Transportasi Kota Jogja yg katanya Istimewa

Posted on Updated on

Public transport atau transportasi massal merupakan warna tersendiri bagi sebuah kota. Kota yang tertata rapi dengan public transport yang memadai merupakan dambaan setiap warga kota. Bukankah tidak nyaman ketika harus berlarian dalam panas dan debu dari asap asap kendaraan bermotor terutama bis kota. Pantas saja seorang artis remaja blesteran sempat berujar, “sudah bechek tidak ada ojhek.” … Meskipun terkesan lucu, hal itu sebenarnya sindiran pedas bagi pemerintah terutama penyedia transportasi massal ini.

Sebagai seorang warga Jogjakarta yang lahir dan dibesarkan di kota ini, saya ingin menulis tentang kekecewaan saya terhadap kota ini yang sekian lama sama saja tidak ada perubahan yang berarti dalam hal transportasi massal.

Ketika saya masih kecil, jalanan nampak luas di mata saya. Entah, mungkin karena saya masih anak anak sehingga melihat jalanan nampak luas membentang, atau karena saat ini jumlah kendaraan tidak sebanyak sekarang ini sehingga pandangan bisa jauh. Dahulu banyak sekali terdapat dokar atau andong, dengan empat roda. Bahkan tahun 90 -an, saudara tua saya yang menikah menggunakan iring iringan dokar sebagai kendaraan pengantin. Meskipun kadang harus tutup hidung karena bau dari kotoran kuda, tapi karena banyaknya pepohonan di kanan dan kiri jalan dan udara yang lebih sejuk dari sekarang, hal tersebut tak terlalu terasa.

Namun kini, lihatlah betapa penuh dan sesaknya Yogyakarta. Gedung gedung tinggi mulai di bangun, puluhan hotel bergaya bak putri menggoda para turis berduit untuk sekedar menginap. Itu semuanya membuat semakin besar beban jalan untuk melayani kebutuhan para pengguna yg semakin tahun semakin bertambah. Jogja tempoe dulu tak disiapkan untuk kota metropolitan. Jogja disiapkan untuk kota kecil, terbukti jalanan sempit dan halaman rumah tua biasanya luas. Ini aneh sekali… hoiii.. dimana para perencana kota… hoiiii ! Sebego begonya anak kecil juga tahu, kalau mengundang tamu yg banyak, maka jangan menyiapkan pintu masuk yg kecil dan sempit. Kalau ingin menuangkan air yg banyak pada ember besar masak iya pakai sedotan, pakailah selang. Logika sederhana, tapi kok para perencana kota itu gak paham. Lalu yg disalahkan pedagang kaki lima, yg memenuhi trotoar, disalahkan orang parkir di bahu jalan, disalahkan apa lagi?

Bukan gitu caranya… aku hanya menulis kosong disini berharap ada orang pemerintahan yg mampir ke blog mahasiswa biasa ini. Coba deh hoii pemerintah… batasi jumlah orang masuk. Apakah Anda pikir dengan promosi sekuat tenaga sampai habis energi (dalam hal ini dana promosi) trus turis akan datang? mungkin mereka datang ke Jogja tapi habis itu mereka gak datang lagi karena kapok, udah sumpek, panas, apalagi kalo lagi apes ditipu tipu tukang becak. Jogja, cobalah untuk membatasi orang yg datang ke Jogja, tak usah undang undang banyak orang untuk datang, apa sih tujuannya? biar pariwisata maju? apa iya pariwisata dianggab maju ketika jumlah wisatawan banyak. Kalau begini caranya dalam 10 tahun saja kota ini bakal chaos mendekati Jakarta. (*ups maaf orang Jakarta tak ada maksud). Batasi lah orang masuk ke Jogja dengan membuat filter, yaitu sedikit orangnya tapi banyak duitnya. Caranya gimana? Ah pinter pinternya perencana kota dong membuat filter. Misal, bikin event yg bagus dan maha megah, harga mahal dan hanya membership yang bisa datang, tuh akan memfilter orang2 yg datang ke Jogja.

Kedua, aku juga nih mau teriak ke pemerintah Jogja, ayo bangkitkan pusat pusat pertumbuhan jauuuuuuh di tepian. Jangan melulu malioboro dan keraton. Baguslah sekarang Gunung Kidul dah mulai Go International, tapi jangan salah Jalan Wonosari jadi macet abis tuh, ampe susah saya kalau mau pulang. Buat pusat pusat kegiatan di pinggir, kayak di Wates, di Wonosari, di Prambanan, atau Sleman. Stop bangun hotel baru, apa kamu pikir jumlah air cukup untuk ngasih minum jutaan orang dalam sehari… hoiii curah hujan aja sekarang menurun, semakin panas. Jumlah hutan di lereng merapi yang menahan air juga berkurang gak kayak puluhan tahun yang lalu. Kalau perlu buat HUB, kayak terminal untuk parkir kendaraan pribadi di luar kota. Kan udah ada ring road tuh, tinggal bikin aja spot spot di 4 penjuru untuk parkir mobil. Dari sana orang yg akan ke Jogja bisa pakai kereta (tram) atau bis yg disediakan pemerintah. Duh… ayolah kita bikin yg keren gitu loh.

Kalau nanti bandara yg Kulon Progo dan jadi aku sih berharap kawasan sana yg lebih rame, sedikit menyerap kesumpekan di kota Jogja.

Ketiga, aktifkan sepeda.. kendaraan tanpa asap alias kereta angin. Jogja itu kan kecil saja, jalanan kecil juga, coba deh buat jalur sepeda yang serius. Bukan cuma di garis garis trus dipake parkir motor. Bikin rindang gitu loh, supaya naik sepedanya enak, segar karena oksigen tersedia gampang. Nandur mas.. nandur mbak… ayo nandur… Meski panas, kalau banyak pohon pasti asyik sejuk. Ngepit pun akan nyaman. Di belanda aja para professor bersedia ‘ngonthel’ – di Jogja aku yakin juga banyak yg mau kalau di tata rapih, kecuali para kelompok ‘alay’ pasti takut kukunya rusak.

Keempat, cuci otak… keluarkan otak mereka, cuci pake deterjen ampe bersih itu karat karat trus pasang lagi. Ah kelihatannya kok kasar sekali. Begini kawan, maksud saya adalah kesadaran masyarakat Jogja lambat laun sudah berkurang entah karena apa. Dahulu, kalao ada orang tua duduk di gang lagi petan (nyari kutu), kalau kami anak2 mau maen ke sawah melewati mereka pasti semua nunduk, nderek langkung mbah… gitu.. Eh…sekarang, anak anak itu jalan aja berlenggang gak ada sopan sopannya. Mungkin karena si mbah gak petan lagi, tapi lagi update status di twitternya ha..ha.., sama saja sih, generasi tuanya sudah tidak lagi menjaga tradisi apalagi generasi mudanya. Duh Gusti paringono kang sabar sing bagus kae. *ups salah fokus. Jadi selain penyiapan infrastruktur, teruslah benahi cara pikir masyarakat terhadap kotanya. Bagaimana cara menjaga kebersihan, cara merawat tanaman yg di tanam, cara berkendara yang sopan, dan juga cara mencintai kota ini…. cintai dia dengan cinta yg tulus untuk generasi anak cucu kita…

Demikian sekedar tulisan ga-je, gak jelas banget je, untuk mengisi waktu menunggu magrib tiba. Salam damai kagem Jogja yg Istimewa “katanya”… . Nuwun

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s