “P.K.K? dan kematian

    giantrangkong said:
    November 13, 2007 pukul 8:13 am

    So many choices to deal with, so little time go to through. Life is short thus make it meaningful…

    iswari said:
    Maret 20, 2008 pukul 3:57 am

    Assalamu’alaikum mbak erda..
    Mbak..aku baru saja membaca blok yang mbak erda tuliskan, mengharukan memang dan aku yakiin mbak erda tahu apa yang kurasakan sekarang ini..
    Aku tak kuasa menahan airmata ini mbak, ketika mengingatnya, ketika mengingat suamiku, ketika membaca semuanya…

    Makasih mbak untuk sejuta pengertian yang mbak erda tuliskan untukku, untuk suamiku, dan untuk putraku..maaf ada koreksi ya mbak..anakku laki-laki..

    Doakan saja untuk diriku, putraku, dan suamiku..agar semua diberikan kelancaran dan kekuatan. Agar semuanya diberikan keleluasaan hati dan agar semuanya diberikan keikhlasan..

    Tiada kata terindah selain ikhlas dan sabar mbak..bahwa dia adalah suamiku yang paling sempurna dimataku..

    Terima kasih mbak erda, terima kasih banyak. Semoga Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada mbak erda..

    ini emailku mbak… mudah2n kita bisa berkomunikasi lewat inetrent seperti dulu ketika aku berkerja sama dengan mbak erda.. iswari_alfauzan@yahoo.com.sg atau iswari_affa@yahoo.com

    Semoga Allah SWT membalas kebaikan mbak erda dengan balasan yang lebib baik dan mulia… mbak kalo boleh aku mengucapkan “semoga persaudaraan ini dikekalkan oleh Allah…”

    Best regard,
    iswari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s