Shock Culture

Posted on Updated on

Memang sudah hampir enam bulan berada di Indonesia tepat di Yogyakarta, setelah dua setengah tahun menghabiskan waktu di negeri orang. Bicara shock culture, ternyata masih juga belum hilang dalam diriku meskipun telah lama di sini. Terutama di jalan raya aku sering mengalami perasaan marah bercampur aduk. Pasalnya banyak terjadi pelanggaran yang membuat hati geram, misalnya menyeberang jalan sembarangan, membuang sampah di jalan, mengerem mendadak, tidak memberi sign saat mau berbelok, mengambil jalan kita, mengklakson klakson saat lampu merah, dan ngebut ngebutan. Oh Tuhan…. rasanya marah memuncak sampai ubun ubun.

Hal lain lagi yang membuat pecah emosi adalah saat ada dalam antrian. Pernah suatu ketika seseorang memotong antrian ATM yang panjang itu dengan alasan terburu buru tanpa minta maaf dan tanpa minta ijin. Untuk berkata “UH… Dasar orang Indonesia” kenapa masih harus berfikir… iya lah karena aku sendiripun orang Indonesia. Sungguh tidak sopan. Jarang ditemukan orang membukakan pintu untuk orang di belakangnya padahal jelas jelas pintu itu pintu pegas yang otomatis tertutup jika tidak di tahan. Al hasil orang di belakangnya harus mundur untuk menghindari tertubruk pintu. Aduh bagaimana ini… ?

Padahal jika di Hawaii hal ini tidak pernah terjadi. Sebuah penghargaan yang tinggi bagi perempuan selalu aku rasakan. Dibukakan pintu, diberikan kesempatan untuk masuk duluan, ditunggu saat berjalan berpapasan, dipersilahkan makan terlebih dahulu, sebuah budaya yang membuat perempuan merasa dihormati. Aku sungguh heran. Bukan bermaksud memandingkan, namun berusaha mencari kenapa berbeda?

Dalam sebuah pemahaman akan cara hidup dan sejarah panjang bangsa aku sadar bahwa perilaku perilaku orang Indonesia yang tidak tertib ini ada karena sebuah proses pembentukan karakter yang salah selama ini. Aku memang tidak tahu menahu tentang konsep psikologi pembentukan watak ataupu karakter seseorang. Namun aku yakin bahwa semua bermula dari didikan orang tua saat mereka masih kecil. Seorang anak yang dididik dengan disiplin yang tinggi dan diapresiasi ketika mengikuti aturan maka dia akan lebih behave hidupnya.

One thought on “Shock Culture

    cakDavid said:
    Juni 25, 2010 pukul 10:04 am

    luar biasa refleksinya mbak erda…skrg aku lagi di UHM sedang shock culture saat jalan harus disisi kanan, dan melihat orang tertib lalu lintas…btw, di sini mobil takut sama pejalan kaki yach…gak Indonesia banget disini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s