Langit biru dan anak jaman

Posted on Updated on

Langit berwarna biru cerah dan matahari terik menyengat saat Annisa berjalan pulang dari sekolah. Annisa, anak umur 9 tahun yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Annisa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Hari harinya dilewati dengan penuh keceriaan. Annisa termasuk anak yang sulit makan, baginya makanan seperti musuh. Entah kenapa dia tiba tiba merasa lapar sekali siang itu. Dengan sepatu hitam yang berdebu dia memasuki rumah neneknya, karena Ibu dan Ayahnya bekerja di siang hari.

Sehari hari Annisa dan adiknya dititipkan di rumah nenek, yang sering dia panggil dengan nama “Uti” alias Eyang Putri. “Assalamua’alaikum..” sapanya ceria.. Dari dalam rumah, si Uti menjawab “Waalaikumsalam….mbak” sambil menggandeng dek Fahru yang berumur dua tahun itu. Dek Fahru dengan kerinduannya sepagian tidak bertemu, langsung menarik tangan Annisa dan mengajaknya bermain. Dia belum mengerti betapa si kakak sungguh lapar dan ingin segera makan. Namun, karena Annisa adalah kakak yang sangat sayang dengan adiknya, dia katakan “Iya dek.. bentar mbak Nisa taruh tas dulu ya”, sapanya sangat lembut. Fahru sambil menggoyangkan kedua kakinya dia memperhatikan gerak gerik Annisa yang sibuk menata diri.

Annisa menaruh tas di mejanya. Ditatanya dengan rapi buku buku pelajaran. Ada sebuah kertas menempel bertuliskan jadwal mata pelajaran yang sudah sobek di ujung ujungnya karena sering dimainkan oleh Fahru. Annisa melepas jilbabnya yang basah oleh keringat dan mengganti bajunya. Fahru kecil ternyata masih menunggu mbak Annisanya.

Karena mengetahui Fahru bersama Annisa, Uti lalu menuju ke dapur untuk mengambilkan satu piring nasi, ayam goreng dan sedikit sayur kacang panjang karena Uti tahu bahwa Annisa tak pernah suka sayur. Namun, bagi Uti tetap saja Annisa harus terus di perkenalkan ke sayur meskipun nanti hanya di tinggal di piring setidaknya Annisa akan melihat sayur itu setiap hari dan berharap suatu saat Annisa tertarik untuk mencobanya dan merasakan lezatnya. “Nis… nih maem dulu, dek Fahru tunggu mbak Annisa biar maem dulu”. teriak Uti dari arah ruang makan. Ah si Fahru, bocah balita itu terlalu pintar untuk tidak mengerti. Sejurus dia berlalu ke ruang makan. Lalu dia bilang, “Maem… maem… hakkk”… katanya sambil jingkat jingkat. Tingkahnya lucu karena badannya gemuk, Fahru sudah 15 kg padahal dia baru 2 tahun 1 bulan. Pipinya penuh dan matanya bening bersih dan lebar. Jika dia tertawa, Fahru punya lesung pipit yang dalam membuatnya sangat manis. Lain si Fahru lain si Annisa, makanan adalah sahabat setia Fahru. Yang paling disukai adalah kue kukus, kata uti sekali makan bisa habis empat potong, terlalu banyak untuk anak 2 tahun.

Annisa mencuci tangannya dengan sabun di kamar mandi dan membasahi mukanya dengan air. Setelah itu dia ambil handuk kecil untuk mengeringkan mukanya. Tangannya meraih remote control TV untuk dinyalakan. Fahru yang tadinya minta maem ke Uti memalingkan muka ke TV untuk menunggu gambar apa yang tampak. Dasar si Fahru, anak yang penuh penasaran, dia lari menuju TV dan dimatikan secara manual. Lalu dia menggoda kakaknya dengan kata, “ohooo ohooo…” sambil tertawa kecil. “Jangan deeeeekkk.. !” kata Annisa sedikit tinggi. Uti yang menyiapkan minum Annisa lalu menengahi, “Eh, sudah nonton TV nya nanti aja sekarang maem dulu, sini dek Fahru juga maem”, sapanya sabar.

Makan siang dirumah itu dilewati dengan penuh keceriaan. Langit warna biru cerah itu telah menjadi layar yang terkembang untuk tumbuhnya anak anak jaman masa kini.

One thought on “Langit biru dan anak jaman

    Inong Oskar said:
    Juni 11, 2011 pukul 4:10 pm

    ……..mmmmh, z t’ingat masa2 kecil dulu “….gimana haus, dahaga menerpa,….saudara & temen2 menggoda…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s