Mengapa Informasi Jumlah Hotel Perlu dalam Analysis Pariwisata?

Posted on Updated on

By: Erda Rindrasih

Dalam sebuah conference yang diselenggarakan di Honolulu Hawaii, saya yang waktu itu mempresentasikan paper kelas yang berjudul “Prospect of Tourism for Aceh after Tsunami” mendengar selentingan tentang relevansi informasi jumlah hotel terhadap analysis pariwisata. Beruntung dan sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa presentasi dalam event tersebut. Bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada pihak tersebut, atau mungkin pihak pihak lain yang tidak sempat mengikuti presentasi saya atau pihak lain yang mengikuti namun tidak sempat bertanya, maka tulisan ini diharapkan mampu memberikan penjelasan yang semi comprehensive. Saya katakan semi comprehensive karena tulisan ini adalah berdasarkan professional judgment saya terhadap bidang ilmu pariwisata yang saya geluti beberapa tahun terakhir.

Di Indonesia sendiri bidang ilmu pariwisata tidaklah begitu mendapat prioritas di hati lulusan SMU yang ingin melanjutkan kuliah. Hal ini kemungkinan di karenakan masih adanya anggapan bahwa pariwisata bukanlah theory namun praktis semata. Saya kira anggapan tersebut salah besar. Pariwisata bukanlah hanya sekedera praktis, karena bukankah definisi theory adalah kumpulan dari praktis dan di sarikan dalam bentuk pengetahuan sehingga orang dimasa depan dapat belajar dari tindakan masa lalu yang bisa katakan sebagai eksperimen dengan alam dan kota sebagai laboratoriumnya. Pariwisata yang didukung oleh basis usaha kecil dan menengah ternyata adalah sector yang mampu bertahan di hempas krisis. Pariwisata juga menjadi industry terbesar di dunia yang melibatkan semua actor baik nasional maupun international.

Dalam bukunya, Geography of Tourism, Douglass Pierce (1982) seorang ahli pariwisata dan geograf menerangkan bahwa untuk mengetahui perkembangan sebuah kegiatan pariwisata disuatu wilayah diperlukan lima element penting diantaranya; attraction, accommodation, transportation, facility, and infrastructure. Kelima element itu sangat penting untuk diperhatikan sebagai sebuah dasar baik untuk perencanaan pariwisata, study/evaluasi pariwisata maupun untuk monitoring pariwisata. Apabila salah satu element tersebut tidak ada maka tentu saja akan terjadi kesenjangan di dalam pelayanan pariwisata untuk wisatawan. Atraksi dalam hal ini adalah, barang/jasa yang dijual untuk menarik wisatawan. Hal ini bisa berupa benda seni, atraksi budaya, atraksi alam, maupun event (peristiwa). Accomodasi dalam hal ini adalah hal hal yang diperlukan untuk menimbulkan kenyamanan bagi wisatawan secara basic need, misalnya seperti: makanan, minuman, tempat tinggal. Sehingga fungsi hotel, rumah makan sangat essensial untuk mendukung process tersebut. Sedangkan untuk transportasi, fasilitas dan infrastructure lebih banyak pada fungsi pemerintah setempat sebagai pemangku kebijakan untuk menyediakan fasilitas tersebut. Elemen elemen ini tidak semata mata sesuatu yang mudah begitu saja ada. Mulai dari process perencanaan, pembangunan, perhitungan cost benefit, impact assessment, isu lingkungan, maintaining hingga pelibatan masyarakat dalam process tersebut memperumit atau bisa di buat bahasa positivenya memperkuat relasi diantara masing masing element. Terdapat pula perhitungan matematis dan kuantitative dengan formula khusus untuk mengevaluasi ketersediaan element pariwisata terhadap tingkat pelayanan.

Melalui penjelasan di atas tentunya sudah sangat jelas bagi penanya, bahwa hotel baik jumlahnya, ketersediaan kamarnya, jumlah hunian hotelnya, length of stay nya dan bahkan hingga jumlah penduduk lokal yang tinggal di hotel tersebut adalah perhitungan yang sangat penting. Informasi tentang jumlah dan ketersediaan merupakan basic informasi untuk mengetahui tingkat kemajuan kegiatan pariwisata disuatu daerah. Tentang apakah data tersebut di dapat melalui survey (lebih dikenal dengan primary data gathering) atau study document (secondary data) itu bukan persoalan. Internet merupakan salah satu alat untuk mendapatkan secondaray data. Namun, kita harus berhati hati dalam mengambil data diinternet, penulis dan website diusahakan merupakan website resmi yang bisa dipertanggunjawabakan. Yang menjadi penting adalah tingkat akurasi data tersebut.

Saya kira seorang peneliti yang cerdas akan memperhitungkan resources dan waktu dalam pengambilan data. Sehingga waktu dan sumberdaya dapat digunakan dengan effective dan tepat guna. Jika data sudah di survey oleh sebuah lembaga dan lembaga tersebut dapat dipertanggungjawabkan maka tidaklah perlu membuang waktu dan energy untuk melakukan perhitungan sendiri, seperti misalnya menghitung sendiri jumlah-jumlah hotel di suatu daerah. Selain karena, peneliti terbatas untuk melakukan perhitungan manual, peneliti hanya bisa tau existing condition tanpa tau time series dari keberadaan hotel sebelumnya. Kemudian, perlu ditekankan bahwa tulisan ini tidak menutup kemungkinan adanya element dan indicator lain untuk mengevaluasi pariwisata di suatu daerah. Saya juga tertarik untuk melihat aspek policy dan public involvement dalam perkembangan pariwisata di suati daerah.

Last but not least, penting atau tidaknya sebuah data di presentasikan adalah berdasarkan tingkat urgensi data tersebut sesuai dengan tema paper yang disampaikan. Seseorang dengan bidang ilmu yang berbeda dapat saja mempertanyakan tentang urgensi sebuah data, namun siapun tidak dapat memberi penilaian terhadap tingkat kemampuan si penulis maupun di presenter apabila orang tersebut tidak benar benar berada pada bidang ilmu yang sama.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menjawab beberapa pihak yang mempertanyakan perihal tersebut. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s