Relative External and Absolute Internal (chapter pengajian ibu-ibu)

Posted on

Tadi malam kajian ibu ibu membahas tentang niat dalam beribadah. Ustad favorit ibu ibu komplek itu mulai membuka dengan doa yang menyejukan. Malam tadi dibahas banyak hal tentang niat dalam beribadah.

Tidak akan aku tulis keseluruhan dari apa yang beliau utarakan, bisa panjang banget. Tapi ada satu uraian beliau yang masih terpatri didalam benakku, yaitu bahwa MUI telah menetapkan fatwa bahwa PRURALISME, SEKULARISME DAN LIBERALISME adalah HARAM. Dalam rasa penasaran yang tinggi, aku terus menyimak dari setiap penjelasan beliau.

Menurutnya PRURALISME diartikan sebagai paham yang menganggab semua agama itu benar, SEKULARISME adalah paham yang memberikan batasan atas urusan keagamaan dan urusan politik sebuah negara dan LIBERALISME adalah paham yang setuju terhadap hal-hal yang dapat diterim akal dan logika dan tidak setuju terhadap hal hal yang tidak diterima logika. Kurang lebih begitu, mungkin ada yang kurang dan ada yang lebih. Sebenarnya tiga kata ini bukanlah kata yang asing kita dengar baik dari siaran pers, diskusi-diskusi dan media masa. Hanya saja ketika hal ini disebut HARAM maka sinyal sinyal warning dalam diriku menjadi lebih kuat.

Apa alasan tiga hal itu menjadi Haram, ini yang menarik. Pertama, dalam konteks Islam Pruralisme menjadikan umatnya tidak meyakini dengan sungguh bahwa agamanya yang paling benar. Jika agama lain benar maka apalah bedanya agama kita, bisa saja kita berpindah pindah sesuai dengan mood agama. Sehingga akan menghilangkan batas konsistensi.  Kedua, sekularisme haram karena konsep ini membuat hubungan antara ajaran agama dan politik menjadi tidak ada. Menurut ustad tersebut, keduanya tidak pisa dipisahkan. Ada aturan aturan yang jelas dalam berhubungan antar manusia dan hukum hukum yang jelas bagi tegaknya keadilan yang ruh nya adalah ajaran agama. Bagaimana mungkin seseorang menjalankan pemerintahan tanpa memiliki ruh keadilan sosial dan ketuhanan. Maka tidak heran jika dirumah dia sangat rajin dalam beribadah dan ketika di kantor dia tetap korupsi, paham inilah yang diharamkan untuk diterapkan. Ketiga, Liberalisme membuat hal hal yang salah dan benar menjadi abu-abu. Artinya begini, paham liberalisme agama menyakini aturan aturan sendiri yang dibangun dari logika berfikir manusia, apabila logika tidak masuk maka hal itu tidak apa apa. Misalnya, seorang wanita muslimah diwajibkan menutup aurat itu adalah aturan yang benar bahwa memang seorang wanita harus menutup aurat. Paham liberalisme dapat membenarkan seorang perempuan membuka auratnya pada suatu komunitas yang belum bisa menerima dia, karena yang diutamakan adalah kerukunan dan kenyamanan. Pake jilbab kan supaya aman dan tenang, tapi kalo berada di komunitas yang telah membuat tenang tanpa memakai jilbab maka jilbab itu sendiri sudah tidak berguna dan dapat dilepas sewaktu waktu. Begitulah kira kira paham liberalisme ini mensikapi aturan aturan.

Apa yang aku tulis diatas hanyalah apa apa yang kira kira disampaikan oleh Ustad. Ada banyak missing tentunya, karena kekurangan ustad ataupun kekuranganku dalam memahami. Yang jelas, aku menjadi melihat diriku sebenarnya ini pada posisi apa? Apakah aku seorang Islam liberal, Islam pruralism atau Islam sekuler. Dalam kehidupan ini cobaan atas keimanan tidak akan pernah berhenti sampai kita menghembuskan nafas terakhir. Tidak akan pernah seseorang mengaku beriman kepada ALLAH swt tanpa pernah diuji. Ujian-ujian paham seperti ini sangat kuat khususnya bagi dunia akademis yang apa-apa bisa diperdebatkan.

Baiklah, aku tau bahwa tidak semua orang yang membaca tulisanku ini adalah Muslim. Maka maafkan aku jika ada kata yang salah. Tidak ada maksud untuk menyakiti ataupun menyinggung. Maka kukatakan pada pembaca semua “Bagimu agamamu dan Bagiku agamaku” ini tidak akan melunturkan cintaku kepada seluruh sahabat sahabatku yang berbeda agama. Ah… aku tidak suka sebenarnya membahas ini, saat kubayangkan teman-temanku yang beda agama sedang membaca tulisanku… but, I just want to tell you bahwa aku akan KERAS namun hanya pada diriku sendiri saja.. namun untuk agama atau paham lain aku akan lembut … seperti kalimatnya Qurais Sihab “Absolute internal but Relative External”… kira kira begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s