Beragama dan Ber-Tuhan itu tidak Logis?

Posted on Updated on

Membahas tentang agama memang sangatlah personal dan tentu penuh dengan bias subjectivitas. Banyak yang tidak butuh Agama karena mereka merasa telah mampu mengatur lingkungan sosial dengan baik tanpa campur tangan sesuatu hal yang disebut Tuhan itu. Sehingga konsep Tuhan tidak lah perlu, karena sudah punya teknologi, orang orang penting yang menurut mereka telah mencukupi semua kebutuhannya. Mana Tuhan? toh tidak bisa dilihat, di dengar, disentuh atau diajak bicara” kata mereka.

Ada juga alasan karena tidak mau diatur oleh sesuatu aturan di luar dirinya sendiri. Itu salah satu jawaban yang pernah saya dengar. Aku adalah aku yang berhak mengatur apapun yang akan aku kerjakan dan apa yang akan aku putuskan terhadap diriku. Tidak ada sesuatu aturan pun yang membuat aku HARUS melakukan itu. Dia menganggap beragama itu aneh dan mempersulit diri sendiri. Karena hidup hanya diserahkan pada sebuah aturan sosial yang stupid yang mempengaruhi mereka dalam pengaturan waktu, pengaturan motivasi, pengaturan kegiatan dan lain lain. Jadi dia tidak mau beragama karena dia mau bebas menjalani hidup tanpa doktrin dari sebuah kelompok orang.

Benarkah Tuhan itu tidak LOGIS, dan hanya milik orang-orang penghayal saja, coba simak sedikit pemikiran iseng menggunakan kuadran matematika berikut

Penahkah Anda membuat matriks dengan empat kuadran?

Lalu coba isi masing2 kuadran dengan persilangan antara Tuhan Ada, Tuhan Tidak ada dan beragama atau tidak beragama. Maka akan kita dapat matrix 1: tuhan ada dan beragama, kemudian matrix 2: tuhan tidak ada dan tidak beragama, matrix 3: tuhan ada dan tidak beragama dan matrix yg ke 4 : tuhan tidak ada dan tidak beragama. Coba kita liat konsekuensi dr masing masing matrix.

Matrix 1: Tuhan Ada dan Beragama.

Orang2 yg hidup dalam matrix ini akan memperoleh ketenangan dengan menjalankan agama dengan kepercayaan penuh bahwa ketika nanti meninggal maka dia akan bertemu dengan Tuhannya. Taruh lah skor 100

Matrix 2: Tuhan Tidak ada dan Tidak beragama.

Orang2 yg hidup dalam matrix ke dua tidak akan mendapatkan apa apa, toh Tuhan tidak ada, jikalaupun dia tidak beragama maka tidak ada yg akan menghukumnya bahkan memasukkan dia ke dalam neraka. Hidup hanyalah untuk makan, minum, kerja, dan mengumpulkan harta dan kepuasan. Setelah meninggal berhentilah hidup itu. Begitu saja, singkat dan simple…Taruhlah 50

Matrix 3: Tuhan Ada dan Tidak Beragama.

Orang orang yg hidup memilih matrix ini nampaknya akan mengalami kesialan yg abadi. Karena toh Tuhan ada kok ya bisa bisa dia tidak beragama. Orang dalam matrix ini tentu saja merugi karena dia tidak beragama sedangkan Tuhan punya jaminan surga untuk mereka namun tidak mereka ambil kesempatan itu. Taruhlah Anda dapat 0

Matrix 4: Tuhan Tidak ada dan Beragama.

Orang orang yg hidup di matrix ini, akan hidup dengan berkeyakinan bahwa Tuhan ada. Mereka hidup dengan tunduk dan terus percaya bahwa Tuhan ada, mengatur hidup dengan tujuan jangka panjang. Jika kenyataannya Tuhan tidak ada pun hidupnya masih tetap teratur dengan norma dan pegangan hidup yg terjaga. Memang saat meninggal hidup selesai krn Tuhan tidak ada, tp selama hidup di dunia paling tidak dia merasa tenteram dengan menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya bahwa Tuhan ada. Taruhlah cuma 50

Nah…, apakah masih berfikir Tuhan itu tidak Logis? Kalau mau aman, cukup beragama saja dan percayalah bahwa Tuhan itu ada. Resiko tidak beragama itu lebih besar 3:1 di banding dengan yang beragama 1:3…

Kalau mengaku scientist dan berfikir logis, harusnya bisa mikir bahwa logikanya beragama lebih aman…

🙂 just simple tought

 

5 thoughts on “Beragama dan Ber-Tuhan itu tidak Logis?

    Teguh Andoria said:
    November 11, 2009 pukul 6:39 am

    nice tought.

    sibadu said:
    Maret 2, 2010 pukul 3:15 am

    Ga setuju. Tidak beragama belum tentu didunia hidupnya tidak tentram. Di akhirat juga belum tentu tersiksa selamanya dineraka, sebab siapa yang tahu keputusan akhir Tuhan terhadapnya.

      erdha responded:
      Maret 25, 2010 pukul 7:30 am

      Terimakasih Sibadu atas komentarnya…. Ya betul sibadu bahwa semuanya memang belum tentu karena beragama saja tidak cukup. Setelah beragama tentu masih ada kewajiban yang dijalankan sebagai penganut sesuatu agama. Kendati demikian tentu ada konsekuensi dr setiap apa yg dilakukan manusia selama dia hidup di dunia.

    rony said:
    Maret 15, 2010 pukul 7:48 am

    sekarang saya nanya? jika anda mengaku ber-Tuhan, sekarang Tuhan kamu dimana?

      erdha responded:
      Maret 25, 2010 pukul 7:25 am

      Helo rony, terimakasih sudah komentar dan mengunjungi obrolan simpel ini. Bicara tentang Tuhan tidak bisa kita pakai kaca mata biasa. Kita harus menggabungkan antara nurani, hati, kepercayaan dan logika. Rony tidak bisa menyamakan ber-Tuhan dengan ber-duit, ber-pakaian, ber-sekolah yang kemudian bisa bertanya dimana duitmu, dimana pakaianmu dan di mana sekolahmu. Karena Tuhan bersifat ghaib, hanya dengan iman Tuhan bisa dirasakan keberadaanya dan kekuasaanya. Jika Rony menanyakan posisi Tuhan, maka ada dua kemungkinan jawaban, pertama posisi mutlak, yg dalam ilmu geografi disebut sebagai titik bumi dengan derajat lintang dan bujur, kedua posisi relatif yang dikaitkan dengan sesuatu posisi di sekitarnya. Posisi mutlak Tuhan ada di arsy yang merupakan rahasiaNya, sedangkan posisi relatif Tuhan adalah lebih dekat dari urat nadiku. Jika kita melangkah satu langkah mendekat padanya maka Dia akan melangkah 1000 langkah mendekat pada kita. Semoga membantu untuk saudara Rony… terimakasih ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s