Akademisi Luar Angkasa

Posted on Updated on

Beberapa minggu lalu masyarakat Jogja dikejutkan dengan penemuan crop circle di lahan persawahan milik warga. Berbagai dugaan muncul, mulai dari buatan mahasiswa, angin puting beliung, bahkan hingga buatan makhuk luar angkasa.  Bagi saya ini lucu karena tanaman padi yang ambruk secara melingkar dan tertata rapi menjadi tontonan banyak orang. Bahkan juga miris mengetahui bahwa ada satu korban yang harus tewas terjatuh ke jurang saat menyaksikan crop circle ini.

Para ahli melalui berbagai alasan dan analisis menyimpulkan bahwa crop cirle ini ada buatan manusia. Sebuah situs menyebutkan bahwa mahasiswa UGM Fakultas MIPA lah yang telah membuatnya. Saya geli membayangkan proses pembuatannya. Beramai ramai membawa jangkar dan papan, satu orang memegang di tengah dan teman lainnya berputar mengelilingi. Kenakalan seperti ini sesungguhnya merupakan hal yang mengasikkan di kala remaja, namun tetap harus dipertanggungjawabkan apabila sudah merusak tanaman warga.

Crop circle membuat saya berfikir tentang hubungan antara akademisi dan petani/praktisi. Akademisi adalah orang orang yang menghabiskan separoh usianya (atau lebih) untuk berada di bangku sekolah, membaca buku, berjam jam didepan komputer, travelling untuk presentasi diberbagai penjuru dunia, mempelajari pada satu bidang ilmu dan gambaran lainnya. Maaf apabila gambaran saya mungkin berbeda dengan gambaran Anda. Petani yang juga bisa disebut sebagai praktisi adalah seseorang yang memiliki atau penggarap sebuah lahan untuk diambil manfaatnya dari hasil produksi tanaman yang dipelihara. Bagaimana hubungan mereka selama ini?

Saya seorang peneliti, sudah lima tahun bergelut dalam penelitian sosial dan perencanaan. Saya menggali masalah melalui observasi. Menelusuri akar masalah tersebut dan menemukan bentuk dari persoalan itu sehingga tau sisi mana yang harus diperbaiki. Saya membuat proposal untuk mendapatkan dana guna menelaah lebih lanjut. Dana digunakan untuk membiayai transportasi, akomodasi, kesekretariatan, makan, publikasi, dll. Setelah mendapatkan dana, saya melakukan penelitian. Saya mengambil data, saya menggodok data, saya mengambil sari data itu, menganalisisnya dan mengambil kesimpulan. Setelah itu saya menyusun rekomendasi berdasarkan hasil penelitian itu.

Dalam metodologi penelitian, apa yang saya lakukan itu sudah benar. Namun, tidak untuk pembangunan dan perencanaan. Ada beberapa alasan mengapa demikian, setidaknya untuk saat ini sampai saya menemukan alasan lainnya, sbb:

Pertama, saya hanya menghasilkan produk, bukan alur pemasaran, bukan market. Kadang kadang saya menulis dan merekomendasikan untuk planet lain. Ibarat penjual tahu, saya hanya buat tahu saja terus menerus tanpa tau tahu itu disukai oleh orang atau tidak, tanpa tau adakah penjual tahu lain disekeliling, tanpa tau dimanakah harus menjual tahu itu.

Kedua, tulisan terlalu cognitive. Tulisan saya dalam penelitian tidak merdeka karena saya tidak bisa langsung mengaplikasikannya di lapangan. Tulisan saya terlalu banyak patron yang harus diikuti. Saya harus mengetiknya dengan kalimat baku yang sulit untuk dipahami oleh masyarakat petani, nelayan atau pengusaha kecil. Saya membuatnya dengan bahasa bahasa langit yang tidak sama dengan nama makanan mereka. (red: panganan opo iki). Saya terlalu cognitive dan tidak merdeka dalam meneliti karena terlalu banyak campur tangan dari si pemberi dana.

Ketiga, terlalu paper based. Saya hanya menumpuk kertas kertas di rak tanpa ada satu jalur untuk membuatnya dipahami. Penelitian saya terlalu paper based tidak dapat diakses. Kurangnya media atau sarana untuk mempublikasikan hasil penelitian yang saya lakukan.

Saya dan para peneliti lainnya, perlu lebih fokus kepada kebutuhan masyarakat. Penelitian yang lebih mementingkan solusi atas persoalan saat ini. Kita perlu inovasi berupa media atau sarana untuk meneteskan atau bahkan menyalurkan hasil hasil penelitian kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami sehingga dapat diakses ke masyarakat. Patron – patron cognitive yang selama ini ada harus dijembatani dengan lebih kuat lagi, untuk memberikan peluang kepada masyarakat mengaplikasikan hasil penelitian.

Karena saya tidak mau menjadi akademisi untuk luar angkasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s