Memaknai Lebaran Berbeda

Posted on

”Maafkan bapakmu, Nak. Kalau Lebaran bapakmu tak bisa membelikan pakaian baru.” Begitulah pesan penuh sesal yang ditinggalkan almarhum Rubinun (41 tahun), warga Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pesan itu ditinggalkan dalam secarik kertas sebelum Rubinun mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar rumahnya pertengahan Oktober 2006.

Karena keterbatasan pengetahuan akan makna sejati Idul Fitri, Rubinun sumpek hatinya saat Lebaran terus mendekat. Apalagi, bapak dua anak yang kesehariannya sebagai sopir ini sudah hampir setahun belakangan tidak bekerja alias menganggur. Dia hanya di rumah. Sedangkan menjelang Lebaran ini kedua anaknya yang sudah menginjak remaja meminta dibelikan pakaian baru.

Sebelum bunuh diri, Rubinun kepada teman-temannya di warung sering bercerita soal anak-anaknya yang minta dibelikan pakaian baru. ”Padahal, ia tak memiliki uang sepeser pun,” ujar Bidin (34 tahun), tetangga Rubinun kepada Republika. Malah, jelas Bidin, Rubinun kerap mengaku pusing memikirkan kue dan minuman untuk para tamu dalam Lebaran nanti. ”Katanya Lebaran akan menambah beban saja. Karena harus menyiapkan macam-macam, pakaian baru dan hidangan yang rupa-rupa. Mendingan tak bertemu Lebaran saja,” kata Bidin menirukan omongan Rubinun, yang semula mengira omongan Rubinun ini hanya celoteh belaka.

Kekeliruan dalam memaknai Lebaran hanyalah menjadi pemicu bagi Rubinun untuk memilih gantung diri. Menurut Bidin dan tetangga lainnya, yang membuat Rubinun nekat gantung diri adalah problem kemiskinan yang terus melilitnya. Ditambah lagi, dalam beberapa bulan terakhir dia tidak disapa oleh istrinya, lantaran uang kiriman istrinya sebagai TKI ketika di Malaysia dihabiskan untuk membeli togel.

Karenanya, sebelum gantung diri Rubinun juga meninggalkan surat buat istrinya. ”Istriku yang hebat, kutunggu di akhirat,” begitu tulis Rubinun dalam secarik kertas. Pernyataan ini seperti menjadi pengakuan salah Rubinun atas ketidakbecusannya dalam mengelola uang yang dikirim istrinya.

Berita diatas dikutip dari Harian Republika dua tahun yang lalu.

Rubinun hanya memaknai Lebaran sebagai momentum kepemilikan barang. Bahwa barang tidak lagi diartikan untuk memenuhi fungsi “kegunaan” namun lebih kepada fungsi “kebanggaan” ketika memilikinya. Sehingga, ketika Lebaran datang, maka hal itu dijadikan sebuah event untuk membeli dan mengkonsumsi barang barang baru. Pemahaman ini rasanya sangat terkait dengan pemaknaan Fitri itu sendiri.

Jelas sekali nyata bahwa pemaknaan lebaran bagi Rubiun adalah salah besar. Sudah salah memaknai, dia juga salah mengambil keputusan untuk bunuh diri yang sungguh dibenci ALLAH. Astaghfirullah…

Namun tunggu dulu jangan jangan kita juga masih salah memaknai lebaran. Menurut salah seorang Ustad ternama, ternyata kebanyakan masyarakat Indonesiapun juga salah memaknai lebaran. Banyak diantara umat Islam memaknai lebaran sebagai hari di mana kita kembali Fitri dan kembali suci seperti bayi yang lahir kembali tanpa dosa. Apakah benar begitu maknanya?

Terdapat tulisan menarik dari kawan kita kali ini tentang pengalamannya mendengarkan pengajian tentang kesalahan orang indonesia dalam memaknai kata idul fitri, yang dinyatakan sebagai “hari kembali ke fitrah/kesucian”.

Fitri atau fitr dalam ejaan arab yang benar memiliki relasi makna yang sama dengan “ifthor” yang berarti berbuka. sebenarnya idul fitri berdasarkan pemaknaan tersebut adalah “momen mulainya orang muslim “berbuka”, setelah sebulan penuh wajib berpuasa”. jadi sebenarnya kurang tepat kalau “ujug-ujug” setelah puasa kita merasa terbebas dan merasa selama sebulan ini kita telah melewati “pencucian dosa” salah jika kemudian kita menganggap setelah ramadhan kita kembali suci…. bayangkan jika kemudian anggapan kita terhadap ramadhan seperti itu, maka seakan-akan ramadhan adalah sebuah prosesi pembaptisan dong…. Padahal kita tahu bahwa kita tidak mengenal model pencucian dosa semacam itu…

Dalam ajaran islam yang agung nilai baik-buruk suatu amal merupakan konsekuensi dari apa yang kita perbuat. “ajr”/ganjaran yang kita dapat di akhirat merupakan akumulasi amal kita di dunia. jadi sebenarnya tidak relevan anggapan dosa kita terbayar kontan di akhir ramadhan,  hakikat yang lebih dalam dari diistimewakannya ramadhan dibandingkan bulan lainnya.

Subhanallah subhanallah

Mari kita bersyukur untuk kesempatan yg diberikan ALLAH kepada kita sampai mampu menarik nafas detik ini. Belum tentu tahun depan kita akan bisa bertemu dengan Ramadhan dan Lebaran kembali. Alhamdulillah ya ALLAH masih Engkau berikan hamba waktu … dan cukupkanlah waktu hamba ya ALLAH untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dariMu. Jauhkan hamba dari sifat sifat tidak bersyukur. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s