Tulisan

PARIWISATA JOGJAKARTA PASCA BENCANA KELUD

Oleh: Erda Rindrasih

Indonesia terletak di kawasan dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Hal ini disebabkan karena Indonesia dilewati tiga patahan lempeng tektonik yaitu Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Patahan lempeng, secara geologis merupakan areal tumbuhnya gunung api. Alur patahan tersebut juga merupakan alur gempa teknonik. Keadaan ini menempatkan Indonesia pada posisi rawan bencana misalnya seperti gempa bumi, erupsi gunung api, banjir lahar, longsor, dan tsunami. Kendati demikian fenomena ini dapat dilihat dari berbagai sisi, yaitu dari sisi bencana maupun berkah.

Pada tanggal 13 Februari 2014, sebagaian besar Pulau Jawa merasakan bencana yang cukup dasyat yaitu erupsi Gunung Kelud. Gunung Kelud bererupsi yang menyebabkan 8.615 rumah di Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, Jawa Timur, rusak akibat letusan Gunung Kelud di Kediri[1]. Bencana ini juga menyebabkan kerugian mencapai Rp 1,2 triliun akibat rusaknya komoditas pertanian, fasilitas umum dan infrastruktur[2]. Selain itu abu Kelud secara tersortir menyebar ke sekitar kawasan hingga mencapai empat provinsi yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat.

Pada 14 Februari 2014, abu Kelud dengan cepat mengguyur Yogyakarta. Jumlah sedimen bervariasi antara kabupaten satu dengan yang lainnya, sebagian besar mendapatkan ketebalan abu 70 – 100 mm. Ahli kesehatan telah merilis bahwa abu vulkanik ini berbahaya bagi kesehatan. Abu vulkanik akan menganggu saluran cerna apabila mencemari air, tanaman dan bahan pangan. Selain itu akan menyebabkan penyakit ISPA, pneumonia, bronkitis, infeksi saluran pernafasan bawah, dan iritasi apabila masuk ke mata[3]. Dari sisi keindahan, abu vulkanik Kelud telah menutup rata semua permukaan tanaman, atap rumah dan jalanan yang menyebabkan pemandangan tidak sedap karena didominasi warna abu abu.

Abu Kelud mempengaruhi roda ekonomi Yogyakarta khususnya kegiatan pariwisata. Diketahui bahwa pariwisata adalah industri yang sangat sensitif. Sensitifitas kegiatan pariwisata sangat tinggi dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lainnya. Akibat abu vulkanik Gunung Kelud, terdapat tujuh bandara yang terpaksa ditutup dengan lama penutupan bervariasi diantaranya; bandara Adi Sumarmo (Solo), bandara Adi Sucipto (Yogyakarta), bandara Juanda (Surabaya), bandara Hussein Sastranegara (Bandung), bandara Tunggul wulung (Cilacap), bandara Ahmad Yani (Semarang) dan bandara Abdul Rahman Saleh (Malang). Penutupan bandara ini menyebabkan ratusan penerbangan harus di batalkan dan dialihkan. Hal ini tentu saja menimbulkan kerugian yang besar bagi maskapai dan pihak penyelenggara penerbangan dalam hal ini Angkasa Pura.

Industri pariwisata yang terkena imbas dari meletusnya Gunung Kelud sangat beragam. Mulai dari hotel, restauran, perusahaan jasa angkutan darat, jasa penyelenggara wisata, para tour guide, hingga obyek wisata. Tercatat Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan kerugian akibat erupsi Gunung Kelud sekitar Rp 2 Milyar per hari untuk hotel dan restauran, ujar sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono[4]. Hal ini belum termasuk jasa pelayanan penyelenggaraan pariwisata dan juga opportunity cost yang hilang akibat dibatalkannya banyak perjalanan wisata ke Yogyakarta dari berbagai daerah asal baik dalam negeri maupun luar negeri.

Bencana ini memanglah memberikan kerugian bagi industri pariwisata. Kendati demikian pariwisata Yogyakarta harus segera bangkit pasca guyuran abu vulkanik Kelud. Pertanyaannya adalah bagaimana akan memulai kembali? Tentu saja berbeda dengan bencana gempa bumi atau banjir misalnya, ada hal hal khusus yang harus diperhatikan dalam penanganan pariwisata pasca kelud.

(1)      Pembersihan total

Berita dampak buruk abu bagi kesehatan tersebar luas di berbagai media masa. Masyarakat tentu merasa takut untuk mendekat ke Yogyakarta karena ancaman abu tersebut bagi kesehatan mereka. Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat wajib membersihkan secara total abu kelud yang ada. Secara karakteristik abu kelud yang sampai di Jogjakarta termasuk yang berukuran partikel lembut dan sangat kecil sulit dibersihkan.Oleh karena itu diperlukan upaya upaya yang lebih sistematis dan terintegrasi dari pemerintah. Misalnya ketika satu jalan sudah dibersihkan maka segera jalan yang lain dibersihkan secara bersama. Abu di keruk sampai habis, disemprot dengan air dan di tempatkan di penampungan sehingga tidak tercecer dijalan. Hal ini penting karena memasuki bulan April adalah musim kemarau, apabila kemarau datang maka abu tersebut akan kembali mengering dan melayang di udara. Dengan demikian, pemerintah perlu menyediakan tempat pembuangan yang memungkinkan abu tersebut di serap oleh tanah atau menyatu dengan tanah. Abu juga mungkin dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih bermanfaat.

Sampai saat ini dapat dilihat bagaimana pemerintah telah berusaha untuk menyediakan mobile water canon dari Brimop untuk membantu masyarakat membersihkan abu kelud. Kendati demikian masyarakat juga diharapkan bisa pro aktif untuk membersihkan daerahnya sendiri dan lingkungannya.

(2)      Perbaikan fasilitas dan infrastruktur

Fasilitas dan infrastruktur adalah element penting penunjang kegiatan pariwisata. Tanpa fasilitas dan infrastruktur yang memadai wisatawan tidak akan betah berada di suatu kawasan wisata. Pasca erupsi kelud dilaporkan fasilitas dan infrastruktur yang rusak di Jogjakarta tidak signifikan. Misalnya drainase yang tertutup sedimen abu, sehingga harus di congkel dan dibersihkan, halte bus trans Jogja yang terguyur abu perlu di bersihkan dan beberapa kawasan wisata yang memerlukan perbaikan infrastruktur yang sifatnya minor. Meskipun tidak signifikan monitoring dan pemeriksaan yang detil perlu dilakukan. Menurut Ahli Paru-paru RS Persahabatan, Divisi Penyakit Paru Akibat Kerja dan Lingkungan Departemen Pulomonologi FKUI, dr Agus Dwi Susanto SpP[5] abu kelud ada yang bersifat asam, ph yang tinggi ini bisa menyebabkan korosi pada logam tertentu. Padahal beberapa fasilitas dan infrastruktur di Jogjakarta tentu banyak yang menggunakan bahan logam.

(3)      Menggiatkan promosi dan merubah image dari bencana ke adventure

Pariwisata adalah kegiatan ekonomi yang cukup unik. Image bencana dan kesusahan justru dapat menarik wisatawan untuk datang. Di belahan dunia yang lain daerah daerah bekas bencana dan tragedi justru menjadi kawasan wisata yang sangat ramai di kunjungi wisatawan. Misalnya; di gereja tempat pembantaian di Culloden Scotland, Bran Castle dan Poinari Castle di Romania, Hiroshima Peace Memorial Park di Jepang, Ground Zero di New York, Monument Gempa bumi di Kobe Jepang, dan sebagainya.

Mengubah image menakutkan menjadi sebuah petualangan diperlukan untuk menarik wisatawan. Hal ini bisa dilakukan untuk kasus Yogyakarta. Hanya saja pemerintah dan penggerak pariwisata harus mampu membalik image ini menjadi image positif. Wisatawan perlu diberikan pengetahuan tentang karakteristik wilayah kepualauan Indonesia yang sangat eksotis dan unik di dunia. Sedikit penjelasan tentang geologis Indonesia akan menarik bagi wisatawan. Apalagi kemudian dihubungkan dengan kejadian erupsi Merapi tahun 2010 dan erupsi Kelud. Pemerintah dapat kemudian membuat brosur yang handy untuk di berikan wisatawan di entry gate misalnya di bandara maupun di stasiun. Brosur tersebut berisi tentang karakter Yogyakarta, sebentuk list do dan don’t do bagi wisatawan. Brosur juga harus dilengkapi dengan kontak person yang jelas kepada siapa wisatawan dapat menghubungi jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada situasi bencana. Hal hal tersebut harus dilaksanakan secara sinergi antara dinas pariwisata, kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah, dan juga penyedia jasa transportasi.

 

(4)      Mengoptimalkan fungsi TIC untuk penanganan bencana bagi wisatawan

Aksi yang disarankan pada poin ke tiga tidak ada artinya apabila tidak ada stakeholder khusus yang menangani wisatawan di saat bencana. Abu kelud hanyalah satu dari berbagai bencana yang mungkin terjadi di Jogjakarta maupun di Indonesia. Tourism Information Center (TIC) semestinya mengoptimalkan fungsinya sebagai penyedia informasi yang tidak hanya informasi tentang obyek wisata namun juga informasi tentang kemungkinan bencana dan bagaimana harus mengantisipasi dari bencana apabila terjadi. Wisatawan adalah lapisan masyarakat yang juga perlu untuk diperhatikan, justru mereka adalah elemen yang rentan ketika terjadi bencana karena mereka tidak memahami medan dan biasanya menimbulkan kebingungan dan ketakutan yang lebih tinggi dari warga lokal. Oleh sebab itu, program TIC perlu di tambahkan yaitu menyediakan informasi bagi wisatawan, misalnya informasi tentang rute evakuasi, tempat tempat pengungsian yang bisa digunakan untuk berlindung, dan kontak kepolisian atau instansi terkait yang melindungi wisatawan.

Jumlah bencana yang terjadi di dunia ini tercatat semakin meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia sebagai negara besar yang memiliki ribuan pulau selalu mengundang wisatawan untuk datang, sudah sepantasnya untuk menyiapkan sarana dan prasarana penunjang pariwisata yang aman dan nyaman. Aman dalam hal ini adalah aman juga dari resiko bencana yang mungkin terjadi. Hal ini dapat terlaksana dengan baik apabila masing masing dari instansi pemerintah dapat saling berkoordinasi dan bekerjasama, kemudian menguatkan jaringan dengan pihak swasta penyedia jasa pariwisata dan juga masyarakat luas.

Diterbitkan di : www.kabarindonesia.com

* Director Indonesia Tourism Watch (ITW)

* Director Center for Indonesian Excellence 

Peneliti Center for Tourism Studies UGM


[1] Sumber: http://regional.kompas.com/, di salin tanggal 27 Februari 2014

[4] Sumber: tribunews.com, di unduh tanggal 26 Februari 2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s