Mimikri Pariwisata

Posted on

 “Sate dan teh tarik due Pak Cik!” seru Pak Be menirukan logat melayu. Namun bagiku terdengar aneh, karena lidahnya tak bisa menipu, tetap lidah Solo.

Secuil kenangan perjalanan ke Kuala Lumpur dan Serawak Malaysia akhir tahun lalu, mungkin sudah hampir setahun yang lalu. Apa yang sebenarnya bisa diambil hikmah dari perjalan yang saya lakukan di tahun lalu nampaknya tak lebih dari kunjungan penelitian biasa, tetapi ketika saya mencoba mendalami makna dari perjalanan saya ke Malaysia tersingkap berbagai ilmu yang penting.

Jika Azyumardi Azra menulis tentang konsep sosio antropologi pariwisata maka saya akan mengetengahkan contoh yang serupa (lihat postingan sebelumnya). Jika ia menggunakan contoh seorang sinegal yang menggunakan bahasa Indonesia untuk menawarkan produk pada wisatawan Indonesia yang ia jumpai di depan menara Eifel, maka saya akan mengambil contoh rekan saya yang baru saja saya tulis di paragraph pertama.

 

 

 

 

Pic.1. Pesanan Teh tarik dan Sate di Melaka

Pak Be berusaha akrab dengan masyarakat setempat, yaitu masyarakat Melayu Malaysia dengan berusaha menirukan logat mereka berharap dengan begitu ia bisa menikmati teh tarik dengan cita rasa penduduk lokal. Hal serupa juga terjadi pada wisatawan wisatawan yang berasal dari luar Jogja, saya sering memperhatikan mereka mencoba menawar barang di Jl. Malioboro dengan menggunakan bahasa Jawa. Meskipun, alhasil mereka tidak mendapatkan harga lebih murah.

Apa sebenarnya penyebab mereka melakukan itu? Saya mencoba berfikir dari sisi motivasi wisatawan untuk berkunjung dan memutuskan untuk menggunakan kalimat kalimat masyarakat lokal.

Pertama, pengalaman khusus menjadi warga lokal ingin sekali dirasakan oleh wisatawan. Anda tidak akan pernah merasakan menjadi diri Anda sendiri sebelum Anda keluar dari diri anda dan menjadi orang lain untuk sementara. Itulah dasar pemikiran saya. Kita kadang kadang sulit untuk melihat diri sendiri dan memaknai diri sendiri ketika kita tidak mencoba memandang diri sendiri dari kacamata orang lain. Ketika saya mempraktekan untuk menggunakan satu kalimat bahasa lokal (meskipun hanya dialeg) saya merasakan sebuah energi universal. Energi itu menerangi batas batas identitas saya sebagai manusia berbangsa, bernegara dan berbahasa. Saya tidak pernah sedikitpun merasa bahwa bahasa Indonesia itu penting sebelum saya benar benar berbicara dengan bahasa orang lain. Pengalaman berdiri dan keluar dari raga diri untuk masuk menjadi identitas orang lain adalah pengalaman yang luar biasa dalam spiritual manusia. Namun hal itu tidak akan menjadi luar biasa ketika kita tidak segera kembali kepada identitas awal. Itulah saya kira yang menjadi sebuah kepuasan bagi rekan saya itu untuk ber’mimikri’ menjadi warga lokal.

Kedua, rasa ingin tahu. Ketika rekan saya, Pak Be, mengatakan itu dengan si penjual sate dan teh tarik, yang sungguh saya nantikan adalah reaksi dari si penjual sate. Apakah dia akan tertawa. Apakah dia akan menjawab dengan bahasa lokal, apakah dia akan menjawab dengan bahasa kita, atau apa… sebuah penantian jawaban yang mengasyikkan. Akhirnya dia pun menjawab dengan senyum saja tanpa sebuah kata apapun. Hei… come on, kata saya dalam hati. Bukan senyum yang saya nantikan, tetapi reaksi apa yang muncul dari lontaran kalimat Pak Be. Kemudian tak berapa lama seorang pelayan datang membawa pesanan, teh tarik dan sate, dia kelihatan terburu buru dan langsung menaruh pesanan di atas meja sambil mengulang menu, “Due teh, due sate.” Itu saja yang dia ucapkan. Dari apa yang dia sampaikan saya menarik kesimpulan bahwa penjual itu berfikir kami warga lokal, atau setidaknya kami pendatang yang telah lama makan disitu. Analisis yang lain adalah dia tidak sedang ingin berhospitality dengan kami. Kendati demikian, saya menikmati rasa ingin tahu yang datang dari respon masyarakat lokal ketika mendengar kalimat dari Pak Be.

Ketiga, kemudahan berkomunikasi. Memang benar secara logika alasan itulah yang langsung terfikirkan di benak saya. Supaya mudah dipahami sehingga cepat dilayani saya kira menjadi alasan yang logis seseorang menggunakan bahasa lokal. Ini serupa ketika saya berada di USA tentu saya akan menggunakan bahasa Inggris, karena saya tidak memiliki pilihan lain. Bahasa Indonesia meskipun di gunakan oleh lebih dari 250 juta orang, namun jangan merasa yakin di USA satu dari seratus ribu orang bisa berbahasa Indonesia. Sehingga tentu saja saya menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Untuk kasus contoh Malaysia, maka tidak ada alasan yang sama. Dimana sebenarnya Pak Be bisa saja menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia karena toh mereka pun mengerti. So, alasan kemudahan berkomunikasi nampaknya menjadi alasan yang logis namun tidak memberikan sebuah pengalaman sosial.

 

 

 

 

Pic 2. Berfoto dengan manekin di Bukit Bintang, Kuala lumpur

Jika boleh, dan tentu boleh boleh saja, saya akan menyebut apa yang dilakukan Pak Be adalah Mimikri Pariwisata. Dimana kita melepas, menelanjangi dan menaruh semua label yang ada pada diri kita untuk turun bertelanjang bendera menikmati sebuah pengalaman spiritual berwisata. Dan saya kira banyak wisatawan minat khusus, special interest tourism, telah melakukannya baik secara sadar maupun tidak sadar. Selamat mencoba ….

 

4 thoughts on “Mimikri Pariwisata

    Nizar Nasution said:
    Desember 12, 2011 pukul 2:11 pm

    salam kenal,

    saya kalau ke medan melawat famili sebelah mama,masih gunakan bahasa malaysia sambil dikit2 bahasa loghat indonesia…

    erdha responded:
    Desember 13, 2011 pukul 6:15 am

    Salam kenal, terimakasih sudah bersedia berkomentar di sini.

    honeysweet said:
    Februari 4, 2012 pukul 8:52 am

    aku kalo ke bandung manggilnya akang, teteh…pinginku sih pake bahasa sunda juga (tp gak bisa sayange) alesannya biar lebih membaur aja…. soalnya aneh kalo panggil mas/mbak disana, berasa dari dunia lain, hehe…

    ardiie said:
    Maret 27, 2013 pukul 2:12 pm

    salam kenal ..

    bahasa nya hampir sama seperti bangkabelitung,, ouh ya wisata alam yang menarik dan sering di kunjungi wisatan mancanegara apa saja ya ???
    terimkasih …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s