Moscow di Awal Musim Semi

Posted on Updated on

Erda Rin Saputra

Mestinya sudah menginjak senja saat aku tiba di bandara Denodedovo Moscow, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 sore. Namun aku lupa bahwa senja di Moscow bisa sampai jam 09.00 malam baru gelap. Badanku yang tertekuk 18 jam rasanya ingin sekali segera bertemu dengan permukaan datar untuk sekedar merebahkan badan. Ya, 18 jam perjalanan dari Jakarta Moscow. Aku singgah di Dubai untuk transit dan kembali melanjutkan perjalanan 9 jam selanjutnya ke Moscow. Sangat melelahkan, apalagi ditambah bonus 10 menit karena ketika akan mendarat di bandara ternyata masih menunggu antri, jadi pilot mengajak kami keliling ke country side untuk menunggu antrian landing. Begitu kami bisa landing dengan sempurna, sebagian penumpang bertepuk tangan memberikan support kepada pilot. Ini baru pertama kalinya dalam perjalananku keliling dunia ada penumpang yang kompak banget bertepuk tangan. Akhirnya aku juga ikut ikutan lah bertepuk tangan.

Saat tiba di Moscow udara cukup bersahabat ukuran orang Moscow (8 C), tapi untukku jangan tanya, langsung terasa merembes hingga ke bawah kulit dinginnya. Apalagi aku dan temanku harus menunggu beberapa teman lain dalam satu rombongan yang juga peserta conference.

Kupandangi langit kota itu, biru namun sendu. Matahari tak tampak juga meskipun aku sudah berputar putar menghadap langit. Meski tak tampak, sinarnya masih membuat suasana terang.

Seorang kawan dari India, Ms. Ambika, menyapa kami dengan ramah. “Hi.. are you IFP Fellow?” katanya. Temanku menjawab; “Yes, we are from Indonesia, are you a fellow too?” Sejurus kami pun terasa sudah lama kenal dan mulai saling akrab. Kami diskusikan untuk menukar uang dalam RUBEL (mata uang rusia). Eh, tapi masalah baru muncul karena ternyata sopir taksi yang menjemput kami tidak bisa berbahasa Inggris. Ambia terus mencoba bicara dengan sopir taksi berambut cepak itu, dengan bahasa Inggris. Bahkan Ambika juga mengeluarkan kuda kudanya alias bahasa isarat. Si sopir Rusia ini belum juga mengerti. Dia juga menjawab dengan bahasanya sendiri. Aduh.. kalau begini sampai besok pagi juga kita gak akan paham.

Aku coba membantu Ambika dengan berbagai bahasa isarat. Aku gesek gesek jadi tanganku untuk menunjukkan “uang”, lalu aku tunjuk tunjuk ke arah money changer, lalu aku tunjuk dia kemudian tunjuk ke bawah. Untuk menyuruhnya tetap berjaga disini. Ahaiii.. ternyata berhasil juga bahasa monyetku ini. Dia akhirnya mengerti, kami pun dengan sedikit khawatir berjalan menuju terminal utama untuk mencari money changer.

Setelah berkeliling beberapa menit kami tidak menemukan juga money changer. Kami memutuskan untuk bertanya. Aku mendatangi salah satu counter yang bertuliskan dalam bahasa Inggris “costumer service”, kupikir mereka akan bisa membantu kami. “Excuse me.., do you know where is the money changer?” tanyaku dengan suara keras karena bandara cukup bising. Ternyata jawabnya mengecewakan, bukan karena jawabannya namun karena responnya. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka hanya melihatku dan berkali kali menyilangkan tangan tanda NO. Kuulang lagi pertanyaanku, tapi tetap sama saja. Uh.. ternyata mereka juga tidak bisa bahasa Inggris. Jengkel juga rasanya, kan tulisannya “costumer service” kenapa penjaganya gak bisa bahasa Inggris.

Ambika dan Piet tertawa, namun tak lama. Mata mereka segera berkeliling kembali ke bandara sibuk itu. Akhirnya ketemu juga, kami bertiga menuju ke money changer. Sayang sekali, mereka tidak menerima RUPEE mata uang India, sehingga Ambika tidak bisa menukar menjadi Rubel. Mereka hanya menerima USD. Oh ternyata, dalam pikirku, katanya bermusuhan kok mata uangnya setia amat. Kasihan juga Ambika, aku lalu menukar USD 50 untuk jaga-jaga. Dengan USD 50 itu aku mendapat kurang lebih RB 1280, cukup lah untuk makan dan jajan selama dua hari.

Setelah itu kami kembali ke tempat mangkal sopir taksi itu. Dia masih setia berdiri ditempat semula dengan memegang kertas laminating bergambar logo armada taksinya. Di tangan kirinya memegang satu grendel kunci. Usianya kira kira 40 an, dan berwajah lembut tidak seperti kebanyakan orang Rusia yang terlihat di bandara itu. Dia tidak begitu tinggi, ya kira kira 170 m lah. Mungkin dia seorang ayah dengan anak anak perempuan yang memanjakannya, itu hanya perkiraanku saja. Setelah kurang lebih 30 menit kami menunggu, seorang teman menyapa ramah. Kami kemudian berkenalan dan sekali lagi langsung akrab seperti sudah lama kenal.

Sopir taksi lembut itu kemudian mengajak kami menuju pintu keluar, tentu masih dengan bahasa monyet yang sama. Kami seperti itik yang berjalan satu persatu mengikuti sopir taksi, kecuali Bella, karena dia harus menggunakan kursi roda.

Kami bercerita panjang lebar dalam perjalanan dari Bandara Denodedovo ke pusat kota Moscow. Bella adalah ahli biologi. Dia fokus pada bidang marine biology, saat ini dia telah memiliki satu laboratorium sendiri di salah satu pantai di Filipina. Selain itu, Bella juga seorang penulis khususnya untuk jurnal dan artikel di Filipina. Ambika juga memperkenalkan dirinya sebagai konsultan lingkungan di daerah Kapur India. Ambika lebih banyak menghabiskan waktu di hutan katanya, untuk mengawasi satwa dilindungi disana. Mendengar mereka bercerita dan menyampaikan aktivitas masing masing, motivasiku terpompa.

Pembicaraan kami mulai ngawur setelah 30 menit taksi yang lebih mirip mobil karimun di Indonesia ini melaju memasuki dereta getho atau rumah susun yang tinggi dan panjang. Rata rata 10 – 15 lantai. Tidak semuanya terlihat rapi, bahkan lebih tepatnya kumuh, ukuran Rusia. Penghuninya banyak yang menjemur baju di cendela-cendela rusun itu. Warna cat yang sudah tidak baru lagi, beberapa bahkan sudah berjamur menambah kesan kotor di getho itu.

“You know what, I think I will open the bussiness here?” kata Bella. Aku, Piet dan Ambika menunggu kalimat selanjutnya. “Car wash” kata Bella sambil tertawa sendiri geli dan disambut tawa oleh kami bertiga kecuali Pak Sopir. Oh… iya, baru sadar kalau sebagian besar mobil di jalanan itu kotor minta ampun. Berbagai merek mobil ada disana, BMW, Suzuki, Daihatsu, Honda, sampai merek merek aneh yang belum pernah dengar sebelumnya. Mungkin karena debu dan hujan yang membuat pengemudi malas untuk mencuci mobilnya.

Piet yang tadinya merekam perjalanan itu nampaknya sudah pada titik nadir untuk tidur. Eittt… cuma berselang 30 menit, dia sudah bermimpi alias tidur.

Meskipun aku ngantuk seribu watt, tetap saja gak bisa memejamkan mata. Rasanya ingin mengabadikan semua yang aku lihat di Moscow yang singkat itu. Jalan utama kota Moscow dibuat sangat luas, untuk one way ada 4 – 6 jalur, sehingga jika two ways maka ada 8-12 jalur. Bayangkan luasnya. Mestinya Indonesia juga buat jalur yang banyak dan jalan yang luas untuk menghindari kemacetan. Kalau aku lihat di jalan utama, mereka menempatkan taman di jalan kurang lebih 10 – 15 meter lebarnya. Terdapat tanaman rendah (bunga) dan pohon tinggi). Antara taman dan jalan aspal terdapat trotoar untuk berjalan pejalan kaki. Berselang setelah taman, baru boleh didirikan bangunan. Sehingga taman tersebut menjadi pereduksi kebisingan dan polusi dari asap kendaraan di jalan. Keren juga penataan cara demikian pikirku.

Masuklah kami pada pusat kota Moscow. Kami disambut bangunan megah dengan kubah biru. Bagi orang Indonesia, bangunan ini pasti disangka mesjid, karena aku pun juga menyangka demikian. Namun begitu melihat ujungnya, eh ternyata gereja. So nice… arsitektur yang menawan khas Rusia dengan penuh filosofi dalam setiap ukiran dan relungnya.

Holiday Inn adalah hotel tempat kami menginap. Panitia telah menyediakan akomodasi tersebut untuk kami. Ahhhhh…. rasanya pengen segera tidurrrrrr…. View dikamarku tidak terlalu bagus, terlihat dari atas tetangga sebelah hotel sedang membangun. Ada galian raksasa sedalam lebih dari 10 meter dan luasnya mungkin 5000 meter, nampaknya mereka sedang membuat pondasi untuk gedung tinggi nantinya.

Kucoba hidupkan heatter untuk menghangatkan ruangan. Aku rapikan dan unpack barang barangku, ku ambil satu daster biru kesayanganku untuk ganti setelah mandi. Rasanya nyaman sekali mandi berendam di kamar mandi hotel berbintang itu. Kamar mandi yang didesain standar hotel bintang. Shampoo dan Sabun cair yang dimasukkan dalam botol kecil ditata rapi didepan cermin lebar itu. Sebelahnya terdapat penutup kepala, sikat gigi dan odol kecil, sisir dan dua buah handuk kecil putih bersih yang dilipat rapi.

Keluar dari kamar mandi, tiba tiba diserang dingin yang hebat. Oh… ternyata hitter di kamarku tidak berfungsi. Aku coba utak atik, tetap saja tidak bisa. Kuputuskan untuk menelpon pihak reseptionis hotel. “Hi, I am in room 267, the hitter is not working, could you please send somebody to fix it”.. kataku, eh… ternyata dijawab dengan bahasa Rusia yang aku tidak tau artinya. “In English Please” kataku meminta. Perempuan di ujung telpon itu kemudian memberikan kepada orang lain. Aih ternyata bahasa inggris memang tidak banyak dikuasai oleh staff di hotel itu.

Beberapa menit sesudah aku telpon, suara bel berbunyi. Dengan berjalan malas karena mantel bulu, kaos kaki dan baju rangkap tiga aku pakai untuk menghalau dingin. Dua orang lelaki setengah baya mengatakan sesuatu menggunakan bahasa Rusia…. Aihhhh lagi lagi bahasa monyetku harus ku keluarkan. Si Bapak yang lebih sintal badannya mengatakan sesuatu, ku tebak saja bahwa dia bilang “Maaf, bisa kah saya masuk untuk membetulkan heater”… dengan tingkah seperti monyet itulah aku katakan “Ya.. ya… come in, see the heater is broken”. Sambil aku gerakkan badanku untuk menunjukkan dingin. Hihiiiii geli rasanya jika inget. Dua orang lelaki itu mengeluarkan perlengkapannya yang sebenarnya lebih mirip seperti perlengkapan bengkel. Tadinya aku sedikit risau kalau kalau mereka mau mengobrak abrik heater di kamarku, berisik dan bakalan gak bisa tidur.

Lalu si bapak satunya yang lebih tinggi mengatakan sesuatu. Aiiihhh ngomong apa nih bapak. Diulang ulangnya kata kata itu, meski minum bunga tuju rupa juga aku gak bakal tau. Aku angguk angguk saja dan bilang ok ok, karena si bapak sudah mulai gak sabar. Lalu mereka berjalan menuju ke pintu; aku tebak aja mereka tadi pasti bilang “Kami cek dulu pusatnya, nanti kami ke sini lagi”…. jreng jreng.. lalu kubilang “Spaci ba” untuk ucapan terimakasih bahasa Rusia.

Tak ada gunanya dua orang datang itu, karena sudah satu jam belum juga terasa kehangatan ruanganku. Kubuat satu cangkir teh hangat, dengan merek Greedfield yang Flying Dragon yang ternyata adalah buatan London UK. Lumayan bisa menghalau dingin sebentar.

6 thoughts on “Moscow di Awal Musim Semi

    Pieter said:
    Mei 11, 2011 pukul 5:06 am

    Wow… cerita yang keren. Bisa dibuat novel nich… serius!
    Thanks for the nice story that remind me when we’re in MOCKBA (alias Moscow).

      erdha responded:
      Mei 12, 2011 pukul 2:11 am

      Hi Prof.Piet? Novel…. mmm good idea. But don’t know how to start.
      Have a great day

    je said:
    Januari 19, 2012 pukul 8:11 am

    ini bulan apa kak? saya rencana ke moskwa dan st.pittersburgh awal april.. apakah cuaca di sana hangat?

      erdha responded:
      Januari 19, 2012 pukul 8:59 am

      Hi Innova, ini bulan April thn 2011. Semoga perjalanannya menyenangkan.

    Robby Rusianto said:
    Januari 26, 2012 pukul 7:23 am

    Hi Erdha, apa tau harga souvenir di russia itu mahal atau tdk ya? saya bingung berapa uang Rubel yg harus saya tukar?

    ardhie said:
    Maret 28, 2013 pukul 6:19 am

    salam kenal,, bolg nya bagus dan dan seru ..
    mba wisata apa saja yang paling sering di kunjungi wisatawan lokal dan mancanegara ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s