MAKNA “PARIWISATA YANG TAK TERLUPAKAN” SEBAGAI STRATEGI MENDATANGKAN WISATAWAN KE JOGJAKARTA

Posted on Updated on

banner resmi

LOMBA KARYA TULIS PARIWISATA 2012
“PENINGKATAN KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA DAN NUSANTARA KE DIY”

MAKNA “PARIWISATA YANG TAK TERLUPAKAN” SEBAGAI STRATEGI MENDATANGKAN WISATAWAN KE JOGJAKARTA
Oleh: Erda Rindrasih

ABSTRAK. Pengalaman berwisata telah menjadi vocal point dalam berbagai penelitian pariwisata dan manajemen. Ketika para akademisi sibuk menghitung jumlah kunjungan wisatawan dan mencari cara supaya memperbanyak jumlah kunjungan wisatawan, tulisan ini mengupas tentang bagaimana supaya wisatawan memiliki pengalaman berwisata yang tak terlupakan, spesial, spektakuler, pas, dan selalu terkenang. Tentu saja hal ini akan membuat mereka bercerita kepada orang lain pengalaman mereka yang tak terlupakan tersebut. Tulisan ini didasarkan pada penelusuran kepustakaan, catatan pribadi, kliping dan hasil interview dengan respondent yang terbatas.
Kata Kunci: tak terlupakan, pengalaman, pariwisata, intimasi

PENDAHULUAN
Pariwisata telah diakui secara internasional sebagai sektor penting dalam ekonomi, sosial dan politik sebuah bangsa. Keberhasilan sektor pariwisata kerap kali diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal wisatawan dan biaya yang dibelanjakan selama mengunjungi destinasi. Sehingga perencanaan pariwisata selama ini beramai ramai menyoroti tentang target target yang bersifat material dan terukur dengan nominal. Hal ini digunakan untuk memenuhi kepentingan ekonomi maupun sosial.
Tinjauan tentang aspek kualitas pelayanan pariwisata masih terbatas. Berbagai perencanaan tentang pariwisata selalu diarahkan untuk memberikan dampak yang positif bagi lingkungan, sosial dan ekonomi. Namun kadang kala kita lupa tentang dampak bagi wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata itu sendiri. Penelitian tentang destinasi, tentang pasar, tentang industri dan segala elemen pariwisata telah banyak dihasilkan oleh ahli ahli pariwisata di negara ini. Namun, Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan pariwisata dibandingkan dengan negara tetangga. Peneliti, praktisi, pemerintah biasanya menjelaskan ketertinggalan kepariwisataan Indonesia disebabkan oleh buruknya manajemen destinasi, rendahnya kualitas pemasaran dan promosi, dukungan infrastruktur dan fasilitas yang miskin, kurangnya dukungan dari pemerintah lokal atau masyarakat. Sehingga tinjauan tentang kualitas pelayanan itu sendiri masih terbatas.
Indonesia mampu menyusun tujuh resep ampuh dalam pengembangan pariwisata yang disebut dengan Sapta Pesona. Sapta Pesona terdiri atas aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan. Point Sapta Pesona dari satu sampai empat merupakan hasil pengejawantahan indikator fisik destinasi. Namun point lima dan enam (ramah tamah dan kenangan) merupakah dua dari tujuh pesona yang belum banyak dibahas oleh para ahli dan perencana pariwisata. Padahal kedua point tersebut sama penting dan bahkan menjadi point terpenting sebagai alasan wisatawan kembali ke destinasi.
Yogyakarta sebagai salah satu destinasi penting di Indonesia harus mampu mengambil peran menjadi destinasi yang tak terlupakan bagi wisatawan. Berdasarkan uraian dari Badan Statistik (2012) menunjukkan bahwa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Provinsi DIY secara rata rata bulan Oktober 2012 sebesar 62,43 persen. Rata rata lama menginap wisatawan di hotel bintang di Provinsi DIY pada bulan Oktober 2012 sebesar 1,79 malam atau mengalami peningkatan 0,04 malam dari rata rata lama menginap bulan sebelumnya. Fakta ini dapat dikategorikan rendah dibandingkan dengan rata rata lama tinggal wisatawan di Indonesia yaitu 2,8 hari. Dimana sebagai perbandingan rata rata lama tinggal tertinggi di dunia adalah India yaitu 31,2 hari .
Tulisan singkat ini bermaksud untuk mengulas dengan pendekatan essay bebas tentang bagaimana membuat wisatawan merasa nyaman di suatu tempat wisata, dan memiliki kenangan untuk kembali dan membawa serta keluarga dan handai tolannya ke Indonesia pada umumnya dan Jogjakarta pada khususnya. Bagaimana menemukan cara supaya wisatawan lebih betah berlama lama di sebuah obyek wisata. Untuk memenuhi data data dan analisis penulis melakukan penelusuran kepustakaan, koran, catatan pengalaman pribadi selama mengunjungi negara negara lain dan hasil wawancara tak terstruktur dengan wisatawan asing yang datang ke Jogjakarta.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengalaman pariwisata di artikan bermacam macam oleh para ahli pariwisata. Ritchie (2011) menuliskan bahwa pengalaman berwisata adalah evaluasi subjektif dari individu terhadap kejadian yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata pada dirinya mulai dari persiapan untuk bepergian, selama ada didestinasi dan setelah selesai perjalanan. Oleh karena itu maka perencana pariwisata mestinya memfasilitasi pengembangan sebuah lingkungan dari destinasi yang meningkatkan daya pikat terhadap turis untuk membuat pengalaman berwisata yang tak terlupakan dalam arti positif.
Merencanakan sebuah destinasi dengan daya pikat yang tinggi untuk wisatawan merupakan pekerjaan yang rumit. Seorang manager atau pengelola destinasi tidak dapat sepenuhnya memberikan pengalaman berwisata yang tak terlupakan bagi wisatawan secara langsung. Hal ini karena setiap pengalaman itu unik dan sangat subjektif meskipun seorang perencana pariwisata telah berusaha memberikan pelayanan yang baik, event yang menarik dan beragam aktivitas. Lalu bagaimana cara untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan tersebut?
Kegiatan wisata yang tak terlupakan memiliki keterkaitan erat dengan ilmu psikologi dan antropologi. Oleh karena itu dalam tinjauan pustaka ini, kita perlu menyimak beberapa pendapat dari para pakar pariwisata berbasis psikologi dan antropologi tentang maksud dan makna pariwisata yang tak terlupakan (Memorable Experiences in hospitality and tourism). Gunter (1978) mengidentifikasi ragam terminologi untuk membahas tentang pengalaman berwisata berdasarkan tingkat mudah diingat atau tidak diingat. Selain itu Woodside Caldwell, & Albers-Miller, 2004 pernah melakukan penelitian tentang kesan yang positif terhadap sebuah obyek wisata merupakan alasan utama wisatawan kembali mengunjungi destinasi dan melakukan gethok tular terhadap orang lain. Selaras dengan pendapat sebelumnya, Ritchie & Crouch, 2003 melihat dari sisi manajerial, pengelola destinasi yang baik adalah ketika mereka mempertimbangkan aspek kenangan yang tak terlupakan tersebut dalam perencanaan pariwisata. Inilah yang menjadi keunggulan bagi sebuah destinasi dibandingkan destinasi yang lain.
Pengalaman yang memuaskan
Pengalaman yang memuaskan dapat dimaknai sebagai harmonisasi dari kebutuhan dan keadaan, sedangkan ketidakpuasan diartikan sebagai jarak antara harapan dan pengalaman (Ryan, 1997). Oleh karena itu seorang perencana pariwisata mestinya dapat menggunakan pertimbangan kepuasan wisatawan. Sehingga perencana perlu menetapkan kebijakan untuk mengurangi resiko resiko berkurangnya kepuasan wisatawan. Kendati demikian, perencana pariwisata kadang kala mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan kebijakan pengurangan ketidakpuasan wisatawan. Hal ini terjadi karena begitu rumitnya memahami kepuasan wisatawan. Jika Noe (1987) menganalisis bahwa ekspresi dari wisatawan misalnya: tertawa bahagia merupakan indikator kepuasan wisatawan namun Pearce (2005) mengatakan bahwa kepuasaan merupakan sebuah atitude dimana menyangkut affective, cognitive dan elemen kebiasaan. Oleh karenanya setiap orang memiliki indikator yang berbeda untuk menunjukkan kepuasan. Otto & Richie, (1995) memberikan pendapat bahwa kepuasan sebuah pelayanan pariwisata merupakan level dari subjektivitas, emosional dan respon dari pelayanan yang diberikan. Jadi sungguh rumit memahami kepuasan wisatawan. Hasil penelitian yang lebih mendekati adalah dari Arnould dan Price (1993) yang meneliti tentang pengalaman melakukan rafting, menuliskan bahwa wisatawan menyebutkan tiga dimensi kepuasannya yaitu; hubungan dengan alam, interaksi dengan teman, keluarga atau orang baru, dan pengembangan diri.

3006_90635238752_984487_n

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Wisatawan belajar berselancar

Mengelola Pengalaman yang tak terlupakan
Dari sisi manajerial Pine dan Gilmore (1998) merubah arah target sebuah paradigma manajemen yaitu dari manajemen yang menekankan pada pelayanan ke arah arah manajemen yang membangun pengalaman. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa pengalaman adalah subjective yang hanya dialami oleh perorangan yang melibatkan emosional, interaksi fisik, spiritual dan level intelektual. Ia mendefinisikan empat domain dari pengalaman yaitu hiburan, pendidikan, estetika dan petualangan. Pine dan Gilmore (1998) menuliskan bahwa pengalaman seorang petualang (escapist) melibatkan perasaan dari costumer baik partisipasi aktif maupun immersion ada dalam konsep alur pengalaman yang dituliskan oleh Cary’s (2004) tentang serendipiti memiliki sedikit atau tidak ada dampak dari pengalaman mereka sebagaimana seorang wisatawan yang melihat Grand Canyon dari atas jurang, seorang escapist akan mentransformasikan ke dalam pengalaman estetik (Pine dan Gilmore, 1998).
Pine dan Gilmore (1998) menyusun lima point dimana mereka menyebutnya dengan sebuah prinsip desain pengalaman yaitu terdiri atas; tema dari pengalaman, impresi harmonis dengan kesan positif, mengurangi kesan negatif, penggabungan dalam ingatan dengan melibatkan lima indra. Pendapat mereka banyak digunakan oleh para peneliti pariwisata di berbagai negara yang telah maju pariwisatanya.
Ingatan dan Pengalaman
Selanjutnya kita akan mencoba memahami hubungan antara ingatan dan pengalaman. Biasanya interpretasi dari pengalaman adalah melalui konsep naratif. Naratif didefinisikan sebagai pengetahuan struktur yang terdiri atas urutan tematik dan sementara yang berhubungan dengan kejadian peristiwa. Pengalaman kemudian disampaikan dalam story-telling yang kemudian menjadi populer untuk menganalisis ingatan dan pengalaman dari wisatawan (Woodside, 2010). Schank (1999) menyebutkan bahwa ingatan manusia berpola dasar seperti naskah, dan tiap individu biasanya menggunakan interpretasinya sendiri berdasarkan pengalaman menjadi sebuah cerita. Di dalam literatur pariwisata, storytelling telah digunakan untuk menganalisis cerita dan tema di dalam setting interpretative (Moscardo, 2010). Contohnya peneliti biasanya meminta partisipan untuk menyebut tipe spesifik dari pengalaman misalnya, backpaking untuk mengetahui dampak perjalanannya terhadap identitas dirinya (Desforger, 2000), atau dalam fungsi dari pengembangan pariwisata seperti kualitas pelayanan (Obenour, Patternson, Pederson & Pearce, 2006).
Pentingnya storytelling di dalam memahami pengalaman berwisata dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan pada Moscardo (2010), wisatawan membuat cerita selama perjalanan mereka. Kemudian cerita disampaikan oleh mereka menjadi efek dari keseluruhan brand destinasi. Oleh karena itu menajemen destinasi harus didukung oleh desain dan kreasi dari konsistensi antara pengalaman dari apa yang didengar dengan tema destinasi (Pine &Gilmore, 1998). Kemudian, storytelling tersebut membentuk ingatan impresi terhadap kejadian sepanjang masa (McGregor & Holmes, 1999). Cerita biasanya akan tersimpan di dalam ingatan dan kapanpun dapat dibuka ketika terdapat klue baik dari individual yang terlibat dalam pengalaman tersebut maupun lokasi yang dikunjungi.

 

Cara Kerja Ingatan
Sejak 1980an, penelitian pariwisata mengalami kebuntuan karena terbatasnya metodologi yang bisa digunakan untuk penelitian pariwisata sehingga banyak digunakan pendekatan penelitian tradisional. Penelitian tradisional biasanya melakukan studi survey lapangan, diary perjalanan, interview baik terstruktur maupun tidak terstruktur, dan mengobservasi tingkat partisipasi (Volo, 2010). Namun saat ini kita mestinya bergerak ke arah penelitian yang berbasis metode sampling dan cara kerja memori.
Namun hal ini bukan berarti tanpa tantangan karena analisis terhadap memori biasanya merupakan ekspresi yang cepat. Biasanya, ada batasan generalisasi ketika ingatan partisipan dibentuk oleh lingkungan sosial dan arahan. Selain itu analisis ingatan harus didukung oleh waktu yang banyak dan komitmen yang kuat baik dari peneliti maupun dari responden karena analisis memori memerlukan waktu yang panjang mulai dari analisis memori sebelum kunjungan, ketika kunjungan dan sesudah kunjungan.
Kepedulian dan Ketidakpedulian
Konsep ketidakpedulian (midlesness) adalah salah satu obyek utama dalam teori kognisi sosial yang telah diaplikasikan dalam penelitian pariwisata (Moscardo & Pearce 1986). Ketidakpedulian merupakan sebuah cara berfikir yang berdasarkan pada informasi tanpa dilengkapi dengan kesadaran terhadap tindakan alternatif yang harus dilakukan terkait dengan informasi (Langer, Hatem, Joss & Howell, 1989). Jika seorang individu tidak paham maka ia akan berperilaku sesuai dengan apa yang ia dapatkan di masa lalu tentang informasi yang baru dari pada saat informasi sekarang ada. Oleh karenanya seorang yang cuek cenderung tidak perduli dengan situasi yang ada disekitarnya sebagai sebuah sumber informasi yang baru. Kebalikan dari cuek adalah peduli, yaitu ketika seseorang mendapatkan informasi yang baru kemudian menyusun perbedaan, memeriksa informasi dari perspectiv yang baru dan lebih sensitif terhadap konteks yang dipasang dalam informasi baru. Seseorang yang peduli menjalankan fungsi novelty, terkejut atau lainnya dan memberikan kekuatan pribadi untuk menjalankan kebiasaannya khususnya dalam situasi dimana mereka merasa bahwa mereka memiliki kesempatan untuk belajar, mengontrol dan bahkan mempengaruhi (Langer& Piper, 1988).
Dalam studi tentang pariwisata banyak peneliti yang menyarankan menggunakan tingkat kepedulian sebagai alat untuk mengelola pengalaman wisatawan di destinasi. Contohnya, sebuah emosi kepedulian yang pernah ada di tulisa oleh Moscardo (1988) yang mengobservasi bahwa seseorang akan bertahan lebih lama di dalam ruang pameran apabila mereka memiliki keterikatan emosi terhadap obyek yang didisplay. Selain itu seseorang yang peduli berasosiasi dengan pembelajaran yang lebih besar dan kepuasan yang lebih besar dalam kegiatan rekreasi. Misalnya seorang wisatawan akan lebih merasa puas terhadap pengalaman mendidik jika mereka dipaparkan pada informasi (Moscardo, 1999). Oleh karena itu maka seluruh objek yang memberikan sumber informasi kepada pengunjung/wisatawan misalnya: tanda, brosur, displai dan pamlet haruslah di siapkan sesuai dengan situasi yang terintegrasi. Hal ini penting untuk meng-induce pengalaman kepedulian (Langer & Moldoveanu, 2000). Jika situasi lingkungan tidak menyediakan pengalaman tentang kepedulian, maka kemungkinan besar pengunjung tidak terikat pada lokasi dan merasa tidak perlu melakukan sesuatu terhadap destinasi yang dituju (Langer, 1989).

Memory Formation and Retention (Pembentukan memori dan penekanan kembali)
Autobiografi memori didefinsikan sebagai pengalaman mengoleksi kembali dari kehidupannya sendiri (Piolino, Desgranges, Benali & Eutache, 2002). Terdapat perbedaan yang kuat antara klasifikasi umum, episode memori dan biografi dari memori. Autobiografi memory mempertimbangkan sebuah spesialisasi subset dari episode memori tergantung jumlah referensi personal yang terlibat. Oleh karena itu, episode memori dapat memiliki proporsi yang besar dari keikutsertaan hal lainnya, ingatan autobiografi khususnya konsen terhadap pengetahuan diri di masa lalu (Baumgartner, Sujan & Bettman, 1992).
Autobiografi memori telah banyak diteliti dalam beberapa fungsi area misalnya dalam psikologi seperti kognitif, sosial, pengembangan dan neuro psikologi. Salah satu dari model yang penting dideskripsikan dalam fitur memori autobiografi di sarankan oleh Conway dan Pleydell-Pearce (2000). Dalam model ini ingatan autobiografi terdiri atas tiga komponen pokok; periode lifetime, event umum dan pengetahuan even spesifik. Periode hidup membentuk dasar dari waktu dengan mengidentifikasi permulaan dan akhir dari periode dari pada discrete. Sebagai contoh, seseorang mungkin akan merefleksikan ingatan seperti ini “ketika saya berumur lima tahun” atau “saat saya berada di Indonesia”. Kejadian yang umum memberikan kesan baik sekali ataupun berulang kali. Hal ini akan membetuk sebuah cerita singkat dari kegiatan, biasanya satu cerita bisa membuat seseorang teringat pada cerita lainnya yang memiliki tema bersentuhan.

PEMBAHASAN

Ketika memahami kegiatan pariwisata kita mestinya tidak hanya melihat ketika pariwisata berlangsung. Melainkan kita perlu melihat bahwa sebenarnya kegiatan pariwisata menyangkut dimensi sebelum kegiatan, selama kegiatan dan sesudah kegiatan. Kelihatannya dimensi dimensi tersebut memang di luar jangkauan dari industri pariwisata, namun perencana pariwisata masih dapat membangun sebuah kebijakan destinasi yang didesain untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Pariwisata bermuara kenangan indah
Kegiatan pariwisata yang bermuara pada kenangan indah harus direncanakan dengan komprehensif process, yaitu dimulai dari sebelum berwisata, ketika berwisata dan sesudah berwisata. Pertama sebelum berwisata, perencana pariwisata DIY perlu mengelola sebuah basis perencanaan dimulai dari sebelum kegiatan pariwisata itu berlangsung dengan memahami apa sebenarnya yang diperlukan oleh wisatawan. Misalnya, sebelum berangkat diperlukan semacam survey awal untuk mengetahui apa ekspektasi yang ingin dicapai oleh wisatawan. Seorang perencana pariwisata dapat mempengaruhi emosi yang dirasakan oleh wisatawan selama berwisata dan juga pengaruh dari emosi tersebut terhadap kualtias pengalaman. Perencana dapat menggunakan promosi “branding” untuk menyampaikan janji dari tipe pengalaman yang tak terlupakan yang ditawarkan oleh destinasi. Hal ini akan membantu calon wisatawan untuk menyusun ekspektasi mereka sehingga pengalaman berwisata menjadi mungkin lebih tak terlupakan.

Kedua adalah saat berwisata. Nah, dalam pariwisata fungsi cerita yang dibentuk oleh seorang tour guide akan membentuk sebuah bangunan/struktur cerita yang memberikan keutuhan autobiografi dari seseorang. Bentuk dari ingatan autobiografi biasanya melalui proses yang berbeda yang dipengaruhi oleh latar belakang demografi dari tiap orang. Pillemer, Wink, DiDonato dan Sanborn (2003) meneliti dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung mampu mengingat episode hidup yang lebih spesifik dan detail daripada laki laki. Dalam tataran usia (Hamond dan Fivush, 1991) melakukan riset membandingkan antara anak anak dan dewasa yang mengunjungi disneyland. Hasilnya adalah anak anak lebih banyak menyerap pengalaman dari pada dewasa. Kemudian dari sisi lifesyle, Falk dan Dierking (1990) meneliti bahwa remaja biasanya mengingat perjalanan dari dimensi sosial misalnya pergi bersama siapa, apa yang mereka lakukan bersama, sebagai aspek yang tak terlupakan dalam perjalanan wisata.

Ketiga adalah sesudah berwisata. Perencana pariwisata perlu didorong untuk menyiapkan destinasi seperti harapan wisatawan. Saat ini wisatawan selalu berburu kejutan di destinasi wisata yang mereka kunjungi. Sebuah kejutan akan memberikan kenangan pada tiap pengalaman berwisata. Praktisi industri mungkin dapat menyampaikannya adanya kejutan kejutan tersebut baik di dalam brosur maupun di luar brosur secara lisan. Untuk meningkatkan memori seorang perencana harus mempromosikan kekuatan kenangan pada setiap saat pada destinasi yang dikelola, sebagaimana mengajak wisatawan berfikir bahwa Yogyakarta adalah destinasi yang harus dikunjungi. Kenangan ini akan menarik wisatawan untuk membeli barang barang kenangan seperti souvenir atau hadiah. Secara psikologis, pembelian barang barang souvenir ini akan meningkatkan ingatan memori terhadap destinasi. Selain itu foto dan video juga menjadi salah satu pengingat memori.
Tujuan dari hal tersebut adalah untuk mengumpulkan dan mengkompilasi ingatan melalui pengalaman sehingga wisatawan dapat membangun ingatan secara utuh untuk disampaikan pada keluarga dan teman temannya. Singkatnya aspek pengalaman dan memori yang tak terlupakan perlu di tangkap oleh praktisi wisata dengan memfokuskan pada proses belanja di akhir kegiatan wisata. Melalui teknik branding dan pemasaran yang efektif, perencana pariwisata dapat mengirim semacam kartupos baik online maupun langsung yang diupdate secara rutin untuk mengulang ulang memori yang ada pada wisatawan. Bahkan akan lebih baik jika wisatawan diberikan tempat untuk menulis ekspresi mereka terhadap pengalaman berwisata di tempat tersebut.

Perencana pariwisata Jogjakarta dituntut untuk mampu menawarkan beberapa extra miles kepada wisatawan atau calon wisatawan. Diantaranya adalah, pertama bangunlah image dan branding yang menarik. Image dan branding perlu dibangun di awal sebuah perencanaan kegiatan pariwisata. Hal ini bukanlah sekedar tugas dari pemerintah, namun juga pengelola sebuah destinasi. Konsistensi dari apa yang ditawarkan dan apa yang ada di lapangan harus tetap dijaga. Usahakan jangan ada bias yang terlalu besar dari branding yang dibangun dan apa yang dirasakan oleh wisatawan. Karena wisatawan itu mampu menilai, dengan penilaian yang sangat sensitive. Mereka punya banyak pilihan untuk berwisata dan Jogjakarta bukan satu satunya pilihan. Sehingga menjaga konsistensi antara brand yang dibangun dan apa yang disajikan menjadi sangat penting.

Kedua adakan story telling secara naratif yang komunikatif dengan wisatawan. Seorang wisatawan memiliki subjektivitas kepuasan yang berbeda. Namun pada dasarnya mereka memiliki kebutuhan yang sama terhadap informasi yang benar terhadap sebuah destinasi wisata. Untuk itu pengelola harus mampu memenuhi kebutuhan akan informasi ini. Informasi dapat disajikan melalui website, brosur, spanduk, leaflet maupun buku. Informasi akan membangun sebuah pemahaman akan kesan di tiap tiap kepala yang datang di destinasi. Bangunan yang utuh akan lebih baik dari pada bangunan informasi yang setengah setengah. Untuk itu detail dari sebuah informasi harus disajikan. Persoalan apakah informasi tersebut akan dibaca atau tidak hal tersebut adalah sesuai dengan level kebutuhan dari setiap wisatawan. Namun, tugas dari seorang perencana adalah membuat informasi tersebut lengkap dan mudah untuk diakses.

Ketiga, wisatawan diberikan ruang untuk menuliskan kesan terhadap destinasi baik secara manual maupun virtual. Wisatawan perlu diajak untuk melakukan sesuatu aksi nyata di daerah wisata. Ketika seorang wisatawan diberikan value (nilai) dalam setiap kedatangannya maka ia akan terkenang dan akan menyebarkan value tersebut ke tempat asalnya nanti. Misalnya: ketika wisatawan mendatangi Kawasan Lereng Merapi yang merupakan bekas bencana gunung meletus, maka ajak wisatawan untuk menanam pohon perindang sebagai bagian dari kontribusinya untuk masyarakat. Apa yang mereka lakukan selain memiliki nilai sosial juga akan membuat wisatawan memiliki ikatan terhadap destinasi yang dikunjungi.

Keempat, wisatawan diajak untuk memiliki barang kenangan atau souvenir. Pengelola pariwisata dituntut lebik aktif dalam menyasar kunjungan ulang dapat pula dengan menyampaikan bahwa “kunjungan berikutnya tidak akan sama indahnya dengan kunjungan yang pertama, karena akan lebih indah. DMO mestinya terus meningkatkan promosi destinasi dengan menawarkan pengalaman baru bagi wisatawan. Pembelian barang kenangan dan souvenir akan memberikan sebentuk fisik barang untuk dikenang. Hal ini akan menjadi ‘clue’ bagi memori seorang wisatawan terhadap suatu tempat dan suatu waktu.

KESIMPULAN
Melalui uraian tentang pentingnya memberikan penajaman terhadap pariwisata yang tak terlupakan, penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1. Perencana pariwisata Jogjakarta perlu merubah paradigm dari jumlah kunjunga wisata yang tinggi menjadi kunjunga wisata yang berkualitas yaitu yang tak terlupakan.
2. Pariwisata yang tak terlupakan dapat diukur menggunakan pertimbangan kepuasan wisatawan. Sehingga perencana perlu menetapkan kebijakan untuk mengurangi resiko resiko berkurangnya kepuasan wisatawan.
3. Perencana pariwisata Jogjakarta dituntut untuk mampu menawarkan beberapa extra miles kepada wisatawan atau calon wisatawan. Diantaranya adalah, pertama bangunlah image dan branding yang menarik. Kedua adakan story telling secara naratif yang komunikatif dengan wisatawan dan preventif. Ketiga, wisatawan diberikan ruang untuk menuliskan kesan terhadap destinasi baik secara manual maupun virtual. Wisatawan perlu diajak untuk melakukan sesuatu aksi nyata di daerah wisata. Keempat, wisatawan diajak untuk memiliki barang kenangan atau souvenir. Pengelola pariwisata dituntut lebik aktif dalam menyasar kunjungan ulang dapat pula dengan menyampaikan bahwa “kunjungan berikutnya tidak akan sama indahnya dengan kunjungan yang pertama, karena akan lebih indah.

DAFTAR PUSTAKA
Arnould, E., & Price, L. (1993). River magic: Extraordinary experience and the extended service encounter. Journal of Consumer Research, 20(1), 24–45.
Baumgartner, H., Sujan, M., & Bettman, J. (1992). Autobiographical memories: Affect and consumer information processing. Journal of Consumer Psychology, 1(1), 53–82
Cary, S. H. (2004). The tourist moment. Annals of Tourism Research, 31(1), 61–77.
Conway, M., & Pleydell-Pearce, C. (2000). The construction of autobiographical memories in the self-memory system. Psychological Review, 107(2), 261–288.
Desforges, L. (2000). Travelling the world: Identity and world biography. Annals of Tourism Research, 27(4), 926–945.
Falk, J., & Dierking, L. (1990). The relationship between visitation frequency and long-term recollection. In S. Bitgood, A. Benefield, & D. Patterson (Eds.), Visitor studies: Theory, research and practice (pp. 17–22). Jacksonville, AL: Center for Social Design.
Gunter, B. G. (1987). The leisure experience. Selected properties. Journal of LeisureResearch, 19(2), 115–130.
Hamond, N., & Fivush, R. (1991). Memories of Mickey Mouse: Young children recount their trip to Disneyworld. Cognitive Development, 6(4), 433–448.
Langer, E. J., & Piper, A. (1988). Television from a mindful/mindless perspective.Applied Social Psychology Annual, 8, 247–260.
Langer, E. J., Hatem, M., Joss, J., & Howell, M. (1989). Conditional teaching and mindful learning: The role of uncertainty in education. Creativity Research Journal, 2, 139–150.
McGregor, I., & Holmes, J. G. (1999). How storytelling shapes memory and impression of relationship events over time. Journal of Personality and Social Psychology, 76(3), 403–419.
Moscardo, G. M., & Pearce, P. L. (1986). Visitor centres and environmental interpretation. Journal of Environmental Psychology, 6, 89–108.
Moscardo, G. M. (1988). Visitor studies at the Gallipoli and Sinai galleries, Australian War Memorial. Townsville: Department of Behavioural Sciences, James Cook University.
Moscardo, G. M. (1999). Making visitors mindful: Principles for creating sustainable visitor experiences through effective communication. Champaign, IL: Sagamore. Langer, E. J., & Moldoveanu, M. (2000). The construct of mindfulness. Journal of Social Issues, 56(1), 1–9.
Moscardo, G. M. (2010). The shaping of tourist experience. The importance of stories and themes. In M. Morgan, P. Lugosi, & J. R. B. Ritchie (Eds.), The tourism and leisure experience. Consumer and managerial perspectives (pp. 43–58). Bristol, UK: Channel View Publications.
Noe, F. P. (1987). Measurement specification and leisure satisfaction. Leisure Sciences, 9(3), 163–172.
Obenour, W., Pattenson, M., Pedersen, P., & Pearson, L. (2006). Conceptualization of a meaning-based research approach for tourism service experiences. Tourism Management, 27, 34–41.
Otto, J., & Richie, J. (1995). Exploring the quality of the service experience. A theoretical and empirical analysis. Advances in Services Marketing and Management, 4, 37–61.
Pearce, P. L. (2005). Tourist behaviour: Themes and conceptual schemes. Clevedon: Channel View Publications.
Pillemer, D., Wink, P., DiDonato, T., & Sanborn, R. (2003). Gender differences in autobiographical memory styles of older adults. Memory, 11(6), 525–532.
Pine, J., & Gilmore, J. H. (1998). Welcome to the experience economy. Harvard Business Review, 97–107.
Piolino, P., Desgranges, B., Benali, K., & Eustache, F. (2002). Episodic and semantic remote autobiographical memory in ageing. Memory, 10(4), 239–257. Baumgartner, H., Sujan, M., & Bettman, J. (1992). Autobiographical memories: Affect and consumer information processing. Journal of Consumer Psychology, 1(1), 53–82.
Ritchie, J. R. B., & Crouch, G. (2003). The competitive destination: A sustainable tourism perspective. Cambridge, MA: CABI Publishing.
Ryan, C. (1997). The tourist experience. A new introduction. London: Cassell.
Schank, R. C. (1999). Dynamic memory revisited. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Volo, S. (2010). Bloggers’ reported tourist experiences: Their utility as a tourism data source and their effect on prospective tourists. Journal of Vacation Marketing, 16(4), 297–311.
Woodside, A., Caldwell, M., & Albers-Miller, N. (2004). Broadening the study of tourism: Introduction to the special issue on the consumer psychology of travel/tourism behavior. Journal of Travel and Tourism Marketing, 17(1), 1–7.
Woodside, A. (2010). Brand-consumer storytelling theory and research: Introduction to a psychology & marketing special issue. Psychology & Marketing, 27(6), 531–540.

One thought on “MAKNA “PARIWISATA YANG TAK TERLUPAKAN” SEBAGAI STRATEGI MENDATANGKAN WISATAWAN KE JOGJAKARTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s