Ngobrolin Kepulauan Marshall di Hari Pendidikannya

Posted on Updated on

Banyak orang Indonesia mungkin tidak tahu Marshall Islands. Setidaknya saya juga tidak tahu sebelum benar benar mempelajarinya.🙂 Marshall Islands atau resminya disebut the Republic of Marshall Islands (RMI), adalah negara kepulauan di Micronesia di bagian barat Laut Pasifik. Berlokasi di sebelah utara Nauru dan Kiribati, sebelah timur dari Federal States of Micronesia dan sebelah selatan dari U.S territory di Pulau Wake.

Tahun 1526 seorang penjelajah asal Spanyol bernama Alonso de Salazar adalah orang Eropa pertama yang melihat kepulauan ini. Namun, kemudian Kapten John Marshall dari Inggris pada tahun 1788 mendatangi kembali kepulauan ini dan akhirnya di beri nama seperti namanya.

Map of the Marshall Islands

Map of the Marshall Islands

Pada tahun 1885, German trading company menduduki Kepualau Marshall, dan menjadikannya protectorate of German New Guinea. Setelah itu Jepang menaklukannya dalam perang dunia I dan menjadikannya sebagai negara serikat. Pada perang dunia II US menginvasi dan menduduki Marshall pada tahun 1944 dan mengisolasinya dari sentuhan pasukan Jepang. US kemudian menambahkan Marshall Island sebagai bagian dari territorinya.

Sejak tahun 1946 hingga 1958, pemerintah US telah melakukan 66 kali tes senjata nuklir di pulau ini, termasuk senjata paling dasyat yang pernah mereka punya yaitu Castle Bravo. Kegiatan ini menimbulkan efek bagi kesehatan masyarakat di Kepulauan Marshall. Pada tahun 1954, tes bomb hydrogen ini memunculkan radioactive yang dasyat dan menjadi penyebab tewasnya kru nelayan Jepang yang sedang menangkap ikan, yaitu Daigo Fukuruyu Maru. Selain itu juga telah mengkontaminasi Rongelap (salah satu area di kawasan tersebut). Saat itu, penduduk Marshall terpaksa harus meninggalkan kepulauan tiga hari setelah tes berlangsung. Mereka di tempatkan di Kwajelaein untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

Pada tahun 1979, pemerintahan Kepualaun Marshall secara resmi berdiri dan negara tersebut telah independent. Pada tahun 1986 pemerintah US memberikan kedaulatan pada RMI. Namun, independent mereka secara formal dan resmi setelah 1990 karena US melepas perwaliannya pada tahun tersebut.

Dalam sebuah tugas mata kuliah, dengan seorang teman dari Jepang, saya berhasil mewawancarai Marshallese untuk keperluan research community development report. Dalam wawancara yang cukup panjang itu, Jhoana, salah satu peserta APLP (Asia Pasific Leadership Program) East West Center tahun 2004 memandu kami dengan sangat baik. Dia memperkenalkan kami dengan komunitas Marshall di Hawaii.

Pagi yang cerah itu, dalam peringatan Hari Pendidikan Natioanal Marshallese (April 26,2008), saya berkesempatan untuk mengikuti ceramah dari Mayor Honolulu, Mufi Hannemann di Ala Moana Park.

Mayor Honolulu, Mufi Hannemann sedang memberikan sambutan dalam peringatan hari pendidikan nasional RMI.

Acara ini dirangkai dengan pameran yang diikuti oleh beberapa organisasi yang bergerak dalam community service. Beberapa di antaranya bergerak dalam pendidikan, kesehatan, dan seni.

Ada yang menarik perhatian saya dalam ceramahnya Mayor Honolulu siang tadi, yaitu sebuah pertanyaan yang dia lontarkan kepada audiences, katanya “Do you love America?” …., lalu para hadirin yang notabene adalah Marshallese menjawab dengan tertawa saja… (apa maksudnya…)

Tak sedikit jumlah imigrant yang datang dari Marshall untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di US. Hawaii menjadi salah satu pilihan mereka untuk tinggal, karena lokasi yang dekat dan iklim yang relatif sama. Mereka berharap akan mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan di Hawaii. Bahkan diantara mereka mengaku datang Hawaii untuk berkorban demi pendidikan yang baik untuk anak anak mereka.

Namun demikian, tetap saja di temukan banyak persoalan. Mereka tetap harus menghadapi perbedaan budaya dan juga bahasa. Perlu diketahui bahwa Marshallese memiliki bahasa sendiri yang jauh berbeda dengan Inggris tentunya. Sesampai di Hawaii mereka harus menghadapi tantangan kompetisi dan bahasa, yang kemudian memaksa mereka untuk bekerja dalam bidang bidang non kerah biru alias bekerja kasar. Jhoana, teman saya, menjadi salah satu volunter untuk menyambungkan jarak tersebut. Dengan nada tegas Jhoana bilang, “Meskipun saya membantu mereka mendapat kehidupan yang baik di sini, tapi saya tidak ingin mereka lupa akan budayanya.” For me, those make sense.

*) Rindrasih

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Rongelap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s