Penduduk sedikit Buruk atau Baik?

Posted on Updated on

Mengikuti bahasan di kelas bersama Chihiro Isshii, mahasiswa PhD di DURP, saya mendapatkan gambaran unik tentang fakta demografis yang dialami oleh Jepang pada decade terakhir ini. Sebagai negara maju di Asia, Jepang memiliki catatan menghawatirkan tentang komposisi jumlah penduduknya. Menurut Ishii, 2008, trend demografis yang dialami Jepang mengarah ke dominasi aging population (senior citizen) alia manula. Saat ini sekitar 25 % dari jumlah penduduk Jepang adalah manula. Transisi demografi dimulai setelah perang dunia kedua sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi Jepang. Total Fertility Rate (TFR) atau tingkat kesuburan mulai menurun tahun 1955-1973 dan menjadi stabil pada angka 2,1. Hal ini diikuti dengan pertumbuhan yang lamban pada tahun 1975-1985 dengan TFR pada rata rata 1,75. Majunya industry Jepang pada waktu itu mendorong penduduk untuk berpindah dan berakumulasi di daerah industry di kota dan di desa mulai terjadi kekurangan jumlah penduduk, mereka sebut fenomena itu dengan “The Kaso Phenomenon”. Akhir tahun 1980-an hingga 1990-an, Jepang mengalami penggelembungan ekonomi dimana harga asset lebih mahal dari pertumbuhan ekonomi realnya.

Turunnya nilai TFR ternyata mempengaruhi ketersediaanya tenaga kerja di Jepang. Pada masa itu kemudian peluang peluang pekerjaan banyak diisi oleh wanita. Penurunan TFR berlangsung terus hingga tahun 2000 pada level 1,0. Menurut Ishii, penyebab utama penurunan fertility rate adalah mahalnya biaya perawatan anak, bergesernya lifestyle di kota dimana orang menunda untuk memiliki anak, hampir sempurnanya control kelahiran, menunda pernikahan, diterimanya kebiasaan sex sebulum nikah, dan meningkatnya ketidak amanan untuk keluarga dalam mempertahankan ekonomi keluarga di pasar global. Pemerintah Jepang sendiri cukup kebingungan dengan fenomena yang ada. Permasalahan yang muncul adalah tidak tercukupi jumlah lapangan pekerjaan dan jumlah penduduk yang ada. Aging population juga menjadi masalah karena mereka dianggap tidak produktif. Pemerintah Jepang kemudian melakukan action dengan membuat program yang disebut “Angel Plan” tahun 1994 dan diikuti dengan “New Angle Plan” tahun 1999. Tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan kualitas linkungan kerja, meningkatkan perawatan anak, menguatkan pelayanan kesehatan untuk ibu dan anak, meningkatan fasilitas public dan perumahan untuk keluarga yang memiliki anak, meningkatkan pendidikan untuk anak dan mengurangi biaya yang terkait dengan perawatan anak. Jumlah dokter kandungan di Jepang juga sangat sedikit. Ibu hamil kadang kadang harus pindah ke kota untuk mendapatkan perawatan dokter. Ini terjadi bukan karena pendidikan yang rendah dan kurangnya fakultas kedokteran, namun karena demand nya rendah sehigga supply pun rendah. Indonesian sendiri selama ini selalu kebingungan dengan populasi yang banyak dan tidak terdistribusi rata di seluruh wilayah.

Sama sama susahnya, penduduk banyak dan penduduk sedikit tetap saja ada tugas yang harus di lakukan oleh pemerintahnya.

So jangan berkecil hati ya … pak/bu pemerintah…?? Berusahalah yang keras jangan menyerah dan jangan korupsi… (yang ini bukan academic sentences) *) Rindrasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s