Menyedihkan Runtuhnya Jembatan Kukar

Posted on Updated on

Oleh: Erda Rindrasih

Ketersediaan infrastruktur adalah hak rakyat. Rakyat telah membayar pajak melalui berbagai macam bentuk tarikan kepada pemerintah yang dipercaya untuk mengelola uang uang masyarakat. Sudah sepantasnyalah masyarakat yang bersusah menyisihkan pajak untuk negara mendapatkan haknya salaha satunya adalah ketersediaan infrastruktur tersebut dapat berupa jalan, jembatan, fasilitas umum, trotoar, taman kota, dll.

Namun baru baru ini kita dikejutkan dengan runtuhnya jembatan di Kutai Kartanegara yang menghubungkan Tenggarong dengan Tenggarong seberang. Jembatan itu ambruk sekitar pukul 15.30 Wita atau sekitar pukul 16.00 WIB. Belum diketahui penyebab ambrolnya jembatan yang berusia 11 tahun itu. Gubernur Kaltim (Kalimantan Timur) melaporkan ke Presiden, tiga orang meninggal dan 17 luka-luka. Menyedihkan, itulah kata yang pertama terngiang ngiang di kepala saya.

Korban Meninggal

Menyedihkan karena ada korban meninggal dan luka. Dilaporkan sampai 28 nov 2011 masih ada 39 orang yang belum ditemukan. Saya yakin keluarga korban sangatlah sedih. Jembatan sekokoh itu ternyata tidak mampu memberikan keamanan pada orang orang yang melintas. Nyawa menjadi sangat murah. Kalo orang Jawa bilang ..klethas klethes… begitu mudahnya rakyat mati karena transportasi negara ini yang buruk. Kereta api, kecelakaan jalan, bus kota, pesawat, dan kini jembatan. Menyedihkan.

Umur Pendek

Tidak hanya pendeknya umur para korban tetapi pendeknya umur jembatan itupun menjadi fakta yang menyesakkan. Bagaimana mungkin jembatan yang ditargetkan akan dapat beroperasi selama 100 tahun, hanya dengan 11 tahun saja sudah ambruk. Ini berarti dengan hanya 10% dari waktu yang ditetapkan. Menyedihkan.

Dugaan Korupsi

Dugaan korupsi saya kira tidak berlebihan untuk kasus Jembatan Kukar ini. Kenapa? lihat saja, hanya dalam 11 tahun jembatan ini sudah KO. Orang awampun yang pernah membangun rumah tahu bahwa campuran semen dikurangi satu kilo saja akan mempengaruhi hasil dari balok semen tersebut. Dan itu sudah menjadi rahasia umum yang basi dan menjijikkan. Ini sama dengan korupsi, ini sama dengan riba (mengurangi timbangan), ini sama dengan kejahatan. Jembatan ini menghabiskan dana Rp 95 milliar (okezone.com), dan runtuh begitu saja. Yang pasti ada beberapa stakeholder yang bisa dipetakan, konsultan pengembangan, kontraktor, dan pemberi jasa. Siapa mereka, biarkan media yang mengungkapkannya. Menyedihkan..

Sarjana teknik sipil karbitan

Jangan jangan memang kualitas sarjana sipil kita yang jongkok. Saya sendiri tidak tahu apakah jembatan ini dibangun oleh sarjana sipil dalam negeri atau luar negeri. Yang jelas tim  ini telah gagal. Seorang teman menulis di statusnya bahwa seorang sarjana Jepang saat membangun jembatan Sungai Kampar Riau bunuh diri dengan terjun ke sungai hanya karena hitungan matematikanya salah, padahal jembatan itu tidak rubuh meski hitungannya salah beberapa centimeter saja. Sungguh hal ini menjukkan dedikasi yang tinggi dan rasa tanggungjawab dari seorang insinyur sipil. Apa yang terjadi di Indonesia, sudah tidak becus menghitung matematika, sudah membunuh banyak orang, masih juga dapat proyek jembatan lagi di tempat lain. Menyedihkan.

Jembatan Simbol Penghubung

Bagi saya jembatan ini tidak hanya dilihat dari sisi fisiknya saja namun ada value dan simbol yang putus. Yaitu penghubung. Penghubung antara dua kota. Penghubung kegiatan ekonomi dan sosial. Kalau hanya dua kota terpisah, masih ada speed boat, kapal untuk menyeberang. Namun bagaimana jika kepercayaan terhadap negara itu putus? Sulit untuk menyambungnya kembali.  Oh menyedihkan.

Belajar dari Runtuhnya Jembatan Kukar

Kendati demikian, kita tidak boleh ikut runtuh kawan. Mari belajar dari kesalahan. Para insinyur cobalah lebih bekerja keras dan jangan jadikan uang segalanya. Berkaryalah untuk umat. Sungguh karyamu itu lebih memuliakanmu dari pada hartamu. Pemerintah daerah sudahlah tak usah dipotong potong internal fee, biaya administrasi atau tetekbengek namanya. Berikan dana itu utuh untuk kontraktor supaya mereka bisa optimal melaksanakan tugasnya. Dinas perhubungan, cobalah lebih jeli dalam melakukan monitoring konstruksi jembatan. Catat dengan cermat kerusakan dan kemungkinan bahaya yang ada. Laporkan dan jangan segan segan memperbaikinya. Kontraktor, cobalah jujur dengan material. Galilah ilmu dan belajarlah dari jembatan jembatan lain di dunia. Untuk masyarakat, tetaplah jadi pembayar pajak yang setia, jangan lupa awasi pemerintah dan kontraktor.

Karena saya percaya runtuhnya jembatan ini memberikan banyak hikmah bagi kita semua yang mau berfikir.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s