Babak Baru menjadi mahasiswa PhD

Aku selalu melihat hidup adalah kumpulan dari babak waktu yang terbatasi oleh sekat sekat tujuan meskipun kadang saling menyatu. Inilah babak lanjut dari hidup yg kupilih untuk kujalani, menjadi seorang mahasiswa PhD. Dulu kukira babak ini babak yang paling sulit kulalui, ya jelas karena dia adalah babak tertinggi dari sebuah jalur pendidikan. Entah siapa dahulu yang mencetuskan ide adanya PhD yang dianggab sebagai pendidikan yang tertinggi. Benarkah PhD adalah pendidikan tertinggi? Apakah setelah ini artinya semua ilmu sudah ada di dalam genggaman atau sudah terpatri di otakku tak keluar lagi? Aku sangsi.

Wahai kawan, ini bukan soal tinggi dan rendah, puncak atau lembah, tapi ini soal sukses dan gagal dan pencarian dari sebuah target pencapaian. Tantangan itu dihadirkan oleh sang pencipta, dihadapkan bertahun tahun yang lalu, menggoda menari nari mengajak bercumbu dan bercinta. Ah.. selama ini sudah ku tahan untuk tidak mengejarnya, akhirnya aku takluk juga. PhD aku datang. Inilah gunung baru yg harus ku taklukan kembali. Aku perlu ini untuk mendorong diri bekerja keras, supaya hidup yang sebentar ini terisi oleh hal hal yg positif. Karena jika aku tak punya apa apa untuk dicapai, hidup ini sepi rasanya, monoton dan membosankan.

Selain ini, PhD bukan soal pintar dan cerdas atau kekayaan. Hampir sedikit sekali seseorang dengan gelar PhD yang kemudian menjadi kaya karena gelarnya. Bukan itu kawan. Bukan gelar tentu saja dan bukan kekayaan yang aku cari. Kalau mau kaya tentu aku bisa berdagang, dimana dengan cepat menjadi kaya. Tetapi tentang cara berfikir sistematis dan logis, ini yang aku inginkan. Aku ingin menikmati proses itu lagi, proses memasukan materi kedalam otakku, bergelut dengan hal hal baru memberikan loncatan loncatan listrik dalam nadi memompa jantung untuk berdenyut, proses melihat benua baru dan melampiaskan nafsuku pada ilmu yang lebih luas, proses ini juga adalah proses pencarian terhadap eksistensiku di dunia.

LoA sudah di tangan, dan beasiswapun sudah siap mendanai. Maka hanya janji pada diri sendiri yang harus menghujam hingga sanubari, aku akan berhasil dan babak baru dimulai. Sekali lagi ini soal proses yang baik dan hasil yang baik. Bismillah….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s