Goyah Cha Cha di trans sulawesi

Posted on

Hari keempat, sudah sesuai jadwal. Aku sudah mesti selesai sosialisasi di Donggala. Subuh buta jam 5 pagi kami sudah tancap gas. Jalanan memang kurang bersahabat, di kanan tanah longsor dan di kiri jurang menganga. Untunglah si sopir gesit. Ia membuat kami di mobil bergoyang dombret dan menahan mual. Lebih parah karena tak ada toilet umum di jalan, terpaksa kita numpang numpang ke rumah warga. Serunya, saat kami minta ijin numpang ke kamar mandi, eh… dia malah ngantar kami ke rumah pak Carik, katanya toilet di sana lebih bagus. Alamak… jadi kita naik bukit sedikit untuk sekedar numpang ke toilet.
Seisi mobil para tim teknis dan fasilitator mencoba menghibur diri. Tak ada musik, karena lupa tidak bawa kaset, sedangkan radio.. ah.. hanya bunyi lebah yang terdengar. Alhasil, musik di hp jadi alternatif, meski terasa aneh dan lebih menyiksa telinga dari pada memberi hiburan.
Perjalanan tetap lanjut menyusuri trans Sulawesi yang keras itu. Rasa lelah sirna ketika di lihat jutaan pohon kelapa di kiri dan kanan jalan sepanjang lebih dari tiga kilo meter, rapi tertata, indah sekali. Juga terhampar pasir putih selembut tepung belum terjamah.
Kami sempat mampir di sebuah warung kecil untuk mengisi perut. Sayang tak ada apa apa. Hanya mie instand, nasi dan telor, pilihan yang bijak untuk mengisi perut dari pada tidak ada sama sekali… Saat makan, kami di buat ternganga tak habis pikir ketika bertemu seorang bule dari Amrik.
Ia telah bersepeda dari Manado dengan tujuan Makasar, dan kini ia sudah sampai di Donggala. Lebih dari seminggu ia bersepeda, jika hari gelap ia menginap di rumah warga. Sepedanya sepeda biasa, hanya satu tas kecil di belakang yang di jepit…. ia sempat bilang, “the bike is so slow… I think she is a woman…” sontak kami tertawa.. bukankah sepeda tergantung orangnya.
Ahaiii… gila nian itu bule, usianya bukan muda lagi mungkin 60 tahun.
Kami satu tim hanya bisa bergeleng geleng mendengarkan ceritanya. Setelah mendengarkan kegilaan si bule itu, rasanya tempat dudukku begitu empuk, dan goyangan di jalan lebih seperti tarian cha cha dari pada goyangan di sungai kering.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s