INOVASI DAN KREASI PENGEMBANGAN PABRIK GULA SEBAGAI DESTINASI WISATA

Posted on Updated on

Oleh: Erda Rindrasih

Abstract. Tulisan ini bermaksud untuk mengulas tentang pengembangan pariwisata berbasis warisan (heritage) dan buatan dengan mengambil kajian pabrik gula PT.PN X. Tujuan dari tulisan ini adalah: 1) memberikan gambaran umum tentang pariwisata berbasis heritage dan buatan sebagai dasar pijakan bagi pengelola wisata pabrik gula, 2) mengulas potensi pengembangan wisata pabrik gula berbasis sejarah, dan 3) memberikan rekomendasi pengembangan pemasaran inovatif dan kreatif destinasi heritage dan buatan pabrik gula PT.PN.
Kata Kunci: pabrik gula, destinasi, wisata, inovasi, kreatif, pemasaran

PENDAHULUAN
Inovasi dan daya kreasi sangat diperlukan dalam pengemasan pariwisata. Keberadaan destinasi yang menarik tidaklah cukup untuk membawa wisatawan datang. Kedatangan wisatawan itu sendiri juga tidaklah cukup jika mereka tidak mendapatkan kepuasan saat mengunjungi destinasi. Oleh karena itu di dalam pengembangan pariwisata dan pengelolaan destinasi wisata perlu mempertimbangkan aspek kualitas pelayanan pariwisata disamping kuantitas pengunjung suatu obyek wisata.


Dewasa ini perkembangan jenis dan genre pariwisata sangat beragam. Perkembangan pariwisata juga merambah ke arah pariwisata minat khusus. Keberadaan sebuah tempat yang memiliki nilai sejarah menjadi lirikan bagi wisatawan masa kini. Di berbagai negara maju tempat tempat yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dikemas sebagai daerah tujuan wisata.
Meskipun terhitung lambat dibandingkan dengan negara negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, sektor pariwisata Indonesia telah diakui memberikan pengaruh ekonomi yang positif. Keberhasilan sektor pariwisata kerap kali diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal wisatawan dan biaya yang dibelanjakan selama mengunjungi destinasi. Sektor kepariwisataan memiliki potensi sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik melalui kegiatan ekonomi maupun non-ekonomi. Potensi ekonomi berkaitan dengan peran strategisnya dalam peningkatan pendapatan asli daerah, penciptaan lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat. Potensi non-ekonomi berkaitan dengan manfaat langsung kegiatan kepariwisataan secara sosial, psikologis dan kultural.
Dalam UU No 10 tahun 2009, destinasi pariwisata terbagi atas tiga bagian yaitu destinasi berbasis alam, destinasi berbasis budaya dan destinasi berbasis buatan manusia (man made). Destinasi yang berbasis sejarah dalam hal ini adalah pabrik gula dapat digolongkan dalam destinasi buatan manusia dengan balutan budaya. Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji tentang pengembangan pariwisata berbasis heritage (sejarah warisan) dan buatan dengan mengambil studi kasus di Pabrik Gula PT.PN. Tujuan dari tulisan ini adalah: 1) memberikan gambaran umum tentang pariwisata berbasis heritage dan buatan sebagai dasar pijakan bagi pengelola wisata pabrik gula, 2) mengulas potensi pengembangan wisata pabrik gula berbasis sejarah, dan 3) memberikan rekomendasi pengembangan pemasaran inovatif dan kreatif destinasi heritage dan buatan pabrik gula PT.PN

POTENSI BISNIS PARIWISATA
Memahami konsep pariwisata dan sistem marketing mix
Ketika mengembangan pariwisata, perlu dikaji berbagai pendekatan pengembangan. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan marketing mix, dimana dipandang sebagai sebuah kegiatan yang memadukan antara sisi produk wisata dan sisi pasar wisata. Pertama, sisi produk wisata, sesuai dengan pariwisata global maka saat ini telah terjadi perubahan dari pariwisata lama ke pariwisata baru. Pariwisata baru memiliki beberapa sifat dan ciri sebagai berikut: a) obyek dan daya tarik wisata dalam skala kecil tetapi sangat beranekaragam; b) setiap destinasi wisata harus memiliki otentisitas yang tinggi secara lokal; c) setiap obyek yang ditawarkan kepada wisatawan harus berkualitas tinggi dengan tingkat pelayanan yang memadai untuk setiap wisatawan.
Pelayanan yang baik kepada wisatawan akan menimbulkan impresi yang baik pula. Hal ini sangat menguntungkan karena pada akhir perjalanan setiap wisatawan akan membuat evaluasi perjalanannya. Hasil evaluasi dari wisatawan pada saat meninggalkan lokasi suatu destinasi wisata akan menentukan mereka melakukan kunjungan lagi atau hanya sekali itu saja. Wisatawan ini akan bersedia dengan sukarela melakukan promosi dan pemasaran gratis dan ini akan menguntungkan bagi destinasi. Oleh karenanya memberikan pelayanan yang baik dan menjaga kualitas destinasi wisata sangat menguntungkan kepariwisataan masa depan. Kualitas destinasi wisata dan kualitas pelayanan dari pengelola suatu usaha jasa wisata sangat menentukan apakah wisatawaan yang bersangkutan itu akan menjadi repeater atau tidak. Demikian pula pelayanan para birokrat dari unsur birokrasi kepada wisatawan atau non birokrat (pihak industri pariwisata) harus dapat menjadi suri tauladan dalam berbagai realisasi program.
Suatu hal menarik adalah khususnya bagi wisatawan mancanegara utamanya adanya pariwisata baru wisatawan yang ada adalah wisatawan yang sudah matang (mature tourist). Wisatawan ini justru menghendaki suatu destinasi wisata yang tidak banyak dibangun. Keutuhan dan keaslian destinasi wisata sangat diminati oleh wisatawan pariwisata baru. Wisatawan pariwisata minat khusus pada umumnya dan pariwisata ekowisata akan sangat menghargai (rewarding) terhadap lingkungan dan destinasi wisata yang masih asli. Untuk menjaga keutuhan dan keaslian serta kualitas yang baik dari setiap destinasi wisata dilaksanakan dengan melaksanakan pembatasan dalam hal: selalu memperhitungkan daya dukung setiap destinasi wisata. Disamping itu juga bagi destinasi wisata yang rentan perlu dijaga agar pengembangan sistem aksesibilitas tidak merusak lingkungan suatu destinasi wisata.
Kedua, sisi pasar. Upaya yang perlu dikembangkan adalah membuat strategi pemasaran pariwisata yang bertitik tolak pada 3P yang terdiri atas Product, Price dan Place. Pertama yaitu Product yakni dengan strategi sebagai berikut: pemasaran menggunakan pendekatan product driven. Segmentasi wisatawan sangat diperlukan sesuai dengan jenis produk wisata yang ditawarkan. Berdasar atas macam produk yang dimiliki oleh daerah ini yaitu wisatawan recreation, wisatawan budaya atan peninggalan sejarah, budaya dan budaya yang masih hidup, wisatawan bisnis (untuk MICE) dan wisatawan minat khusus (desa wisata) serta wisatawan adventure untuk melakukan hiking, climbing, trekking ke perbukitan.
Kemudian yang kedua adalah Pricing. Strategi pricing dilaksanakan dengan menetapkan harga yang kompetitif dengan pengawasan yang ketat. Paket perjalanan wisata dilaksanakan dengan penetapan harga yang tidak terlalu mahal pada periode awalnya. Baru kemudian secara bertahap pada DTW tertentu yang rentan dinaikkan tarif entrance fee-nya. Demikian pula paket wisata unggulan dapat dinaikkan tarifnya. Kemudian yang terakhir adalah Place. Di dalam promosi dan marketing perlu dilaksanakan dengan mempertimbangkan psikografi wisatawan.
Pabrik Gula dalam konteks kewilayahan
Secara kewilayahan Pabrik Gula memiliki peluang yang besar untuk berkembang karena tingkat kompetisi yang rendah. Pabrik gula memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata berbasis buatan manusia dengan balutan budaya. Saat ini wisatawan mengalami pergeseran paradigma yaitu dari wisata massal ke arah wisata minat khusus. Wisata minat khusus adalah kegiatan wisata yang mencari dan menggali hal hal baru di luar pengalaman mereka sebelumnya. Pengembangan pabrik gula menjadi obyek wisata sangat potensial untuk mencukupi demand (permintaan) akan daya tarik wisata minat khusus. Namun demikian, yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara pengemasan destinasi tersebut.

STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH PABRIK GULA
• Menyiapkan Destinasi Wisata Sejarah yang Cerdas
Pengembangan Pabrik Gula menjadi sebuah obyek wisata bukanlah perihal yang mudah. Pengelola harus benar benar memahami arti dari pariwisata dan bagaimana pariwisata itu bergerak. Pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif, tingkat sensitifitasnya menyangkut hal hal yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, politik, keamanan, kesehatan dan image (citra). Pengelola Pabrik Gula diharapkan dapat membedakan antara memproduksi gula dan menjualnya ke pasar dengan memproduksi sebuah destinasi yang in situ dan mengajak pasar untuk datang berkunjung.
Hal pertama yang harus disiapkan oleh pengelola adalah menyiapkan destinasi wisata sejarah yang cerdas. Yang dimaksud cerdas disini adalah destinasi yang dikelola dengan cerdas dan memberikan kecerdasan kepada pengunjung yang datang. Destinasi terlebih dahulu harus menyediakan fasilitas dan sarana prasaran standar untuk memenuhi kebutuhan dasar dari wisatawan, misalnya: toilet, tempat berteduh, kantin atau restoran, tempat sampah, papan informasi, jalur evakuasi, pos pengaduan dan pelayanan kecelakaan, dan lain lain.
Pengembangan destinasi terlebih dahulu memerlukan sebuah master plan yang matang dan komprehensif. Master plan tersebut sebaiknya terdiri atas analisis kelebihan, kekurangan, hambatan dan tantangan; penentuan visi dan misi dari wisata sejarah pabrik gula; penyusunan strategi pengembangan dan program pengembangan. Pengetahuan tentang pasar mana yang akan ditembak oleh pengelola juga menjadi penting. Hal ini penting karena setiap segmen memberikan implikasi terhadap bentuk paket wisata yang ditawarkan.
Apabila segmen yang ditembak adalah pelajar maka pengelola pabrik gula dapat menyediakan ruang informasi bagi pelajar untuk dapat mengakses informasi dengan mudah. Akses tersebut dapat melalui brosur yang disediakan, perpustakaan, ruang komputer, ruang pemutaran film dokumenter tentang gula dan sejarahnya, dll. Diperlukan pula dibangun sebuah ruang meeting yang representatif untuk pelajar yang dapat digunakan oleh tour guide untuk menjelaskan. Penjelasan secara duduk kelas akan memberikan gambaran dasar pagi pelajar. Keterangan yang bersifat naratif dapat disampaikan di ruangan ini. Kemudian, penjelasan dengan sifatnya simulasi dapat diberikan sambil tour guide berjalan mengelilingi museum bersama sama dengan pelajar. Hal ini akan memberikan pengalaman bagi wisatawan (Smith, 1992). Pengaturan tour guide juga perlu diperhatikan. Bagi segmen pelajar tour guide diusahakan adalah orang orang yang mampu memahami pelajar, yaitu yang aktif, dan tidak menjemukan. Jumlah pengunjung yang masuk ke pabrik gula juga perlu diperhatikan. Pengelola perlu melakukan pembatasan jumlah pengunjung yang masuk supaya tidak terjadi trafic (kemacetan) di dalam museum. Selain itu, hal ini juga penting untuk mengurangi ketidaknyamanan bagi wisatawan. Pengunjung yang masih antri dapat dibuatkan tempat yang nyaman untuk menunggu dengan informasi informasi yang menarik.
Untuk segmen keluarga maka diperlukan juga untuk direncanakan keberadaan play ground atau area bermain anak dan tempat beristirahat bagi orang tua yang menemani anaknya bermain. Pengelola dapat membangun tempat berekspresi bagi wisatawan. Misalnya dengan memberikan ruang bagi mereka menuliskan kesan dan pesan di dinding yang dibalut dengan kain. Selain menulis, pengunjung dapat merekam suara mereka untuk dapat diputar dan diperdengarkan. Mereka juga dapat memasang foto foto mereka di media sosial (facebook pabrik gula) dll.
• Pengembangan Pemasaran
Menurut d’Hauteserre, 2011 wisatawan datang ke suatu obyek wisata karena adanya bayangan imajinasi (imaginaries). Ia berdiri diantara sejarah dan memori. Dari perspektif pariwisata Waitt (2000) menuliskan bahwa wisatawan mencari tiga macam keunikan dan kekhasan dari masa lalu yaitu: artefact (pakaian, peralatan, tempat bekerja dan bahan bahan), mantefact (seni, tarian, agama, dan cerita), dan sociofacts (pertemuan dan interaksi dengan orang lokal di destinasi).
Sebagaimana disampaikan diatas bahwa pariwisata pada dasarnya adalah industri yang menjual citra (imaginaries). Oleh karena itu maka pencitraan terhadap sebuah destinasi sangatlah penting untuk dilakukan oleh pengelola pabrik gula. Hal yang pertama perlu dilakukan adalan menyusun materi promosi yang menarik, informatif dan inovatif. Dalam penyusunan materi ini daya kreatif sangat diperlukan. Sebuah brosur nampaknya simple dan tidak berarti, namun jika brosur tersebut dikemas dengan baik dan menarik maka dapat menggugah keinginan calon wisatawan.
Materi promosi dapat disusun secara manual maupun digital. Saat ini kemajuan teknologi internet beserta kecanduan atas sosial media dapat dimanfaatkan oleh pengelola pabrik gula untuk berpromosi. Materi promosi konvensional seperti brosur, buku, CD film dokumenter, spanduk, baleho, dll masih dapat digunakan untuk menjangkau pasar yang tidak mengakses internet. Mater promosi yang lebih modern akan melengkapi materi promosi konvensional. Pembuatan website mutlak harus dilakukan. Website tersebut diusahakan berbobot baik secara konten maupun kekinian. Media seperti youtube dapat pula digunakan sebagai lahan promosi, misalnya dengan membuat liputan pendek dan kemudian di upload di media tsb.
Promosi yang terbaik adalah yang mampu menjangkau hingga ke rumah (Dharmmesta dan Handoko, 2000). Oleh karena itu pengelola pabrik gula perlu mengusahakan materi promosi yang dapat menjangkau ke rumah rumah masyarakat. Hal ini penting karena dalam pengambilan keputusan keputusan besar, seperti berwisata ke suatu tempat, biasanya diputuskan di rumah bersama sama keluarga. Salah satu cara untuk menjangkau hingga ke rumah rumah masyarakat adalah dengan memasang iklan di media masa, misalnya koran, majalah, radio dan televisi. Kendati demikian, promosi dalam bentuk ini perlu mempertimbangkan ketersediaan dana promosi karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Pengembangan Kemitraan
Sebagaimana manusia, sebuah destinasi wisata tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan kerjasama dengan destinasi yang lainnya. Jika pabrik gula akan dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis sejarah maka kerjasama dan kemitraan dapat dijalin dengan destinasi wisata lain di sekitarnya yang memiliki tematik serupa yaitu sejarah atau heritage. Hal ini akan memudahkan bagi pengelola untuk menarik segmentasi pasar yang sama. Bisa saja dilakukan kerjasama dalam hal pemasaran atau pemaketan wisata. Misalnya dalam satu hari wisatawan dapat berkunjung ke beberapa museum atau destinasi heritage lainnya, materi promosi juga dapat dibuat dalam satu kesatuan dengan destinasi yang lainnya. Hal ini akan memberikan nilai jual yang lebih kepada wisatawan, selain membentuk satu pemahaman yang utuh terhadap sejarah yang ingin mereka ketahui.
Kerjasama juga semestinya dilakukan dengan pemerintah. Kenapa pemerintah menjadi penting dalam hal ini? Tentu saja karena pemerintah yang menerapkan kebijakan pariwisata baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi. Alangkah baik jika strategi pemasaran pabrik gula dapat sejalan dengan strategi pemasaran dari pemerintah. Dalam beberapa hal kerjasama dengan pemerintah cukup menguntungkan bagi pihak swasta, misalnya dengan promosi bersama, dll.
Pengelola pabrik gula perlu melakukan kerjasama dengan masyarakat. Masyarakat dalam hal ini adalah masyarakat disekitar destinasi wisata sejarah pabrik gula maupun masyarakat umum dalam arti luas. Masyarakat disekitar destinasi tidak boleh dilupakan oleh pengelola karena merekalah sebenarnya agen agen promosi yang handal. Studi menunjukkan bahwa kepuasan masyarakat sekitar akan menentukan citra dari sebuah destinasi. Destinasi wisata yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya memiliki keunggulan dalam membangun image kepedulian. Selain itu, masyarakat sekitar juga dapat dikategorikan sebagai pasar bagi pabrik gula. Diharapkan metode ‘gethok tular’ atau dari mulut ke mulut dapat efektif.
Masyarakat secara luas yang dimaksud adalah masyarakat umum di luar kawasan sekitarnya. Masyarakat luas ini dapat digolongkan dalam masyarakat melembaga atau tidak melembaga. Saat ini telah banyak lembaga yang konsen terhadap isu pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memiliki program pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di setiap desa wisata. Kelompok kelompok ini dapat diajak bermitra dalam pengembangan pabrik gula.

PENUTUP
Pengembangan pabrik gula menjadi destinasi wisata berbasis sejarah memiliki prospek yang baik. Langkah pertama adalah menyusun master plan penyiapan destinasi yang cerdas dan mencerdaskan pengunjungnya. Langkah kedua adalah pembangunan itu sendiri dengan konsep yang komprehensif, menarik dan inovatif. Langkah ketiga adalah menyiapkan materi promosi dan pengembangan promosi itu sendiri. Materi promosi harus disiapkan dengan sungguh sungguh dan informatif. Langkah keempat adalah pengembangan kemitraan yang perlu dilakukan bersama pemerintah, pengelola destinasi yang lain, pihak swasta, masyarakat sekitar destinasi dan masyarakat luas. Langkah langkah tersebut hanyalah langkah secara normatif, dalam kenyataannya dukungan sumber daya manusia sangat menentukan dalam pengembangan pariwisata. Semoga pariwisata pabrik gula PT.PN dapat berkembang dan memberikan kontribusi pengetahuan kepada masyarakat dan kontribusi ekonomi yang positif.

PUSTAKA
Dharmmesta & Handoko, (2000). Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku Konsumen. BPFE Yogyakarta.
d’Hauteserre, (2006). Response to ‘Tracing the Commodity Chain of Global Tourism’ by Dennis Judd. Tourism Geographies Vol.8, No.4, 337-342, November 2006
Smith, V. (1992). The quest in guest. Annals of Tourism Research, 19, 1-17
Waitt, G. (2000). Consuming heritage: Perceived historical authencity. Annals of Tourism Research, 27, 835-862.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s