Satu Tahun sebagai Gelandangan

Posted on Updated on

Translated from the presentation of Becky Blaunton, in www.ted.com

Dua setengah tahun lalu saat saya pertama kali menginjakkan kaki di negeri paman Sam, America, tepatnya di Honolulu Hawaii, ada satu hal yang mengikat perhatian saya yaitu Homeless atau sering kita sebut gelandangan. Meskipun demikian, tidak bisa sepenuhnya disamakan antara gelandangan di US dan gelandangan di Indonesia. Di Indonesia gelandangan adalah benar benar tidak punya rumah dan hidup di jalanan tanpa pekerjaan. Namun di US homeless hanyalah orang yang tidak bertempat tinggal dalam struktur bangunan. Mereka memiliki pekerjaan dan mereka bisa membeli makanan.

Saya mencoba menulis presentasi dari Becky Blaunton yang saya dengar dari www.ted.com. Presentasi yang dia sampaikan membuat saya harus berdecak dan menarik nafas panjang atas pengalaman hidup yang mengesankan. Becky, seorang perempuan setengah baya setelah 22 tahun menjadi jurnalis, dia memutuskan untuk tak terlihat di society. Dia memutuskan tinggal di mobil van meninggalkan rumah dan pekerjaannya. Awal dari perjalanannya menjadi homeless, dia sangat senang dan merasa akan hidup dalam tantangan.

Hari hari pertama, Becky berfikir bahwa dia sedang berkemah di luar rumah untuk satu tahun. Becky tinggal di dalam van dan melakukan aktivitas sehari hari di dalam van. Van dilengkapi dengan kasur untuk tidur, kompor gas untuk memasak, dan beberapa peralatan lain untuknya hidup. Dia membawa serta anjing dan kucingnya di van itu. Untuk keperluan mandi dan buang air, Becky menggunakan fasilitas toilet umum yang tersedia di kota itu. Hari terus berlalu dan musim berganti. Saat panas terik sekali dia harus keluar dari van dan berteduh di bawah pohon. Saat musim dingin tiba, van tidak cukup memberikan kehangatan untuk suhu di bawah nol derajat. Suatu saat, ketika salju turun Becky tidak mampu berjalan menuju toilet umum (55 feet) dan keluar dari van karena sangat dinginnya. Akhirnya dia menggunakan ember sebagai toilet darurat. Dia pun pernah berurusan dengan polisi beberapa kali karena membuat kotor dan berisik. Selama setahun Becky berpindah pindah dari tempat parkir ke tempat parkir. Namun, dia lama tinggal di tempat parkir sebuah super market besar di US (Wall-mart).

Dalam tahun itu Becky tetap bekerja sebagai jurnalist. Namun, rupanya hari hari yang dia lalui di van membuat dia kehilangan talenta untuk menulis, dia merasa intelegentnya turun. Dia tidak lagi memiliki inspirasi untuk berkarya. Otaknya menjadi tumpul dan tidak memiliki inisiatif dan daya kreatif untuk menulis. Pandangan orang terhadap dirinya pun menjadi turun. Cara orang menatap dan memperlakukannya sebagai homeless, cara orang berlalu di hadapannya sebagai orang yang hidup di van, membuatnya kehilangan nilai dan integritas di lingkungan sosial. Teman temannya mulai beralih dan menjauh. Becky kehilangan jati dirinya sebagai manusia di lingkungan sosial. Sampai akhirnya Becky menemukan dirinya dalam kondisi depressi.

Becky datang ke sebuah klinik depressi untuk mendapat treatment, atas saran teman, setelah dia sadar bahwa dia benar benar depressi dan kehilangan semangat untuk hidup. Bahkan terlintas di benaknya saat itu untuk bunuh diri. Dokter memberikan obat anti depressi dan terus memberikan bimbingan padanya. Dia berkata pada dirinya sendiri :” If I kill my self no one will notice”, kalaupun saya bunuh diri tak ada yang akan perduli.

Setelah mengikuti treatment, sedikit demi sedikit dia kembali pulih. Lalu dia memutuskan untuk mengakhiri petualangannya menjadi homeless bohongan. Kembali ke apartement dan bergaul dengan tetangga kembali.

Salah satu koleganya menerbitkan essay yang dia tulis selama menjadi homeless. Becky pergi ke toko buku dan membaca tulisannya sendiri, saat itulah dia menangis. Dia menangis mengingat pedih hidupnya di dalam van, mencoba untuk bertahan hidup dalam sebuah kungkungan persepsi masyarakat terhadap struktur bangunan. Meskipun hanya homeless yg direncanakan, namun dia merasakan depressi yang luar biasa. Sehingga dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan homeless yang sesungguhnya.

Maka tak heran kalau banyak homeless yang bunuh diri di US atau meninggal karena cuaca buruk dan sakit. Tak heran pula banyak homeless yang menggunakan uang “food stamp” untuk membeli alkohol dan minum minum.

Ada tiga hal penting yang dapat kita pelajari dari pengalaman Becky . Pertama bangunan ternyata mempengaruhi nilai dari seseorang di lingkungan sosial. Memang nampaknya cuma bangunan, namun disitulah sebuah kehidupan dibuat. Sebuah harapan di tuliskan pada dinding dinding kontruksi. Dinding dinding yang menyerap kelelahan dan keletihan, menghilangkan segala depressi sehari hari dan membuat manusia lebih terlihat. Kedua, cepatnya persepsi negatif mempengaruhi kenyataan. Pada dasarnya hidup di van dan hidup di bangunan adalah sama. Namun kenapa Becky tetap depressi. Ternyata bukan van nya, namun persepsi masyarakat terhadap dirinya yang membut dia depressi. Ketiga, gelandangan bukanlah cara hidup namun cara berfikir. Cara berfikir tentang diri kita sendiri akan mempengaruhi kenyataaan terhadap diri kita sendiri. Dia mampu keluar dari cara berfikir bahwa dia adalah gelandangan dan berpindah untuk berfikir bahwa dia adalah seorang jurnalis dengan kesempatan yang sama seperti orang yang hidup di bangunan itulah yang menolong dia sehingga dia lepas dari depressi dan mendapatkan jati dirinya kembali.

So, saya kira kita bisa jadikan ini sebuah framework bagi program program untuk anak jalanan dan para gelandangan di Indonesia. Pertama, sediakan struktur bangunan yang permanen dan menjadikan meraka merasa nyaman di dalamnya. Kedua, ubah persepsi masyakarat terhadap gelandangan. Bahwa gelandanganpun juga dapat memiliki harapan bahwa mereka adalah juga manusia seperti lainnya yang hidup dalam bangunan. Ketiga, ubah cara berfikir gelandangan itu terhadap dirinya sendiri. Bahwa mereka bukanlah manusia tidak berguna. Berikan kepercayaan diri dan berikan nilai bahwa mereka berguna untuk lingkungan sosial mereka. Satu yang penting adalah tumbuhkan “HARAPAN” untuk hidup lebih baik.

2 thoughts on “Satu Tahun sebagai Gelandangan

    erni dewi said:
    Desember 1, 2009 pukul 7:40 am

    Good piece of writing, erdha …
    Pandangan yang menarik utk homeless …

    SAUT BOANGMANALU said:
    Januari 30, 2010 pukul 4:36 pm

    INFORMASINYA CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s