Dilema Lampu Jalan: Mempertanyakan Integritas seorang Ilmuwan

Posted on Updated on

Suatu hari ada seorang polisi kehilangan kunci mobilnya yg terjatuh di parkiran mobil di halama kantornya. Karena hari sudah gelap ia pun kesulitan untuk mencari dimana si kunci itu sembunyi. Ia berjalan ke arah lampu dan mulai mencari di bawah cahaya lampu. Seorang temannya bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Ia menjawab, “Oh.. saya sedang mencari kunci mobil saya yg terjatuh tadi.”

Temannya melanjutkan, “Apakah kuncimu jatuh di sini?” sahutnya kembali, pandangan matanya berkeliling kearah parkiran dg sapuan pelan.

Ia menjawab, “Aku tidah tahu dimana jatuhnya.”

Temannya bertanya lagi, “Lalu kenapa kamu mencarinya disini?”

Ia menjawab, “Disini yg ada lampunya, di tempat lain gelap.” jawabnya

Temannya heran sambil berkata, “Bagaimana jika kuncimu jatuh di tempat yang gelap?”

Cerita itu hanyalah ilustrasi saja dari sebuah fenomena dilema peneliti. Dalam kehidupan keilmuan, seorang peneliti terkadang tidak mampu menentukan area mana yang seharusnya dia teliti haruskah area yang gelap ataukah area yang sudah terang? Saya ingin menulis dalam coretan ini tentang sebuah kejanggalan dalam dunia ilmu yang selalu mengusik benak saya. Tulisan ini mengetengahkan dilema yg kerap kali dihadapi oleh seorang peneliti.

Tidak mudah untuk menentukan pada cakupan apa ia akan membuat sebuah kerangka pemikiran. Karena sebuah kerangka pemikiran ini adalah batasan dari ruang analisis yang akan dilakukan nantinya dalam sebuah proses penelitian. Sayangnya, banyak peneliti yang tergoda melakukann penelitian hanya pada area area yang terang, dimana sudah banyak orang telah melakukan penelitian sebelumnya. Mengikuti panduan dari apa yang sudah tertulis sebelumnya kemudian mencari lokasi yang berbeda dengan metode yang sama dan bahkan kerangka pikir yang sama. Sehingga tidak heran jika kita temukan pada suatu periode tertentu ribuan judul penelitian mirip satu sama lain, mungkin hanya puluhan judul penelitian yang benar benar mengkaji ke arah kerangka pikir yang baru.

Hal yang sama juga saya kira terjadi di Indonesia. Ketika orang sedang membicarakan pertanian maka ribuan penelitian diarahkan untuk kesana, sedikit orang membicarakan maritim. Lalu, dekade berubah ke arah perubahan iklim, yang diikuti dengan berbondong bondongnya peneliti, baik yang sudah terpayungi institusi maupun mahasiswa S1-S3 ikut menyongsong tema perubahan iklim dan sejuta kaitannya. Setelah itu kini mulai komunitas ilmuan ini mengikuti arus meneliti maritim yang sebelumnya di lupakan, karena sedang di sorot oleh president Jokowi.

Saya kira hal ini tidak ada salahnya, memang sulit untuk mengatakan ini salah. Tetapi yang ingin saya tanyakan disini adalah dimana makna sebuah integritas. Dimana kita berpijak dan tujuan apa yang akan kita peroleh dari sebuah proses penelitian. Sebagai peneliti, seseorang harus memiliki integritas, tidak mudah terombang ambing oleh isu yang sedang naik daun, tetapi dengan tekun dan fokus menekuni bidang yang sedang digarap. Saya paham jika indepensi seorang peneliti kerap kali di hempas oleh tuntutan pasar, baik pasar halus (funding NGO atau pemerintah) maupun pasar kasar seperti tuntutan riset dari perusahaan. Alhasil, sulit bagi seorang peneliti menegakkan integritasnya ketika financial support akhirnya yang mengontrol arah dan kerangka pikir penelitiannya.

Masyarakat umum menantikan sebuah hasil riset yang akan berguna untuk mengatasi masalah masalah kehidupan mereka. Dimana setiap negara atau entitas memiliki masalah yang beragam dan kepentingan yang beragam. Ilmu pengetahuan diharapkan memberikan ‘reliable knowledge’ pengetahuan yang dipercaya dan mampu menyampaikan hasil penelitiannya kepada society atau masyarakat luas. Sebuah kontrak yang tidak tertulis namun ada, bahwa peneliti harus memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang mereka ketengahkan itu “socially robust” (kuat dan dapat dipercaya secara sosial), sehingga sebuah proses pengkajian pengetahuan yang baru harusnya transparan, terbuka dan memberikan ruang bagi masyarakat umum untuk terlibat. Artinya isu isu dasar yg sedang dihadapi masyarakat juga berhak untuk menjadi obyek penelitian meskipun tak satu lembagapun yang mau mendanainya.

 

to be continued…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s