Kita, harta dan sukses

Posted on

Melintasi jalanan kota Yogyakarta kemudian beberapa mobil mewah mendahului. Mobil mobil keluaran terbaru dengan warna yang memukau mata. Ada yang menambahkan dengan stiker stiker penunjuk identitas diri baik itu stiker universitas, stiker club dan lain sebagainya. Seakan mereka ingin menunjukkan kepada orang orang dijalan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas elite dalam strata sosial.

Tak hanya mobil, di Jogja pembangunan rumah dan perumahan terus marak. Berbagai type mulai dari 28 hingga type 300 pun dibangun oleh para pengembang. Mereka sangat pandai dalam menggaet para konsumen dengan membangun perumahan yang bervariasi harga dan typenya sesuai selera pasar yang mereka targetkan. Rumah rumah yang berjajar dengan mewahnya di titik titik strategis di Jogja seakan memberikan nuansa kemewahan sekaligus keangkuhan.

Mobil, rumah, sepeda motor, emas, handphone merupakan barang barang yang sanggup menyilaukan mata kita. Sehingga kadang kadang manusia terlena hanya untuk mengejar harta tersebut.

Saya sering mendengar orang berkata demikian, “Wah gila… anak itu sekarang sukses mobilnya tiga rumahnya luas dan megah.” Ucapan ucapan senada juga sering muncul untuk menunjukkan kekagumannya terhadap barang barang. Sering juga saya dengar orang berkata “Saya orang kecil mbak, cuma punya motor satu”. Bahkan secara sinis saya pernah mendengar seseorang berkomentar begini, “Kerja sudah belasan tahun kok dari dulu cuma naik motor.”

Hal ini membuat saya berfikir, apakah kesuksesan dinilai dengan kemampuan seseorang membeli barang barang tersebut. Dan apakah seseorang besar dan seorang kecil dinilai dari kepemilikan logam logam, kertas kertas dan tumpukan bata? ya?

Tulisan ini terbubuhi oleh banyak opini subjective saya sehingga saya masukan dalam kolom opini tentunya. Hanya untuk mencoba mengingatkan diri saya sendiri untuk kembali merunduk dan menyadari makna sukses.

Memang diakui sulit untuk memisahkan antara kesuksesan dan kepemilikan harta karena pandangan ini selalu melekat dan ditularkan sejak dahulu kala. Namun, saya memiliki pandangan lain. Kesuksesan saya kira adalah sebuah kontribusi bagi kesuksesan bersama. Ketika seseorang itu sukses dan dia sendirian maka saya kira dia tidak sukses. Namun bila dia mampu memberi dan berkontribusi pada sebuah kemenangan publik maka dia adalah orang sukses. Intinya orang sukses itu harus sukses sendiri dan mensukseskan orang orang disekitarnya.

Diperkenalkan sebuah konsep barat SOCIAL CAPITAL yang sesungguhnya merupakan arti keren dari gotong royong yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Seseorang dinamakan memiliki social capital ketika dia mampu melakukan sesuatu bagi komunitasnya sesuai dengan kemampuan dan tugasnya. Ya.. memang harus sesuai dengan kemampuan. Kan tidak mungkin semua orang akan menjadi relawan Mavi Marmara meskipun mau.🙂 Namun, saya kira menjadi apapun manusia itu dalam komunitas asalkan dia berbuat yang terbaik di bidangnya maka dialah orang yang sukses. Seorang guru yang sukses mendidik para siswanya, seorang petani yang sukses menyediakan stok pangan untuk masyarakat, seorang tukang becak yang sukses mengantar tamu menuju tempat wisata, seorang nelayan yang sukses menangkap ikan tanpa merusak lingkungan. Jadi guru yang sukses bukanlah yang mampu naik pangkat dan gajinya tinggi, atau petani yang mampu menjual harga panennya tinggi, atau tukang becak yang mampu mengakali tamu untuk bayar lima kali lipat, atau nelayan yang dapat ikan banyak dengan cara membom. Atau juga seorang konsultan yang mampu memperoleh proyek banyak dengan cara manipulasi dokumen. Oh… No…

Saya melihat sukses sebagai kesesuaian antara proses menuju keberhasilan dengan norma dan kaidah yang berlaku. Sehingga output dan outcome apapun itu bukanlah ukuran dari sukses. Sukses diukur apabila seseorang mampu melakukan proses dengan benar.

Apakah bisa dikatakan seseorang kaya raya namun harta diperolehnya dari hasil korupsi atau hasil kejahatan? Saya kira tidak bisa. Sukses ada proses yang benar. Karena proses pada dasarnya adalah sebentuk usaha dan aktivitas menuju hasil. Hasil ditentukan bukan cuma oleh faktor proses namun juga inputnya. Jika kita manusia beragama maka hasil dari usaha itu adalah dibawah kekuasaan Tuhan. Namun, Tuhan memberikan pahala bagi orang yang berjalan dengan proses yang benar dan halal. Bukankah Tuhan tidak memberikan pahala kepada yang telah memiliki mobil saja, namun pahala bagi orang orang yang mampu dan menafkahkan hartanya.

Tertegun sendiri dalam sebuah pemikiran. Sesungguhnya bersyukur adalah yang terbaik. Kalau kata Dr.James, managing expectation, adalah yang terbaik dilakukan untuk menuju bahagia. Jangan pernah membandingkan diri dengan yang lebih tinggi karena itu akan membuat kita merasa kekurangan dan tidak bahagia. Namun, ternyata menengok ke bawah membuat kita lebih bersyukur. Dan dengan managing expectation kita lebih bahagia. Sukses untuk kita semua menjadi yang terbaik yang kita bisa lakukan …. keep spirit ….

3 thoughts on “Kita, harta dan sukses

    lina said:
    Juni 16, 2010 pukul 4:40 am

    setuju, tp tdk smua orang seperti yang kt pkrkan. Kenyataanya? Banyak yang mementingkan harta, pangkat adlh kesuksesan dalam suatu komunitas yang dijunjung tinggi shg bnyk tjd cluster2x sosial(soalnya yg nulis berpendidikan sich he5x) berdasarkan hal itu. Kan jarang lho sikaya sama simiskin/sipintar dengan yg krg brtg pntrnya? Ya kan, kata orang g nyambung. He8x. Tak jamin seperti itu. Bahkan mungkin kita sdr scr tdk sadar melakukan yang dlm pkrn kt mgkn kt tau jangan seperti ini. Tetapi kita kadang terlena hanya tertuju pada output.

    lina said:
    Juni 16, 2010 pukul 4:43 am

    setuju, tp tdk smua orang seperti yang kt pkrkan. Kenyataanya? Banyak yang mementingkan harta, pangkat adlh kesuksesan dalam suatu komunitas yang dijunjung tinggi shg bnyk tjd cluster2x sosial(soalnya yg nulis berpendidikan sich he5x) berdasarkan hal itu. Kan jarang lho sikaya sama simiskin/sipintar dengan yg krg brtg pntrnya? Ato dekan dengan penjaga parkir ngobrol brg paling juga slamat pagi pak? Dah brtg bg penjaga parkir disapa kadang saking sibuknya atasan lupa g senyum ? Ya kan, kata orang g nyambung. He8x. Tak jamin seperti itu. Bahkan mungkin kita sdr scr tdk sadar melakukan yang dlm pkrn kt mgkn kt tau jangan seperti ini. Tetapi kita kadang terlena hanya tertuju pada output. Ampun. Smg kt lbh baik lg dikmd hari

    sgh-violin said:
    Juni 21, 2010 pukul 5:15 am

    Sungguh sebuah pendapat bijak ebagaimana kaum roman. mungkin sedikit masukan saja urun rembug, bhw kejadian di masyarakat dlm hubungannya dengan mobilitas vertikal akan sangat mempengaruhi konstruksi sosial di masyarakat. Suka atau tidak suka, nerima ataupun tidak, adalah sebuah kenyataan jika dalam pergaulan sosial saat ini indikator keberhasilan sudah bergeser dari non materi ke materi. Dari uang bukan segala-galanya menjadi uang adalah segala-galanya. Namun demikian pendapat anda sy sangat setuju. Hanya saja realitas di lapangan kok belum mendukung. Jadi konklusinya, kekayaan/harta dapat menciptakan dekonstruksi sosial. Demikian semoga berkenan. maturnuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s