Ariel – Luna – Cut Tari (moral siapa yang rusak?)

Posted on

Beberapa minggu terakhir ini seluruh media cetak, elektronik maupun jejaring internet selalu membicarakan kasus video porno mirip Ariel-Luna dan Cut Tari. Bahkan pembahasan ini telah menjadi hits di twitter skala dunia. Banyak yang menghujat, mencibir, mencaci bahkan ada juga yang justru senang dengan adanya video ini. Tanggapan atas kasus ini pun macam macam. Dari komunitas yang saya ikuti, ibu ibu RT, darmawanita, teman teman kantor, facebookers, milist santer membicarakan ini. UU anti Pornografipun mendapat cobaan atas keabsahan dan kekomprehensivannya dalam tiap pasal pasalnya.

Saya setuju bahwa dampak yang ditimbulkan dari video ini adalah rusaknya pondasi moral dimana yang lebih parah adalah moral anak anak generasi muda. Saya juga setuju bahwa pelaku dan pengedar harus mendapatkan ganjaran. Namun demikian saya sependapat jika ganjaran yang diberikan adalah ganjaran hidayah bukan ganjaran kurungan ataupun denda yang selama ini menjadi opsi untuk menghukum seseorang yang bersalah. Ganjaran hidayah menurut saya lebih utama. Saya membayangkan mereka yang bertanggungjawab dapat meminta maaf kepada publik atas perbuatan mereka dan berjanji untuk membantu memperbaiki moral bangsa.

Kendati demikan ada hal ini menggelitik pertanyaan, seberapa hebat sih kita sehingga bisa menghakimi Ariel- Luna dan Cut Tari? Apakah kita telah sempurna sehingga berhak untuk mencibir dan menghujat si pelaku entah itu yang bersangkutan ataupun seseorang yang mirip dengan mereka. Bukankah dengan menuduh mereka berzina kitapun juga berdosa? Jika Ariel-Luna- Cut Tari harus minta maaf, maka kitapun juga harus minta maaf kepada mereka. Karena dalam diri kita sudah ada prasangka atas keterlibatan mereka dalam video porno ini sebelum betul betul di buktikan kebenarannya. Meskipun sudah dibuktikan kebenaranya, apakah kemudian kita dapat menghakimi mereka?

Teringat kisah Nabi Isa AS. Suatu hari ada seorang perempuan yang mengaku berzina. Oleh masyarakat perempuan itu dilempari batu hingga berdarah darah di lapangan terbuka. Nabi Isa AS kemudian datang ke tempat tersebut dan menyuruh semuanya untuk berhenti melempari batu ke perempuan itu. Beliau mengambil satu batu dalam genggaman, dan mengatakan “Barang siapa yang tidak memiliki dosa dapat melempar batu ini ke arah perempuan ini“. Kemudian tak satupun dari masyarakat yang mengambil batu dari tangan Nabi Isa as. Sungguh tak ada seorangpun yang luput dari dosa.

Seorang psikolog ternama menekankan bahwa sebenarnya seseorang mengalami gangguan psikologis ketika dia mengabulkan keinginan dirinya untuk menonton video porno. Jadi rusaknya moral bukan sesudah menonton namun saat memutuskan untuk menonton.

Untuk itu apakah pantas kita menghujani batu prasangka kepada Ariel-Luna-Cut Tari? Siapa sebenarnya yang telah rusak moralnya? Biarlah ALLAH yang mengatur ini karena atas kehendaknya pula kasus ini terjadi. Ini hanyalah sebuah cara ALLAH swt untuk menguji umat manusia. Astaghfirullah …

2 thoughts on “Ariel – Luna – Cut Tari (moral siapa yang rusak?)

    whitta said:
    Juni 15, 2010 pukul 7:04 am

    Setuju banget….jadi ingat kata2 Eyang Uti,pada saat jari telunjuk kita menunjuk seseorang…Ingatlah bahwa pada saat bersamaan justru keempat jari kita menunjuk ke arah kita sendiri…Jika dapat diartikan secara tersirat mungkin seperti ini,sebelum kita menyalahkan seseorang (terlepas dia benar2 salah ataupun tidak). Seharusnya kita lebih introspeksi ke diri kita masing2. Bukankah begitu???

    R....ya said:
    Juni 15, 2010 pukul 3:00 pm

    Sudah lah kita tidak usah membicarakan ariel – luna – cut T – masih banyak yang lain yg harus kita kerjakan.Banyak sekali…kalo kita bicarakan kembali mereka kita berarti MENGHIBAH walaupun itu benar dan kalo itu tidak benar kita MENFITNAH. Akibatnya kita juga yang kena…..
    Yang utama adalah Bagaimana kita harus menjaga anak – anak kita dari kemerosotan moral. Untuk itu kita bekali anak – anak kita dengan AGAMA. Betul tidak, (betul.. betul … betul)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s