Penanggulangan Kemiskinan, apakah idealisme bisa bertemu?

Posted on Updated on

Oleh: Rindrasih Erda

Kota Dumai adalah kota yang terletak pada posisi relatif satu jam dengan speed boad menuju Malaka Malaysia. Keberadaan Kota Dumai merupakan aset berharga bagi Provinsi Riau. Meskipun tidak memiliki cadangan minyak seperti Kota Duri dan sebagian Pekanbaru, namun posisi strategis Dumai sangat essensial bagi jalannya perdagangan dan arus barang.

Siapa yang sangka di Kota Dumai dengan sumbangan PDRB besar untuk provinsi, memiliki jumlah penduduk miskin yang tinggi. Jumlah penduduk miskin tersebut ternyata cukup terdistribusi normal di lima kecamatan yang ada, meskipun secara prosentase jumlahnya lebih banyak di kecamatan Dumai Timur karena memang daerah inilah yang paling padat. Bicara Dumai bicara minyak. Seperti batang rokok, Dumai adalah sabut filternya. Memang didalamnya tidak ada tembakau yang memberi kenikmatan, tetapi jika hanya tembakau saja, maka tidak akan nikmat merokok pastinya. (Eit.. saya tidak merokok loh… ini hanya analogi saja!!). Dumai telah menjadi daerah pengolah minyak bumi sejak beberapa decade lalu. Tidak hanya minyak bumi yang ada di Dumai ternyata industri pengolahan minyak sawit juga cukup ramai.

Daerah industri memang menyimpan berbagai persoalan. Saya mencoba mengingat Silicon Valley, sebuah daerah industri besar di mainland yang mampu menyerap ribuan pekerja. Secara persis data memang saya tidak tahu tetapi seharusnya di daerah industri setiap orang memiliki pekerjaan karena lapangan pekerjaan yang ada banyak tersedia. Artinya kebutuhan akan tenaga kerja di daerah industri mestinya lebih tinggi. Namun, hal tersebut tetap saja akan menemui ketimpangan apabila kemudian terjadi lonjakan supply tenaga kerja yang banyak. Aha… rupanya analisis sederhana ini betul adanya. Dumai menjadi incaran bagi lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) bahkan Sekolah Dasar untuk mencari pekerjaan. Tidak kurang dari lima ribu orang datang tiap tahunnya. Tentu dalam benak mereka mengharapkan pekerjaan yang layak. Walah… tapi Dumai itu ternyata kota kecil, bisa dibilang lebih kecil dari kota kota di pegunungan dieng sana. Lima ribu orang pertahun rasanya cukup untuk memadatkan kota ini.

Persoalan yang dihadapi dari arus urbanisasi ini adalah terbatasnya lapangan pekerjaan yang akhirnya berbuntut pada tingginya pengangguran, yang dalam hal ini didominasi oleh pengangguran terselubung. Manakala seseorang bekerja dan dia merasa bahwa pekerjaannya belum dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan dia ingin berpindah pada pekerjaan lain itulah dia golongan pengangguran terselubung. (Eeee… saya juga mungkin! he..).

Kembali ke laptop, persoalan utama yang diresahkan oleh pemerintah setempat utamanya Bappeko Dumai adalah kemiskinan. Mereka sibuk mengutak atik angka kemiskinan itu, berapa jumlahnya? bagaimana trendnya? berapa prosentasinya, entah per kecamatan, per jenis pekerjaan, per jenis kelamin,dll. Memang betul, data jumlah penduduk miskin itu sangat sangat esensial mengingat jumlahnya penting untuk menentukan berapa duit program yang harus keluar pada tahun berikutnya. Akhirnya dibentuklah ramai ramai Team Komisi Penanggulan Kemiskinan (TKPK), dengan tugas tugas pendataan, membuat perencanaan program dan seabrek kegiatan yang menghabiskan milyaran rupiah. Namun, rasanya masih sangat normatif apa yang mereka lakukan ini. Pemerintah seperti berlari ditempat. Kelihatannya mereka berkeringat tapi tetap disitu situ juga.

Tahun 2007, mereka menetapkan membuat target penurunan 10 persen jumlah penduduk miskin setiap tahunnya sampai 2012. Apakah ini muluk muluk? Coba kita lihat dulu, jangan langsung menyalahkan pemerintah, kan kasihan juga.
MDGs atau Millenium Development Goals menetapkan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dunia sebanyak separoh (half) yang sering mereka ungkapkan dengan istilah halving poverty. Tunggu, MDGs adalah hasil dari pertemuan 189 negara di dunia untuk membuat kesepakatan bersama tentang delapan persoalan penting yang dihadapi dunia. Meskipun begitu hanya 147 negara saja yang ternyata mau tanda tangan. Yang lainnya kabur dengan berbagai alasan.

Kemiskinan banyak tesiskan berbanding terbalik dengan lajunya pembangunan. Dinegara negara maju seperti Jepang misalnya, dengan meroketnya ekonomi maka kemiskinan turun dan sebaliknya. Tesis ini masih terus dipercaya dan dipegah teguh oleh banyak shcoolar kita. Namun, muncul sebuah pertanyaan. Apakah kemiskinan itu sebenarnya endemik?

Masih ingat buku yang ditulis oleh Jane Jacob, yang menceritakan tentang kondisi London abad ke 13. Saat itu baru hangat hangatnya revolusi industri. Banyak industri manufacture utamanya pemintalan benang dan kain. Industri ini dimiliki sebagian bangsawan dan orang orang yg memiliki modal untuk membangun pabrik (factory). Pabrik atau dikenal sebagai factory ini menjadi fenomena yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat London. Satu pabrik memperkerjakan puluhan bahkan ratusan buruh dan di gaji murah. Tidak jarang pula anak anak di bawah umur.  Akibat maraknya industri dan kebutuhan akan tenaga kerja tinggi hal ini memacu arus urbanisasi ke London. Luas London yang terbatas lalu didatangi oleh banyak buruh migran, maka dapat dibayangkan bagaimana kondisi sumpek dan ruwetnya London. Para buruh tersebut tinggal di tempat yang sangat menyedihkan yang mereka sebuth dengan “square”, atau kotak kumuh. Penyakit pes dan cowpox meraja lela. Kemiskinan sangat dirasakan oleh mereka. Hingga menyulut banyak poetry membuat karya karya yang menyayat hati. Muncul Marx dan Engles yang mengkritisi kondisi tersebut, yang kemudian menginspirasi mereka munculnya aliran marxis. Mereka argue adanya barier yang besar antara kaum pengusaha (capitalist) dan kamu buruh (proletar).

Menilik semua itu rasanya perlu sebuah hentakan besar untuk membubarkan system yang selama ini berkuasa. Tidak boleh pesimis dalam memandang persoalan kemiskinan karena kita tidak punya waktu untuk itu. Ada tiga pintu masuk yang sebenarnya bisa segera dilakukan, yaitu individual, nasional dan international. Secara individu harus ada keinginan untuk keluar dari kemiskinan itu. Terkadang masyarakat miskin tidak pernah tau bahwa mereka miskin, hanya orang luar yang melihat mereka miskin. Rendahnya akses mereka terhadap informasi dan teknologi membuat mereka memiliki kebutuhan yang rendah juga. Akhirnya sikap menerima apa adanya lah yang timbul. Nah, kalo sudah begini pemerintah yang harus mengambil posisi. Harus ada sebuah penyadaran bersama. Kebutuhan utama masyarakat harus tercukupi dan pemerintah yang mempunyai peran untuk mengontrol distribusi sumberdaya yang tersedia.
Secara Nasional, menurutku harus dimulai individu dahulu, dan secara international harus ada komitment keras dan kuat untuk bisa bersubsidi silang. Entah MDGs, entah UN, entah Climate Change, atau melalui pintu apapun setiap negara harus aware dengan negara lainnya. Andai saja di dunia ini tidak pernah ada batas negara dan administrasi, jika hanya ada satu pemimpin saja, aku yakin semua akan sejahtera.

Refleksi pasca PLAN 618: Urban and Regional Planning in Asia

2 thoughts on “Penanggulangan Kemiskinan, apakah idealisme bisa bertemu?

    RUDY Harsono said:
    Mei 16, 2010 pukul 7:26 am

    Berapa banyak pengangguran di Negara Inggris? Berapa banyak jumlah penduduk di Negara Inggris? Kenapa sampai bisa terjadi pengangguran di Negara Inggris?

    erdha responded:
    Juni 8, 2010 pukul 9:20 am

    Helo Mas Rudy, terimakasih commentnya. Soal jumlah pastinya saya tidak mengetahui. Anda bisa mengecek di official website demography London jika perlu. Mohon maaf saya tidak menyediakan informasi kuantitatif yang diinginkan.
    Saya mengangkat London di abad 13 untuk menunjukkan bahwa kejayaan kota kota saat ini bukan tanpa sebab, namun karena sebuah perjalanan sejarah yang panjang. Hal ini membuat kota belajar pada kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Untuk itu Indonesia juga harus belajar banyak untuk menuju kota impian yang bebas kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s